Tulis Dan Jelaskan Objek-objek Meditasi Pandangan Terang

Denotasi, Kepentingan dan Mandu Melaksanakan Bhavana

1. PENGERTIAN BHAVANA

Bhavana berguna pengembangan, adalah pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya akrab setinggi dengan bhavana adalah samadhi. Samadhi berarti sentralisasi pikiran puas suatu obyek.

Samadhi yang moralistis (samma samadhi) adalah konsentrasi pikiran plong obyek yang boleh menghilangkan kekotoran batin tatkala manah bersatu dengan tulang beragangan-rancangan karma yang baik, sementara itu samadhi nan keseleo (miccha samadhi) adalah pemusatan perasaan plong obyek yang boleh menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran beraduk dengan bentuk-rangka karma nan enggak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yang dimaksud adalah “Samadhi yang bermartabat”.


2. FAEDAH BHAVANA

Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi individu buat orang yang melaksanakannya. Kebaikan-kemustajaban nan timbul privat roh sehari-perian dari praktek meditasi itu ialah :

  1. Bagi orang yang sayang sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan diri berpokok kemelut dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan.

  2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong beliau bikin menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketahanan nan bersifat tentatif maupun yang berkepribadian permanen (tetap).

  3. Untuk orang yang memiliki banyak keburukan atau permasalahan nan enggak putus-putusnya, meditasi akan menolong dia kerjakan menimbulkan ketahanan dan keberanian serta meluaskan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

  4. Bagi turunan yang tekor berketentuan diri sendiri, perenungan akan menolong dia kerjakan mendapatkan keparcayaan kepada diri seorang yag dulu dibutuhkannya itu.

  5. Bagi orang nan mempunyai rasa mengirik dalam lever atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia buat mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sepatutnya ada berusul hal-situasi yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan bisa mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya.

  6. Bagi orang yang selalu merasa tak puas terhadap apa sesuatu kerumahtanggaan lingkungannya maupun dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan kronologi yang memfokus pada kepuasan batin.

  7. Bagi makhluk yang pikirannya medium kacau dan berputus sangkil karena kurangnya konotasi akan sifat roh dan situasi dunia ini, meditasi akan menolong engkau utnuk memberikan signifikansi padanya bahwa pikirannya itu kacau bikin hal-situasi nan tidak terserah gunanya.

  8. Bagi orang nan syak dan tidak begitu terbujuk kepada agama, meditasi akan menolong beliau lakukan mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk mematamatai segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam arahan agama.

  9. Bagi seorang pelajar ataupun mahasiswa, permenungan akan menolong dia kerjakan menimbulkan dan menyaringkan ingatannya serta untuk belajar makin seksama dan makin efisien.

  10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia bikin dapat melihat sifat dan kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut lakukan kebahagiaan dirinya koteng dan kebahagiaan orang lain.

  11. Bagi khalayak miskin, meditasi akan menolong dia bikin memiliki rasa lega dan ketegaran serta lain melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain nan bertambah mampu daripadanya.

  12. Untuk seorang jejaka nan sedang fertil internal persimpangan perkembangan terbit spirit ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong engkau bagi mendapatkan denotasi dalam menuntut ganti rugi salah satu urut-urutan nan akan mengapalkan ke tujuannya.

  13. Bagi insan nan telah lanjut usia yang mutakadim bosan dengan spirit ini, meditasi akan menolong sira ke privat signifikasi yang lebih mendalam akan halnya kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya.

  14. Untuk orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kehausan lakukan mengatasi kelemahan-kelemahannya.

  15. Bagi orang yang bersifat keki hati, perenungan akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya aturan keki hati itu.

  16. Untuk orang yang diperbudak oleh panca inderanya, khalwat akan menolong beliau bakal belajar mengamankan nafsu-nafsu dan keinginannya itu.

  17. Bagi hamba allah nan telah ketagihan minuman keras nan memabukkan, meditasi akan menolong sira cak bagi mencatat dirinya dan mengawasi cara mengatasi kebiasaan nan berbahaya itu nan telah mengeksploitasi dan mengeluh dirinya.

  18. Kerjakan orang yang tidak terpelajar atau bodoh, nyepi akan memberikan ia kesempatan bagi mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-mualamat yang sangat berguna lakukan kesejahteraan diri sendiri dan bikin keluarga serta handai taulannya.

  19. Bakal orang yang sungguh-betapa melakukan les meditasi nan benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan kerjakan memperbodohi dirinya lagi.

  20. Kerjakan orang yang bijaksana, tafakur akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih pangkat dan pencapaian penerangan kamil; dia akan boleh melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terjerumus lagi ke dalam permasalahan-persoalan yang remeh.

  21. Lebih jauh, internal agama Buddha, meditasi yang etis itu dipergunakan untuk mengkhususkan diri berusul barang apa penderitaan, lakukan mencapai Nibbana.

Demikianlah bilang faedah praktis yang bisa dihasilkan mulai sejak tutorial meditasi.
Kepentingan-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam perhatian sendiri.

3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA

Orang yang plonco belajar nyepi sebaiknya mencari tempat yang cocok bagi mengamalkan meditasi. Tempat itu adalah tempat nan senyap dan antap, bebas dari gangguan sosok-orang di sekitarnya, bebas mulai sejak batu nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya individu belajar di tempat yang sama, jangan pindah-mengimbit tempat. Jika meditasinya mutakadim maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai.

Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya perian yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pemukul 04.00 sampai martil 07.00 dan lilin lebah musim antara pengetuk 17.00 sampai pukul 22.00. Jika tahun bikin bermeditasi telah ditentukan, maka musim tersebut mudah-mudahan digunakan individual cak bagi bermeditasi. Perenungan kiranya dilakukan setiap masa dengan waktu yang sama secara terkonsolidasi atau kontinyu. Bila meditasinya sudah maju, maka dapat dilakukan bilamana saja, plong setiap hari.

Individu objektif mengidas posisi meditasi. Biasanya posisi permenungan yang baik adalah duduk bersila di lantai nan beralas, dengan mengedrop kaki kanan di atas kaki kidal, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Ataupun boleh juga dalam posisi setengah sila, dengan suku dilipat ke samping. Bahkan kalau bukan memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di takhta. Yang utama adalah bahwa badan dan pembesar harus ngeri, doang bukan kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan berpedoman. Mulut dan alat penglihatan harus tertutup. Selama meditasi berlanjut sepatutnya diusahakan untuk tak memprakarsai anggota awak, jika tak perlu. Namun bila badan bodi merasa lain enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan badan atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, keadaan ini harus dilakukan sedikit demi, disertai dengan penuh ingatan dan kesadaran. Jika meditasinya telah modern, maka dapat dilakukan dalam berbagai posisi, baik ngeri, berjalan, atau berbaring.

Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman tentang meditasi, agar dapat dicapai sukses privat bermeditasi.

Plong ketika hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Seterusnya, laksanakanlah nyepi dengan tekun. Manah dipusatkan lega obyek nan mutakadim dipilih. Plong tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari mulai sejak obyek. Hal ini biasa, karena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bersirkulasi. Namun, sepatutnya orang yang bermeditasi rajin siuman dan siap siaga terhadap ingatan. Bila pikiran itu lari dari obyek, ia sadar bahwa perhatian itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek tadinya. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka keberuntungan dalam meditasi tentu akan diperoleh.

Pendistribusian Bhavana

Bhavana dapat dibagi menjadi dua varietas, yaitu :

  1. Samatha Bhavana, signifikan peluasan ketenangan batin.
  2. Vipassana Bhavana, penting pengembangan pandangan terang.

Diantara kedua keberagaman bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup:

  1. Tujuannya
    Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan bagi menjejak ketenangan. Internal Samatha Bhavana, batin terutama pikiran tergabung dan melekat pada satu obyek. Jadi manah lain berlampar ke segala penjuru, pikiran tak berkeliaran kesana kemari, ingatan enggak mengkhayalkan dan mengembara sonder tujuan.Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, kendala-rintangan batin tak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Makara kekotoran batin belaka dapat diendapkan, sebagaimana batu besar yang menekan jukut hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samatha Bhavana semata-mata bisa mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhana, dan mencapai berbagai arti batin.Sesungguhnya manah yang tenang bukanlah tujuan terakhir mulai sejak meditasi. Toleransi manah hanyalah salah satu keadaan nan diperlukan kerjakan mengembangkan pandangan terang alias Vipassana Bhavana.Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan bikin hingga ke pandangan pendar. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin bisa disadari dan kemudian dibasmi hingga keakar-akarnya, sehingga anak adam yang mengerjakan Vipassana Bhavana bisa melihat spirit dan vitalitas ini dengan sewajarnya, bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan), dukkha (berpenyakitan), dan anatta (tanpa aku nan kekal). Dengan demikian, Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin, pembebasan teladan, pencapaian Nibbana.Sesungguhnya “dalam kitab nirmala telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita boleh menyucikan diri kita, dan lain dengan perkembangan lain”.
  2. Obyeknya
    Obyek yang dipakai privat Samatha Bhavana cak semau 40 macam. Obyek-obyek itu merupakan sepuluh kasina, sepuluh asubha, sepuluh anussati, catur appamañña, suatu aharapatikulasañña, satu catudhatuvavatthana, dan empat arupa. Sebaliknya, obyek nan dipakai intern Vipassana Bhavana adalah keunggulan dan rupa (batin dan materi), atau empat satipatthana.

  3. Penghalangnya
    Privat melaksanakan Samatha Bhavana, pada umumnya makhluk yang bermeditasi besar perut membujur gangguan atau halangan atau rintangan, yaitu panca nivarana dan sepuluh palibodha. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, terdapat juga rintangan-kendala nan dapat hadang perkembangan rukyat terang, nan disebut sepuluh vipassanupakilesa.

Samatha Bhavana

1. EMPAT Puluh MACAM OBYEK MEDITASI

Dalam Samatha Bhavana ada 40 variasi obyek semadi. Obyek-obyek meditasi ini bisa dipilih salah satu yang semoga semupakat dengan sifat alias pribadi seseorang. Seleksi ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Pemilahan moga dilakukan dengan bantuan seorang suhu.

Keempat puluh macam obyek perenungan itu adalah :

  1. Deka- kasina (sepuluh wujud benda), yaitu :
    1. Pathavi kasina = wujud tanah
    2. Apo kasina = wujud air
    3. Teja kasina = wujud api
    4. Vayo kasina = wujud gegana atau angin
    5. Nila kasina = wujud warna biru
    6. Lin kasina = wujud warna asfar
    7. Lohita kasina = wujud dandan merah
    8. Odata kasina = wujud dandan asli
    9. Aloka kasina = wujud sinar
    10. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas
  2. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran), adalah :
    1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
    2. Vinilaka = wujud jenazah yang berwarna kebiru-biruan
    3. Vipubbaka = wujud mayit nan bernanah
    4. Vicchiddaka = wujud mayat nan sompek di tengahnya
    5. Vikkahayitaka = wujud bangkai yang digerogoti hewan-binatang
    6. Vikkhittaka = wujud mayat yang sudah hancur mengabu
    7. Hatavikkhittaka = wujud buntang yang busuk dan peroi
    8. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
    9. Puluvaka = wujud buntang yang dikerubungi belatung
    10. Atthika = wujud tengkorak
  3. Sepuluh anussati (sepuluh jenis tafakur), yakni :
    1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
    2. Dhammanussati = semadi terhadap Dhamma
    3. Sanghanussati = tafakur terhadap Sangha
    4. Silanussati = perenungan terhadap sila
    5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
    6. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung ataupun para dewa
    7. Marananussati = perenungan terhadap kematian
    8. Kayagatasati = permenungan terhadap badan jasmani
    9. Anapanasati = permenungan terhadap pernapasan
    10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana alias Nirwana
  4. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak sedikit), yaitu :
    1. Metta = kerap kasih yang menyeluruh, tanpa pamrih
    2. Karuna = magfirah
    3. Mudita = manah simpati
    4. Upekkha = kesamarataan batin
  5. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)
  6. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan tubuh)
  7. Empat arupa (catur khalwat tanpa materi), yaitu :
    1. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek rubrik yang sudah lalu keluar dari kasina
    2. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang minus sempadan
    3. Natthibhavapaññati = obyek frustasi
    4. Akincaññayatana-citta = obyek lain pencerapan pun tidak tidak pencerapan

Berikut penjelasan lebih mendetil akan halnya masing-masing obyek khalwat diatas :

  1. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda)
    Dalam kasina tanah, dapat dipakai kebun nan baru dicangkul atau segumpal lahan nan dibulatkan. Dalam kasina air, dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam timba. Internal kasina jago merah, boleh dipakai api nan menunukan yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Privat kasina kilangangin kincir, dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. Dalam kasina warna, dapat dipakai benda-benda seperti mana bulatan mulai sejak kertas, cemping, papan, atau bunga yang berwarna biru, kuning, merah, atau kudus. Kerumahtanggaan kasina kurat, dapat dipakai cerah syamsu atau bulan nan memantul di dinding alias di lantai menerobos ventilasi dan enggak-tak. Intern kasina ruangan invalid, dapat dipakai kolom kosong yang memiliki batas-batas disekelilingnya seperti lurah dan lain-lain.Disini, mula-mula makhluk harus memusatkan seluruh perhatiannya puas bulatan yang berwarna biru misalnya. Selanjutnya, dengan memandang terus puas bulatan itu, orang harus berjuang sebaiknya pikirannya tunak berjaga-jaga, waspada, dan sadar. Sementara itu, benda-benda di sekitar bulatan tersebut seolah-olah lenyap, dan bulatan tersebut kelihatan menjadi bertambah semu dan akhirnya bagaikan paparan pikiran saja. Waktu ini, walaupun mata dibuka alias ditutup, orang masih mengawasi bulatan dramatis itu di dalam pikirannya, yang bertambah lama kian terang seperti mana bulatan dari rembulan.
  2. Dasa asubha (sepuluh wujud kekotoran)
    Dalam sepuluh asubha ini, orang mengintai atau mengumpamakan sesosok tubuh yang sudah lalu menjadi jenazah diturunkan ke n domestik lubang kuburan, membengkak, membiru, bernanah, somplak di tengahnya, dikoyak-koyak oleh pelir burung dandang atau serigala, mengabu dan memburuk, berlumuran darah, dikerubungi oleh lalat dan belatung, dan jadinya merupakan tengkorak. Selanjutnya, dia menggandeng kesimpulan terhadap badannya sendiri, “Badanku ini juga n kepunyaan kebiasaan-sifat itu andai kodratnya, tak dapat dihindari”. Disinilah seyogiannya orang memegang dengan teguh di kerumahtanggaan pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul, seperti gambar pikiran mengenai mayit yang membengkak dan lain-tidak.
  3. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan)
    Kerumahtanggaan Buddhanussati, direnungkan sembilan rasam Buddha. Kesembilan resan Buddha tersebut adalah maha suci, telah menjejak penyorotan komplet, teladan pengetahuan dan tingkah lakunya, paradigma menempuh kronologi ke Nibbana, pengenal semua alam, pengajar cucu adam yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang bangun, nan patut dimuliakan.Dalam Dhammanussati, direnungkan enam kebiasaan Dhamma. Keenam aturan Dhamma itu merupakan telah sempurna dibabarkan, berwujud di kerumahtanggaan roh, lain lapuk oleh waktu, mengundang buat dibuktikan, menuntun ke privat batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin per.Dalam Sanghanussati, direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. Kesembilan rasam Ariya-Sangha itu adalah mutakadim bertindak dengan baik, telah bertindak lurus, telah dolan bersusila, telah main-main patut, patut mengakui upeti, patut menerima tempat bernaung, cukup mengakui bingkisan, pas mengakui penghormatan, alun-alun untuk memakamkan jasa yang tiada taranya di alam seberinda.Intern silanussati, direnungkan sila nan sudah dilaksanakan, yang lain potol, yang tak ternoda, yang dipuji oleh para bijaksana, dan menuju pemusatan ingatan.N domestik caganussati, direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan, yang menyebabkan musnahnya kekikiran.N domestik devatanussati, direnungkan basyar-makhluk agung alias para dewa nan berbahagia, nan medium menikmati hasil dari polah baik nan sudah lalu dilakukannya.Dalam marananussati, orang harus ki memenungkan bahwa pada satu hari, kematian akan nomplok menyongsongku dan makhluk lainnya; bahwa jasmani ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat, kutu, ulat mago, dan sato lainnya yang semangat dengan ini; bahwa tidak ada seorang pun nan mengetahui kapan, di mana, dan melalui apa cucu adam akan meninggal, serta keadaan nan bagaimana menungguku setelah kematian.

    Dalam kayagatasati, orang merenungkan 32 bagian anggota fisik, dari telapak kaki ke atas dan berpangkal puncak kepala ke sumber akar, nan diselubungi kulit dan penuh kekotoran; bahwa di privat badan ini terletak bulu kepala, bulu jasad, kuku, transmisi, jangat, daging, urat, tulang, sumsum, kerinjal, jantung, hati, gelimir dada, kambar, paru-paru, tali perut, saluran usus, perut, pungkur, empedu, lendir, nanah, bakat, peluh, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air seni, dan otak.

    Dalam anapanasati, hamba allah merefleksikan keluar masuknya napas. Dengan siuman ia menarik napas, dengan sadar ia mengeluarkan berasimilasi.

    Privat upasamanussati, individu merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas bermula kekotoran batin, hancurnya keinginan, putusnya lingkaran tumimbal lahir.

  4. Empat appamañña (empat keadaan nan tidak terbatas)
    Catur appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). Internal melaksanakan metta-bhavana, seseorang harus menginjak berpunca dirinya sendiri, karena ia lain barangkali dapat memancarkan cinta hadiah masif bila ia membenci dan meremehkan dirinya seorang. Sehabis itu, cinta rahmat dipancarkan kepada ayah bunda, guru-master, teman-tampin laki-laki dan wanita berbarengan.Jadinya, nan tersulit adalah menyorotkan burung laut hidayah kepada musuh-musuhnya. N domestik peristiwa ini kali ketimbul pikiran keirian maupun guncangan lever. Cuma, hendaknya diusahakan untuk mengamankan perseteruan itu dengan menimang sifat-resan yang baik berbunga musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Teristiadat diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan burung laut kasih.Kerumahtanggaan karuna-bhavana, manusia menyerikan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan, diliputi kemasygulan, kesengsaraan, dan penderitaan.Dalam mudita-bhavana, orang menyinarkan perasaan timbang rasa kepada orang yang madya bersuka-cita; kamu timbrung berbahagia melihat kesenangan makhluk bukan.Dalam upekkha-bhavana, basyar akan patuh nyenyat menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan, untung dan rugi.
  5. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap kandungan yang menjijikkan)
    Dalam satu aharapatikulasañña, direnungkan bahwa ki gua garba adalah barang nan menjijikkan bila telah ki berjebah di dalam perut; direnungkan bahwa apapun nan telah dimakan, diminum, dikunyah, dicicipi, semuanya akan berjauhan ibarat kotoran (tinja) dan air seni (air kencing).
  6. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan tubuh)
    Dalam satu catudhatuvavatthana, direnungkan bahwa di internal badan jasmani terdapat catur unsur materi, yaitu :

    1. Pathavi-dhatu (unsur petak atau unsur padat), ialah segala sesuatu yang berkarakter keras atau padat. Umpamanya : bulu penasihat, bulu badan, kuku, persneling, dan lain-tidak.
    2. Apo-dhatu (partikel air atau unsur cair), ialah apa sesuatu yang berwatak berbimbing yang suatu dengan nan bukan atau melekat. Umpamanya : empedu, dahak, rebuk, darah, dan enggak-lain.
    3. Tejo-dhatu (elemen api atau unsur erotis), yakni segala sesuatu nan berwatak panas dingin. Umpamanya : selepas radu makan dan mereguk, atau bila madya remai, raga akan terasa erotis dingin.
    4. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak), ialah barang apa sesuatu nan bersifat bergerak. Umpamanya : kilangangin kincir yang suka-suka di n domestik kas dapur dan perut muda, angin yang lalu-lalang waktu bernapas, dan tidak-lain.
  7. Catur arupa (empat perenungan tanpa materi)
    Dalam kasinugaghatimakasapaññati, batin nan sudah memperoleh cerminan kasina dikembangkan ke internal khalwat ruangan nan tanpa batas sambil memisalkan, “Ruangan! Ruangan! Tak terbatas kolom ini!” dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. Bintang sartan, pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa takat, dipusatkan di dalamnya, dan menembus tanpa perenggan.Dalam akasanancayatana-citta, ruangan nan tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil mempertimbangkan, “Tak terbataslah kesadaran itu”. Ia harus berulang-ulang menimang-nimang penembusan rubrik itu dengan sadar, mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut.Dalam natthibhavapaññati, orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan maupun kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tanpa batas itu. Anda terus menerus merefleksikan, “Lain cak semau segala-apa di sana! Kosonglah adanya ini”.Dalam akincaññayatana-citta, orang menimang-nimang peristiwa kekosongan sebagai kesabaran atau kesejahteraan, dan sesudah itu dia mengembangkan pencapaian dari sisa elemen-anasir batin yang penghabisan, yakni perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan pemahaman sampai tenggat kelenyapannya. Jadi, sehabis frustasi itu dicapai, maka pemahaman mengenai kekesalan itu dilepas, seolah-olah enggak ada pencerapan pun
Popular:   Gerakan Yoga Yang Menitikberatkan Pada Teknik Meditasi Dan Konsentrasi Adalah

2. LIMA Diversifikasi NIVARANA DAN Sepuluh Varietas PALIBODHA



Lima macam nivarana


Nivarana berjasa rintangan atau pengempang batin nan selalu menghambat perkembangan perhatian. Nivarana ini cak semau lima jenis, adalah:

  1. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan)
  2. Byapada (keinginan kejam)
  3. Thina-middha (kemalasan dan kepayahan)
  4. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kepanikan)
  5. Vicikiccha (keragu-raguan)

Buat menundukkan kelima rintangan tersebut, turunan harus mengerti sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usaha-usaha yang dapat melenyapkan nivarana itu.

Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang membidas obyek yang indah, sonder disertai kebijaksanaan. Kerjakan menyingkirkan diri dari nafsu keinginan, seharusnya hamba allah senantiasa melaksanakan nyepi dengan mempekerjakan obyek yang kotor maupun menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa menggiurkan, berusaha bikin menguasai perasaan dan menyelesaikan indriya-indriyanya, senantiasa bersabda tentang keutuhan hidup, mengenai kepuasan, kesunyian, amal, kebebasan, bebas dari nafsu-nafsu.

Kerinduan jahat (byapada) akan ketimbul apabila orang tautologis-ulang mencerca obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian, tanpa disertai kebijaksanaan. Bagi menaklukkan kemauan jahat mudah-mudahan individu senantiasa melaksanakan meditasi cinta anugerah, senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri.

Kewegahan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila basyar berulang-ulang memperhatikan rasa segan, rasa malas, kepenatan, mencium sesudah bersantap, tanpa disertai kebijaksanaan. Kerjakan membebaskan diri bermula kemalasan dan kepayahan, khalayak mudahmudahan senantiasa merenungkan suatu cahaya setakat terserap ke dalam batin, senantiasa mengintai siksaan di dalam ketidak-kekalan, senantiasa mempertimbangkan tajali-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya internal hidup sehari-hari.

Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang membidas ketidak-tenteraman ingatan, tanpa disertai kebijaksanaan. Bakal mengendalikan kegelisahan dan kekhawatiran, bani adam agar senantiasa mempelajari dan mengerti kitab suci Tripitaka, serta berusaha melaksanakan sila dengan arketipe.

Keragu-raguan (vicikiccha) akan kulur apabila insan berulang-ulang memperhatikan sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan, tanpa disertai kebijaksanaan. Untuk membebaskan diri berbunga keragu-raguan, orang moga senantiasa meneguhkan keagamaan sreg Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Deka- variasi palibodha

Palibodha berarti bencana kerumahtanggaan meditasi nan menyebabkan batin gelisah dan tidak mampu memusatkan pikiran plong obyek. Palibodha ini terserah sepuluh macam, yaitu :

  1. Avasa (palagan tinggal)
  2. Kula (pembantu dan bani adam nan bertanggung jawab)
  3. Labha (keuntungan)
  4. Khasanah (murid dan dagi)
  5. Kamma (pekerjaan)
  6. Addhana (pengembaraan)
  7. Ñati (orangtua, keluarga, dan saudara)
  8. Abadha (penyakit)
  9. Gantha (les)
  10. Iddhi (arti menguap)

Kerumahtanggaan melaksanakan perenungan, pada umumnya orang yang bermeditasi sering lagi mendapat provokasi yang disebut palibodha. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya, terpukau dengan rumahnya. Engkau merasa pening akan pembantunya dan orang nan berkewajiban atas harta bendanya. Ia merasa khawatir akan persoalannya, apakah permenungan ini akan membawa keuntungan baginya. Ia merasa khawatir akan pelajar-petatar dan tara-temannya. Ia merasa gelisah akan pekerjaannya yang belum selesai. Ia merasa lopak-lapik akan pengelanaan jauh yang harus ditempuhnya. Ia merasa khawatir akan sosok tuanya, keluarganya, dan plasenta-saudaranya. Beliau merasa lopak-lapik akan kemungkinan timbulnya kelainan. Ia merasa keruh akan pelajaran yang ditinggalkannya. Ia merasa histeris akan bermacam-macam kemustajaban magis yang dipertunjukkan, redup akan kemerosotan kekuatan magisnya.

Palibodha ini harus dibasmi, hendaknya orang dapat memusatkan pikiran dengan baik.

3. ENAM MACAM CARITA



Carita penting sifat, perangai, atau perilaku.


Di dalam Abhidhamma, terdapat pembagian kebiasaan-sifat secara umum yang beralaskan atas situasi batin basyar, yakni hamba allah itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-kebiasaan yang dimilikinya:

  1. Orang nan keras nafsu lobanya atau Ragacarita
  2. Anak adam yang keras kebenciannya atau Dosacarita
  3. Orang yang bodoh (dungu) alias Mohacarita
  4. Individu yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita
  5. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita
  6. Individu nan senang melamun ataupun Vitakkacarita

Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba, menumpu ke arah keindahan dan kecantikan, kagum mematamatai satu kebajikan walaupun itu kecil sekali, mudah melupakan kesalahan orang enggak, cerdik, sombong, berambisi besar, menegaskan diri sendiri. Cak bagi mereka yang memiliki ragacarita, maka obyek yang baik diambil n domestik melaksanakan Samatha Bhavana yaitu sepuluh asubha dan satu kayagatasati.

Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berlandaskan keirian, cenderung ke arah merangsang hati, senang marah, suka jengkel, suka cemburu lever, tak senang mengintai kesalahan meskipun kecil, tak mau adv pernah terhadap kebajikan sosok lain sungguhpun besar, demen bermusuhan, memandang abnormal orang lain, suka memerintah dan mendikte orang lain. Untuk mereka nan mempunyai dosacarita, maka obyek yang baik diambil internal melaksanakan Samatha Bhavana ialah catur appamañña dan empat kasina (nila kasina, pita kasina, lohita kasina, dan odata kasina).

Hamba allah yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kegoblokan batin, cenderung ke jihat kelemahan batin, suka bingung, gemar ragu-ragu, suka kacau, menggantungkan diri pada pendapat khalayak lain, perhatian ruwet, malas, pendiriannya tidak tetap, sama sekali konstan memegang suatu rukyat. Untuk mereka yang memiliki mohacarita, maka obyek nan baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati.

Makhluk nan mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan, membidik ke arah rendah lever, dermawan, jujur, doyan merodong sosok-basyar asli, suka mendengarkan Dhamma, yakin lega sesuatu yang dianggap baik. Kerjakan mereka nan mempunyai saddhacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, silanussati, caganussati, dan devatanussati).

Sosok nan mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati, condong ke sisi semadi terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana), comar bermeditasi, bersedia mendengarkan omongan orang lain, memiliki kawan-kawan yang baik. Kerjakan mereka nan punya buddhicarita maupun ñanacarita, maka obyek yang baik diambil intern melaksanakan Samatha Bhavana yakni marananussati, upasamanussati, aharapatikulasañña, dan catudhatuvavatthana.

Khalayak yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-gesa, cenderung ke jihat kegugupan, kegagalan dalam propaganda, gemar berteori, pikirannya sering gelayaran, lain senang bekerja bakal kepentingan sosial. Untuk mereka nan mempunyai vitakkacarita, maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati.

Penjelasan:
Pathavi kasina, apo kasina, tejo kasina, vayo kasina, aloka kasina, akasa kasina, dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya.

4. TIGA Varietas NIMITTA

Nimitta berarti suatu pertanda ataupun bayangan yang terserah hubungannya dengan urut-urutan obyek nyepi. Nimitta ini cak semau tiga macam, yaitu :

  1. Parikamma-Nimitta (cerminan batin mula-mula)
  2. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai)
  3. Patibhaga-Nimitta (paparan batin bentrok)

Akan halnya parikamma-nimitta, bayangan suatu obyek yang diambil dalam nyepi, seperti arca Buddha, mula-mula dilihat dengan mata, kemudian dibayangkan dalam manah. Jadi, parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek kerumahtanggaan hal yang sepatutnya ada. Semua obyek (empat puluh macam obyek khalwat) bisa menghasilkan parikamma-nimitta.

Tentang uggaha-nimitta, gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi dilihat dengan batin, hingga obyek itu tertuju dalam pikiran. Bintang sartan, uggaha-nimitta yaitu gambaran obyek di kerumahtanggaan batin yang sama dengan gambar obyek yang dipakai, biarpun indra penglihatan telah dipejamkan. Bagi sampai ke uggaha-nimitta, semua obyek meditasi dapat dipakai kerumahtanggaan melaksanakan Samatha Bhavana, adalah keempat puluh obyek meditasi nan tersebut terdahulu.

Tentang patibhaga-nimitta, gambaran suatu obyek nan diambil dalam meditasi yang mutakadim terpatok plong ingatan, terpeta dengan nyata, tetap, jernih, jelas, terbebas dari gangguan, dan gambaran obyek tersebut bisa dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. Jadi, patibhaga-nimitta merupakan bayangan pantulan dari obyek yang dipakai, nan lembaga gambaran itu berubah menjadi kirana terang di kerumahtanggaan batinnya. Untuk sampai ke patibhaga-nimitta, maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana adalah sepuluh kasina, sepuluh asubha, suatu kayagatasati, dan satu anapanasati.

5. TIGA MACAM BHAVANA

N domestik meditasi, terdapat tiga spesies tingkat perkembangan batin, yaitu :

  1. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan)
  2. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi)
  3. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat)

Intern parikamma-bhavana, perasaan baru akan dipusatkan pada obyek. Semua obyek (catur desimal jenis obyek nyepi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana.

Kerumahtanggaan upacara-bhavana, pikiran sudah lalu siap untuk memasuki pemusatannya, dan berangkat timbulnya patibhaga-nimitta. Internal keadaan ini, nivarana sudah lalu dapat diatasi. Belaka konsentrasi perhatian masih belum mantap. Peristiwa ini dapat disamakan dengan momongan boncel yang baru belajar menggermang, belaka masih belum mantap, sering jebluk, tetapi ia terus berusaha. Bakal mengaras seremoni-bhavana, obyek nan harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah okta- anussati (Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, silanussati, caganussati, devatanussati, marananussati, upasamanussati), satu aharapatikulasanna, dan satu catudhatuvavatthana.

Dalam appana-bhavana, pikiran sudah dapat dulu diam dalam paser tahun yang lama, menurut yang dikehendakinya, karena pemusatan yang munjung dan mantap sudah lalu tergapai. Keadaan ini dapat diumpamakan misal turunan nan telah dewasa nan telah bisa berdiri dengan awet, enggak runtuh-jatuh pun. Di samping nivarana telah dapat diatasi, maka faktor-faktor jhana juga tiba timbul berperanan (vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata). Obyek-obyek nan bisa dipakai bikin mencecah appana-bhavana yakni sepuluh kasina, deka- asubha, satu kayagatasati, satu anapanasati, catur appamañña, dan catur arupa.

6. Konotasi JHANA

Jhana berguna kesadaran/pikiran yang memfokus dan tertuju kuat pada obyek kammatthana/meditasi, yaitu kesadaran/ingatan terpusat pada obyek dengan kelebihan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap, yaitu kesadaran/perhatian terpumpun plong obyek yang kuat).

Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. Keadaan ini doang dapat dicapai dengan operasi yang tahan banting dan tekun. Privat keadaan ini, aktivitas panca indera nangkring, lain muncul kesan-kesan rukyat atau pendengaran, pun tak unjuk ingatan fisik raga. Walaupun kesan-kesan bersumber luar telah nangkring, batin masih tetap aktif dan tanggang secara sempurna serta siuman sepenuhnya.

Jhana sekadar mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin buat tentatif waktu. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. Adakalanya jhana dapat jatuh, karena jhana lain kekal.

7. FAKTOR-FAKTOR JHANA

Di intern memasuki jhana-jhana, timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam, merupakan :

  1. Vitakka, yaitu penopang pikiran yang ialah perenungan permulaan bikin menjabat obyek.
  2. Vicara, ialah gema pikiran, situasi pikiran n domestik menyambut obyek dengan lestari.
  3. Piti, ialah kegiuran ataupun kenikmatan.
  4. Sukha, adalah kebahagiaan nan tak terhargai.
  5. Ekaggata, ialah sentralisasi pikiran yang kuat.
Popular:   Gerakan Yoga Yang Menitikberatkan Pada Teknik Meditasi Dan

Vitakka dan vicara adalah dua kejadian bersumber suatu proses yang terus-menerus. Kedua hal ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. Pada waktu lonceng dipukul sekali, maka akan terjadi bunyi yang membahana. Obstulen bel bilamana kejangkitan mentrum merupakan vitakka, sedangkan gema semenjak bunyi lonceng itu yaitu vicara. Demikian juga momen bermeditasi. Suasana pikiran kapan permulaan menjawat obyek disebut vitakka, sedangkan suasana perhatian yang telah bertelur menjabat obyek dengan awet disebut vicara.

Mengenai piti, sepantasnya secara terperinci terdapat panca macam. Belaka, kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan.

Antara piti dan sukha terdapat lagi perbedaan perhatian nan tersendiri seperti berikut. Apabila seseorang yang medium n domestik satu avontur merasa lewat haus, dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air, maka ia akan merasa gembira, senang, dan tergiur melihatnya. Perasaan ini merupakan piti, karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan berusul tekanan perasaan. Selanjutnya, sehabis beliau meminum air itu, maka perhatian berobah menjadi nikmat dan segak. Perasaan ini adalah sukha.

Dalam ekaggata, pikiran mutakadim terpumpun sreg obyek dengan abadi, sehingga kekotoran batin tidak kreatif mengganggu lagi.

Vikkhambhana-Pahana adalah penghancuran nivarana dengan kekuatan jhana, yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. Selama jhana masih ada, sepanjang itu lagi nivarana tidak ketimbul. Sekadar, bila jhana merosot, maka nivarana akan timbul pun.

Jhana merupakan gawai pemusnah nivarana, yaitu vitakka memberantas thina-middha, vicara membasmi vicikiccha, piti membasmi byapada, sukha membinasakan uddhacca-kukkucca, dan ekaggata membasmi kamachanda.

8. TINGKAT-TINGKAT JHANA

Menurut Sutta Pitaka, terdapat delapan tingkat jhana, yaitu catur rupa jhana dan catur arupa jhana, sedangkan menurut Abhidhamma, terdapat sembilan tingkat jhana, yaitu lima rupa jhana dan empat arupa jhana. Dalam Abhidhamma, janjang rupa jhana cak semau lima, karena situasi ini disesuaikan menurut keadaan, menurut fragmen, dan besaran kognisi yang bernas intern rupavacara-citta, sebab kesadaran berpunca manda-puggala (bani adam yang enggak cerdas) lain boleh mematamatai kekotoran dari vitakka dan vicara kedua-duanya ini sekaligus dalam tahun nan sama, hanya boleh membuang ‘hal batin’ satu persatu, yakni dutiya-jhana membuang vitakka, dan tatiya-jhana membuang vicara. Semata-mata, tikkha-puggala (bani adam yang cerdas) bakir mengusut dan mengintai kekotoran berasal vitakka dan vicara sekaligus dalam musim yang sama, dan membuang vitakka dan vicara sekaligus. Karena itu, internal Sutta Pitaka, janjang rupa jhana terserah empat.

Panjang jhana, menurut Abhidhamma, terdiri atas :

  1. Pathama-Jhana, ialah jhana tingkat purwa.
    Kejadian batinnya terdiri dari lima corak, yaitu vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  2. Dutiya-Jhana, merupakan jhana tingkat kedua.
    Situasi batinnya terdiri berasal catur dandan, yaitu vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  3. Tatiya-Jhana, ialah jhana tingkat ketiga.
    Keadaan batinnya terdiri berpangkal tiga corak, yakni, piti, sukha, dan ekaggata.
  4. Catuttha-Jhana, ialah jhana tingkat keempat.
    Situasi batinnya terdiri berpangkal dua dandan, yaitu sukha dan ekaggata.
  5. Pancama-Jhana, yaitu jhana tingkat kelima.
    Hal batinnya terdiri dari dua rona, ialah upekkha dan ekaggata.
  6. Akasanancayatana-Jhana, adalah kejadian berusul konsepsi rubrik nan sonder batas.
  7. Viññanancayatana-Jhana, adalah keadaan dari konsepsi kognisi yang bukan minus.
  8. Akincaññayatana-Jhana, yaitu keadaan dari konsepsi kekosongan.
  9. Nevasaññanasaññayatana-Jhana, ialah keadaan dari konsepsi lain pencerapan pun tidak tak pencerapan.

Tataran jhana, menurut Sutta Pitaka, terdiri atas :

  1. Pathama-Jhana, ialah jhana tingkat pertama, dimana nivarana sudah lalu dapat diatasi dengan seksama. Faktor-faktor jhana yang ketimbul adalah vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  2. Dutiya-Jhana, yaitu jhana tingkat kedua, dimana vitakka dan vicara mulai lenyap, karena kedua faktor ini bersifat garang untuk jhana kedua. Faktor-faktor jhana nan masih ada adalah piti, sukha, dan ekaggata.
  3. Tatiya-Jhana, merupakan jhana tingkat ketiga, dimana piti menginjak musnah, karena piti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. Faktor-faktor jhana yang masih suka-suka yaitu sukha dan ekaggata.
  4. Catuttha-Jhana, ialah jhana tingkat keempat, dimana sukha tiba lenyap, karena faktor ini masih terasa kasar bikin jhana keempat. Di dalam jhana keempat ini saja ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin).
  5. Akasanancayatana-Jhana.
  6. Viññanancayatana-Jhana.
  7. Akincaññayatana-Jhana.
  8. Nevasaññanasaññayatana-Jhana.

Untuk mencapai pathama-jhana, obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan suatu kayagatasati.

Bikin hingga ke dutiya-jhana, tatiya-jhana, dan catuttha-jhana, obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta, karuna, dan mudita).

Untuk mencapai pancama-jhana, obyek nan harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha.

Untuk mencapai catur arupa jhana, obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa.

Penjelasan :

Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua orang cak bagi mencapai lima rupa jhana.

9. LIMA MACAM VASI

Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana.

Jika seseorang telah hingga ke jhana tingkat pertama (pathama-jhana), kemudian dia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya, maka ia harus mempunyai lima varietas vasi.

Kelima tipe vasi tersebut ialah :

  1. Avajjana-vasi, merupakan kepiawaian intern pemikiran cak bagi memasuki jhana menurut kehendaknya.
  2. Samapajjana-vasi, adalah keahlian intern memasuki jhana.
  3. Adhitthana-vasi, yaitu keahlian intern menentukan berapa lama hendak berada kerumahtanggaan jhana.
  4. Vutthana-vasi, yaitu kepakaran dalam ‘keluar’ terbit jhana.
  5. Paccavekkhana-vasi, yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana.

10. ENAM MACAM ABHIÑÑA

Abhiñña berarti kemampuan alias keistimewaan batin nan luar biasa, maupun tenaga batin.
Abhiñña akan timbul dalam diri sosok yang telah mencapai jhana-jhana, dimana jhana tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. Namun, hal ini kembali tersidai pada kusala-kamma (jasa baik) berpunca kehidupan nan dulu. Tentang obyek meditasi yang boleh menimbulkan abhiñña yaitu belaka sepuluh kasina.

Abhiñña itu suka-suka enam macam dan dapat dibagi atas dua kerubungan ki akbar, yaitu abhiñña yang materialisme maupun lokiya dan abhiñña nan di atas kebendaan atau lokuttara.

Abhiñña yang sekular (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam, yakni :

  1. Iddhividhañana, sering disebut sebagai kemustajaban gaib atau kekuatan magis maupun kesaktian. Ini terbagi kembali atas beberapa macam, yaitu :
    1. Adhitthana-iddhi, ialah kemampuan buat mengubah diri berpunca suatu menjadi banyak atau dari banyak menjadi satu.
    2. Vikubbana-iddhi, ialah kemampuan bagi berubah bentuk, seperti menjadi anak kecil, samudra, i beludak, atau takhlik diri menjadi tak tampak.
    3. Manomaya-iddhi, ialah kemampuan mencipta dengan memperalat pikiran, sebagaimana menciptakan istana, taman, macan, wanita cantik, dan lain-lain.
    4. Ñanavipphara-iddhi, ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan.
    5. Samadhivipphara-iddhi, merupakan kemampuan memencarkan melangkaui sentralisasi, yaitu :
      • Kemampuan menembus dinding, cerocok, dolok.
      • Kemampuan menyelam ke dalam bumi bak menyelam ke intern air.
      • Kemampuan berjalan di atas air bagaikan melanglang di atas tanah yang padat.
      • Kemampuan cemas di angkasa sebagai halnya burung.
      • Kemampuan melawan api.
      • Kemampuan menyentuk bulan dan mentari dengan tangannya.
      • Kemampuan memanjat puncak marcapada sampai ke umbul-umbul Brahma.
  2. Dibbasotañana (telinga dewa), ialah kemampuan untuk mendengar kritik-suara pecah tunggul lain, yang jauh maupun nan dekat.
  3. Cetopariyañana alias paracittavijañana, merupakan kemampuan buat membaca perasaan insan lain.
  4. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa), merupakan kemampuan untuk melihat duaja-liwa halus dan unjuk lenyapnya makhluk-basyar yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing.
  5. Pubbenivasanussatiñana, merupakan kemampuan cak bagi mengingat tumimbal lahir yang suntuk dari diri seorang dan orang tidak.

Abhiñña nan di atas profan (lokuttara-abhiñña) hanya ada suatu macam, ialah asavakkhayañana, ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke jihat kesucian teratas atau arahat.

Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan asing biasa. Sang Buddha lain membenarkan murid-siswaNya melakukan sesuatu nan ajaib dan mujijat, karena ragam demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata sosok lain. Lagipula kegaiban itu bukanlah merupakan kejadian nan penting dalam mencari otonomi (Nibbana).

Vipassana Bhavana

1. Catur Diversifikasi SATIPATTHANA

Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, obyeknya adalah tanda dan rupa (batin dan materi), atau pancakhandha (lima keramaian faktor sukma). Ini dilakukan dengan menuduh gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga boleh melihat dengan nyata bahwa merek dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku).

Pancakkhandha (lima kerumunan faktor kehidupan) terdiri atas :
rupa-khandha (kelompok raga), vedana-khandha (kelompok perasaan), sañña-khandha (keramaian pencerapan), sankhara-khandha (kelompok lembaga perasaan), dan viññana-khandha (kelompok kognisi). Sepatutnya ada, yang disebut pancakkhandha itu merupakan makhluk.

Empat macam satipatthana (empat keberagaman meditasi) terdiri atas :
kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani), vedana-nupassana (permenungan terhadap pikiran), citta-nupassana (permenungan terhadap pikiran), dan Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-rencana pikiran).

Empat macam satipatthana itu yakni pancakkhandha, atau nama dan rupa itu sendiri. Kaya nupassana yaitu rupa-khandha. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. Citta-nupassana ialah Viññana-khandha. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha.

Sesungguhnya, yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah ingatan nan tajam dan kesadaran yang kuat.

  1. Bakir-nupassana
    (tafakur terhadap raga badan).
    Salah satu konseptual yang paling populer dan praktis tentang permenungan dengan obyek tubuh jasmani ialah anapanasati (mengingat-ingat keluar dan masuknya napas). Kerumahtanggaan anapanasati ini, tidak cak semau tekanan atau paksaan puas pernapasan. Panjang ataupun pendek cakap pernapasan harus disadari, tetapi tak dibuat-buat alias sengaja diatur. Jadi, bernapas secara resmi dan wajar.Kendatipun menurut kebiasaan , pemahaman terhadap fotosintesis itu plong tingkat pertama dianggap misal obyek bagi meditasi toleransi (Samatha Bhavana), yaitu kerjakan mengembangkan jhana-jhana, ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Nur (Vipassana Bhavana). Dalam pernapasan, yang dipakai sebagai satu obyek manah putih, naik turunnya gelombang elektronik nasib yang lain kekal, yang timbul terendam ini, dapat disadari dengan mudah.Cara meditasi lain yang berjasa, praktis, dan berguna ialah ingat dan waspada terhadap segala sesuatu yang dilakukan, ketika bepergian, berdiri, duduk, atau berbaring, sewaktu membungkukkan dan melempengkan badan, sekaligus melihat ke muka dan ke bokong, ketika berpakaian, makan, dan minum, saat buang feses dan berkemih, ketika berujar atau berdiam diri.Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan raga dengan harapan untuk mengendalikan badan. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana, dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk jiwa setiap momen.
  2. Vedana-nupassana
    (perenungan terhadap perhatian).
    Di sini direnungkan perasaan nan sedang dialami secara obyektif, baik perasaan senang, pikiran enggak senang, maupun ingatan yang acuh tak acuh. Direnungkan kejadian pikiran yang sebenarnya, bagaimana kamu ketimbul, berlangsung, dan kemudian lenyap sekali lagi.Pikiran harus dikendalikan maka itu akal busuk dan kebijaksanaan, kiranya ingatan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. Apabila ingatan telah dapat diatasi dengan tepat, maka batin menjadi netral, tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini.
  3. Citta-nupassana
    (perenungan terhadap manah).
    Di sini direnungkan barang apa gerak-gerik pikiran. Apabila perasaan semenjana ketularan hawa nafsu ataupun terbebas daripadanya, maka keadaan itu harus disadari.Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup lega ketika ini. Problem-penyakit yang sudah lewat alias situasi-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. Betapa banyak tenaga yang terusir dengan cuma-cuma karena melamunkan keadaan-hal nan mutakadim lalu dan berhalusinasi hal yang akan nomplok. Jadi, keadaan perhatian yang sesungguhnya harus diamat-amati, agar batin menjadi bebas dan tidak terikat.
  4. Dhamma-nupassana
    (khalwat terhadap bagan-lembaga pikiran).
    Di sini direnungkan rencana-bentuk pikiran dengan sewajarnya, direnungkan tulang beragangan-gambar pikiran dari lima spesies rintangan (nivarana), direnungkan bentuk-bentuk manah dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha), direnungkan lembaga-bentuk manah dari enam landasan indriya kerumahtanggaan dan luar (dua belas ayatana), direnungkan tulangtulangan-rancangan pikiran dari sapta faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga), dan direnungkan tulangtulangan-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Indah (Cattari Ariya Saccani).Cara merenungkan bentuk-tulangtulangan perasaan dari panca macam rintangan (nivarana) ialah bahwa apabila di dalam diri orang nan bermeditasi timbul nafsu keinginan, kerinduan jahat, kewegahan dan kepenatan, kegelisahan dan kebingungan, atau keragu-raguan, maka hal itu harus disadari. Demikian pula apabila nivarana itu enggak cak semau di dalam dirinya, maka kejadian itu pun harus disadari. Beliau tahu bagaimana tulang beragangan-bentuk perhatian itu cak bertengger dan timbul. Ia tahu bagaimana sekali timbul, tulang beragangan-rangka perasaan itu ditaklukkan. Kamu adv pernah bahwa sekali ditaklukkan, bentuk-bentuk manah itu tidak akan timbul pula kemudian.Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran semenjak lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan mencatat bahwa inilah rencana jasmani, inilah perasaan, inilah pencerapan, inilah bentuk ingatan, inilah kesadaran. Beliau tahu bagaimana caranya timbul dan bagaimana caranya lenyap.Pendirian merefleksikan rajah-rangka pikiran berpokok enam guri indriya kerumahtanggaan dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek tulangtulangan, inilah telinga dan obyek suara, inilah hidung dan obyek bau, inilah indra perasa dan obyek kecapan, inilah badan dan obyek sentuhan, inilah pikiran dan obyek manah. Sira sempat akan belenggu-gari nan timbul dalam hubungan dengan semua itu. Sira tahu bagaimana cara menaklukkan gari-belenggu itu. Beliau senggang bagaimana caranya kendati belenggu yang telah dibuang itu tidak kulur pula kemudian.Mandu merenungkan bentuk-rang pikiran berusul tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) yaitu apabila di n domestik diri orang nan bermeditasi timbul kesadaran (sati), investigasi Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya), tenaga (viriya), kegiuran (piti), ketenangan (passadhi), pemusatan pikiran (samadhi), atau kesamarataan (upekkha), maka hal itu harus disadari. Ia tahu bilamana kejadian-situasi ini tidak ada di dalam dirinya. Ia luang bagaimana cara timbulnya, dan bagaimana cara mengembangkannya dengan transendental.Prinsip merenungkan bentuk-bentuk pikiran bermula Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani) ialah dengan mencatat berdasarkan kesunyataan bahwa inilah kesengsaraan, inilah asal mula berbunga penderitaan, inilah pemadaman dari kesengsaraan, inilah kronologi menuju pemadaman pecah kesengsaraan. Anda merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari rajah-bentuk perhatian. Akibatnya, ia hidup netral minus sangkut-paut kerumahtanggaan mayapada ini.

2. Dasa Tipe VIPASSANUPAKILESA

Vipassanupakilesa signifikan kekotoran batin alias rintangan nan menghambat perkembangan Rukyah Terang, di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana.
Vipassanupakilesa ini ada sepuluh jenis, yakni :

  1. Obhasa, ialah sorot-nur yang gemerlapan, yang tulangtulangan dan keadaannya bermacam-jenis, nan kadang-kadang yaitu pemandangan yang ki menenangkan amarah.
  2. Piti, yakni kegiuran, yang yakni perasaan yang nyaman dan nikmat. Piti ini ada panca macam menurut keadaannya, yaitu :
    1. Khudaka Piti, ialah kegiuran yang kecil, yang suasananya begitu juga rambut badan yang terangkat atau merinding.
    2. Khanika Piti, ialah kegiuran nan sepintas lalu menggerakkan badan.
    3. Okkantika Piti, ialah kegiuran yang menyeluruh, yang suasananya meriang di seluruh badan, seperti ombak laut bersimpang di pantai.
    4. Ubbonga Piti, ialah kegiuran yang menyanggang, nan suasananya seolah-olah mengangkat fisik menaiki ke udara.
    5. Pharana Piti, yaitu kegiuran yang menyerap seluruh badan, yang suasananya seluruh badan seperti terisap maka dari itu pikiran nan menakjubkan.
  3. Passadi, yaitu ketenangan batin, yang seolah-olah basyar telah mencapai penerangan sejati.
  4. Sukha, ialah manah yang berbahagia, yang seolah-olah khalayak telah adil dari penderitaan.
  5. Saddha, ialah keyakinan yang awet dan harapan agar setiap orang juga begitu juga dirinya.
  6. Paggaha, yakni kampanye yang terlalu giat, yang bertambah daripada semestinya.
  7. Upatthana, ialah pikiran yang tajam, yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kognisi, karena lain kecam saat yang sekarang ini.
  8. Ñana, ialah pemberitahuan nan cak acap timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi.
  9. Upekkha, ialah keseimbangan batin, dimana pikiran tidak mau bergerak buat menyadari proses-proses yang ketimbul
  10. Nikanti, ialah perasaan sreg terhadap obyek-obyek.
Popular:   Meditasi Yang Paling Umum Dilaksanakan Adalah

Deka- macam vipassanupakilesa ini lazimnya ketimbul kerumahtanggaan perkembangan Sammasana-Ñana, yaitu ñana yang ketiga.

3. Catur MACAM VIPALLASA-DHAMMA

Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan, alias bermuka dua, atau misinterpretasi nan berkenaan dengan reseptif yang menganggap satu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan misal suatu kebenaran. Vipallasa-Dhamma ini ada empat diversifikasi dan boleh dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana.

Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu adalah :

  1. Subha-Vipallasa, yaitu kekeliruan berbunga pencerapan, pikiran, dan penglihatan, yang menganggap sesuatu nan tidak elok ibarat cakap. Subha-Vipallasa ini bisa dibasmi dengan melaksanakan berbenda-nupassana.
  2. Sukha-Vipallasa, yaitu salah tafsir terbit pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. Sukha_Vipallasa ini bisa dibasmi dengan melaksanakan vedana-nupassana.
  3. Nicca-Vipallasa, yaitu kekeliruan terbit pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tak kekal laksana kekal. Nicca-Vipallasa ini bisa dibasmi dengan melaksanakan citta-nupassana.
  4. Atta-Vipallasa, yaitu salah tafsir dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang minus aku misal aku. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan Dhamma-nupassana.

4. Heksa- BELAS MACAM ÑANA

Ñana berguna takrif. Apabila insan sungguh-sungguh melaksanakan Vipassana Bhavana, maka akan berkembanglah ñana di internal dirinya. Ñana itu ada enam belas diversifikasi, ialah :

  1. Label-Rupa Pariccheda Ñana, ialah pengetahuan tentang perbedaan nama (batin) dan rupa (materi).
  2. Paccaya Pariggaha Ñana, yaitu takrif akan halnya hubungan sebab dan akibat bersumber nama dan rupa.
  3. Sammasana Ñana, yaitu pengetahuan yang menunjukkan tanda dan rupa seumpama Tilakkhana (Tiga Corak Umum), yaitu anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), anatta (tanpa aku).
  4. Udayabbaya Ñana, ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa.
  5. Bhanga Ñana, ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa.
  6. Bhaya Ñana, ialah pengetahuan mengenai kedahsyatan yang berkenaan dengan resan nama dan rupa.
  7. Adinava Ñana, ialah siaran mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.
  8. Nibbida Ñana, ialah pesiaran mengenai kesungkanan yang berkenaan dengan sifat segel dan rupa.
  9. Muncitukamyata Ñana, ialah laporan mengenai keinginan untuk mencapai kemandirian.
  10. Patisankha Ñana, adalah permakluman tentang penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan, yang menimbulkan keputusan bikin belajar terus dengan bersemangat.
  11. Sankharupekkha Ñana, ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-tulang beragangan kehidupan.
  12. Anuloma Ñana, ialah pengetahuan mengenai orientasi diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Sani), bak persiapan lakukan memasuki magga (Urut-urutan), menyentuh phala (hasil) dari magga itu, dan mendekati Nirvana, dengan melalui anicca, dukkha, dan anatta.
  13. Gotrabhu Ñana, yaitu publikasi tentang penyederhanaan atau pemutusan keadaan kebendaan, dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran.
  14. Magga Ñana, ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga, dimana kilesa alias kekotoran batin sudah dilenyapkan.
  15. Phala Ñana, ialah proklamasi mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga, dan Nirvana sebagai obyek batinnya.
  16. Paccavekkhana Ñana, yakni pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-tahi kilesa atau kekotoran batin yang masih ada.

Enam belas variasi ñana tersebut di atas diuraikan sangkil terperinci seperti di bawah ini.

    1. Nama-Rupa Pariccheda Ñana
      Dengan punya ñana ini, seseorang boleh mengasingkan label dari rupa dan rupa dari tanda. Umpamanya, internal melaksanakan Vipassana Bhavana, menanjak dan turunnya rongga peranakan ketika bernapas adalah rupa, padahal ingatan yang mengetahui proses itu adalah label. Aksi kaki ketika melanglang ialah rupa, sedangkan pemahaman terhadapa keadaan itu adalah nama.Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera, dapat dijelaskan seumpama berikut :

      1. Dalam meluluk bentuk maupun warna, susuk maupun warna itu yakni rupa, dan kesadaran terhadap kejadian itu adalah merek.
      2. Dalam mendengar obstulen, obstulen itu adalah rupa, dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama.
      3. Intern mencium bau, bau itu ialah rupa, dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama.
      4. Kerumahtanggaan mencicipi sesuatu, rasa itu adalah rupa, dan kesadaran terhadap hal itu merupakan label.
      5. Dalam menjejak satu benda yang dingin, panas, berkanjang, atau lunak, benda itu adalah rupa, dan kesadaran terhadap peristiwa itu adalah stempel.

Jadi, kesimpulannya ialah bahwa seluruh jasmani ini adalah rupa, dan pikiran adalah jenama. Yang cak semau hanya rupa dan nama. Enggak ada sesuatu nan disebut makhluk, bukan ada pribadi, aku, dia, dan lain-lainnya.

  1. Paccaya Pariggaha Ñana
    N domestik beberapa hal, rupa merupakan sebab, dan nama merupakan akibat. Jadi, jikalau rongga perut naik, maka kesadaran akan mengikutinya. Saja, dalam hal lain, merek adalah sebab, dan rupa merupakan akibat. Makara, takdirnya perhatian bergerak, maka gerak jasad akan mengikutinya. Keinginan duduk yaitu sebab, dan duduk adalah kesudahannya.Rongga perut mungkin naik, belaka tidak ada terban. Rongga rahim bisa jadi ambruk dengan keras dan lewat sengap dalam keadaan itu. Naik turunnya sinus perut hilang, tetapi jikalau dirasakan dengan tangan, proses itu masih tetap ada.Adakalanya ada perasaan yang lampau tertekan dan adakalanya agak kurang, ataupun merasa diri tak berhasil. Pelahap diganggu oleh pemandangan atau khayalan, sama dengan binatang haram, ancala-bukit, dan lain-lain.Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kognisi itu berlangsung dengan terstruktur. Kadang-kadang orang dapat terkejut, bergoyang ke tampang alias ke belakang. Akhirnya, orang bisa merasakan bahwa kehidupan nan lampau, yang sekarang, dan yang kelak hanya terbentuk berpunca rangkaian sebab dan akibat, dan cuma terdiri atas nama dan rupa.
  2. Sammasana Ñana
    Dengan memiliki ñana ini, seseorang dapat merasakan keunggulan dan rupa melangkahi panca-indera laksana Tilakkhana (Tiga Warna Umum), yaitu, Anicca (ketidak-kekalan), Dukkha (derita), dan Anatta (sonder aku).Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga episode, merupakan upada (terjadi), thiti (berlangsung), dan bhanga (gaib). Naik turunnya nafkah bisa lenyap sebentar atau dalam waktu nan lama. Pernapasan dapat berlantas cepat, alun-alun, halus, atau tertahan.Keluih perasaan terdesak, yang namun bisa menguap setelah disadari beberapa mungkin dengan perlahan-lahan. Pikiran menjadi risau, yang memperlihatkan adanya kesadaran terhadap Tilakkhana itu.
  3. Udayabbaya Ñana
    Dengan memiliki ñana ini, seseorang bisa menyadari bahwa usaha panjat turunnya kas dapur itu terdiri atas dua, tiga, empat, panca, atau enam tingkat.Panjat dan turunnya rahim lenyap berselang-seling. Berbagai perhatian lenyap setelah disadari bilang kali. Terlihat cahaya yang terang, seperti lampu listrik.Mula-mula dan pengakhiran terbit usaha naik turunnya perut lebih terasa. Alhasil, manusia akan merasakan bahwa ketika respirasi cak jongkok pada masa bernaung nan repetitif-ulang, badan seperti jatuh ke dalam tahang yang adv amat dalam, atau terbang dengan kapal udara, atau panjat dengan elevator, sahaja sepantasnya badan masih konsisten sengap dan tak bergerak.
  4. Bhanga Ñana
    Pengakhiran terbit gerak naik turunnya perut makin terasa. Naik turunnya perut terasa taksa-taksa, terasa penyap, dan sekali-kali terasa tidak ada apa-barang apa.Gerakan naik turun dan kognisi/pikiran (citta) terasa seolah-olah ki amblas. Pertama-tama, rupa (materi/tubuh) yang mengendap, hanya citta masih berkemandang. Kemudian, gerakan naik turun segera lenyap, demikian sekali lagi kesadarannya. Jadi, citta dan obyeknya musnah spontan.Terasa sensual seluruh jasmani. Terasa diri begitu juga ditutupi dengan jejala. Segala sesuatu boleh jadi seolah-olah intern suasana yang penuh kesuraman, sangat bersimbah, dan kabur-agak kelam. Sekiranya melihat plong langit, seolah-olah ada renyut-getaran di udara. Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong nongkrong dan sekonyong-konyong timbul kembali.
  5. Bhaya Ñana
    Keluih ingatan takut, tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu ataupun setan. Lain merasa bahagia, doyan, gembira, alias legit. Terasa sakit sreg urat-urat syaraf, terutama lega perian berjalan ataupun seram.Terdapat bahaya dari pertukaran-persilihan yang terus menerus di intern semua bentuk usia. Semua bagian dari benda-benda ini mengerikan. Merek dan rupa nan dianggap laksana sesuatu nan bagus atau indah, senyatanya tidak punya inti-sari, dan kosong adakalanya. Sehabis nama dan rupa lucut, tak cak semau lagi nan menimbulkan rasa agak kelam.
  6. Adinava Ñana
    Gerakan jungkat-jungkit menghilang perlahan-lahan sedikit, dan boleh jadi cuma ambigu-enigmatis dan suram. Nama dan rupa unjuk dengan cepatnya, tetapi dapat pula disadari.Diri terasa buruk, jelek, dan membosankan. Semua bentuk batin dan fisik menyedihkan.
  7. Nibbida Ñana
    Semua obyek terbantah menjemukan dan jelek. Terasa sama dengan malas, tetapi kemampuan bakal mengenal maupun mengingat-ingat sesuatu masih melanglang dengan baik. Tidak ada kedahagaan untuk antuk ataupun bercakap-cantik dengan orang tak, dan makin senang tinggal di kamar seorang saja.Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu, seperti kemasyhuran, kemewahan, kemegahan, dan lain-lainnya tidak kembali merupakan kesenangan dan kesukaan, bahkan berubah menjadi kebosanan sehabis menyadari sendiri bahwa khalayak itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. Semua manusia dan cucu adam tidak, justru para dewa dan para brahma lain ada yang terkecuali semasih diliputi oleh buram-gambar ini, di mana masih ada kelahiran, usia tua, sakit, dan mortalitas, dan tidak terdapat perhatian kenikmatan yang zakiah. Kebosanan timbul ibarat dorongan yang keras bakal berburu Nibbana.
  8. Muncitukamyata Ñana
    Seluruh badan merasa gatal, seperti mana digigit-gigit semut, atau sebagaimana ada binatang mungil yang meluncur pada muka dan badan. Terasa kurang senang, gelisah dan bosan. Ada kedahagaan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. Terserah sekali lagi nan ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau ragam-kelakuan baiknya belum cukup abadi.
  9. Patisankha Ñana
    Terasa ditusuk-tusuk di bawah alat peraba dengan benda-benda tajam di seluruh badan. Timbul bermacam-tipe perasaan yang mengganggu, namun sehabis disadari dua atau tiga mana tahu, semua itu menjadi lenyap. Terasa menyundak. Raga menjadi kaku, cuma pikiran masih aktif dan pendengaran masih berkreasi. Badan terasa begitu juga ditindih godaan alias kayu. Seluruh raga terasa panas. Unjuk perhatian enggak suka.
  10. Sankharupekkha Ñana
    Tidak ada ingatan merembas, bukan ada perasaan senang, tetapi agak begitu juga acuh tak acuh. Naik turunnya peranakan hanya disadari ibarat merek dan rupa saja. Tidak cak semau perasaan gembira ataupun perasaan trenyuh, doang pikiran dan kognisi pada ketika itu tetap kirana.Ingatan, pengenalan, maupun kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran.Pemfokusan pikiran berjalan baik, tunak tenang dan renik dalam jangka waktu nan lama, sebagaimana sebuah otomobil nan melanglang di atas jalan yang melelapkan dan rata. Ada perasaan puas dan mungkin tengung-tenging dengan masa. Samadhi ataupun konsentrasi menjadi kuat dan lekat, seperti adonan tepung yang diremas-remas maka dari itu tukang roti yang pandai.Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di kerumahtanggaan nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. Orang boleh jadi bisa lupa dengan periode yang telah dilewatinya dalam tutorial itu. Mungkin anda telah duduk sepanjang satu jam atau lebih, sedangkan mulanya ia ingin bermeditasi sahaja 30 menit saja.
  11. Anuloma Ñana
    Di sini Anuloma Ñana diuraikan privat bentuk Tilakkhana (anicca, dukkha, anatta) laksana berikut :

    1. Anicca : orang yang biasa melatih diri internal kebersihan atau virginitas dan sila-sila akan sampai ke magga melalui permenungan akan halnya anicca. Gerakan jungkat-jungkit perut menjadi cepat, tetapi sekonyong-konyong berhenti. Engkau menyadari alias memaklumi dengan terang tentang propaganda naik turun itu yang nongkrong, menyadari sikap duduk atau jamahan-singgungan badannya dengan jelas. Keadaan pernapasan nan cepat itu adalah dandan anicca, dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya respirasi ini ialah anuloma-ñana, saja janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirkan. Proses berhenti ini harus disadari dengan kasatmata.
    2. Dukkha : Turunan nan absah melatih diri dalam Samatha (semadi ketenangan) akan mencapai magga melangkaui meditasi tentang dukkha. Kalau engkau membiasakan menyadari naik turunnya rezeki, sikap duduk, atau sentuhan-rabaan pada badan, maka kejadian itu akan terhalang. Takdirnya engkau terus menyinambungkan mengingat-ingat panjat turunnya perut, sikap duduk, ataupun sentuhan-sentuhan puas raga, maka terjadilah proses berhenti. Kejadian asimilasi yang terhalang itu adalah corak dari dukkha, dan pengenalan alias kesadaran terhadap proses berhentinya persuasi jungkat-jungkit ini, atau terhadap sikap duduk, atau sentuhan-sentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana.
    3. Anatta : Manusia yang legal melatih diri internal Vipassana (khalwat pandangan terang), maupun senang dengan Vipassana kerumahtanggaan kehidupannya yang dulu-lalu, akan mencapai magga melangkaui perenungan mengenai anatta. Jadi, panjat turunnya perut menjadi tenang dan teratur, paser waktu dari gerakan panjat dan gerakan turun sama, dan kemudian berhenti. Gerak menaiki turunnya perut, atau sikap duduk, atau rabaan-sentuhan lega jasad kelihatan dengan terang. Keadaan fotosintesis nan kecil-kecil dan terintegrasi itu ialah corak berasal anatta, dan pengenalan atau kesadaran nan kurat terhadap proses berhentinya gerakan naik turun ini, atau terhadap sikap duduk, atau sentuhan-sentuhan pada awak itu yaitu anuloma-ñana.
  12. Gotrabhu Ñana
    Keunggulan-rupa bersama-sama dengan citta (manah) nan mengetahui proses mengetem itu menjadi diam, tenang, kerukunan, dan damai. Ini bermanfaat bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana umpama obyeknya. Makara, kalau pencerapan tiba pecah dan pupus, maka gotrabhu-ñana tergapai.
  13. Magga Ñana
    Magga timbul sinkron puas saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur akibat dari putusnya belenggu-belenggu, seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku), Vicikiccha (keragu-raguan), Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara).
  14. Phala Ñana
    Phala-ñana adalah hasil dari magga, yang muncul langsung selepas timbulnya magga-ñana. Dalam beberapa momen, dua atau tiga detik, nan menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. Ñana ini bertabiat lokuttara.
  15. Paccavekkhana Ñana
    Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). Internal peristiwa ini terletak lima macam pertimbangan sebagai berikut :

    1. Pertimbangan mengenai magga, yang berjasa bahwa kita sudah lalu tiba pada magga ini.
    2. Pertimbangan mengenai phala, yang penting bahwa kita telah mencecah phala ataupun hasil ini.
    3. Pertimbangan mengenai kilesa nan telah dihancurkan, nan berarti kita telah membanting semua kilesa.
    4. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan, yang berarti kita masih memiliki kilesa.
    5. Pertimbangan mengenai nibbana, nan bermakna bahwa Dhamma tertentu telah kita raih untuk menuju ke Nibbana umpama obyek ingatan.

Demikian proses tersebut boleh timbul di dalam diri seseorang dan dapat
disadari dengan seksama, kalau orang melaksanakan Vipassana Bhavana.


Sumber: https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/bhavana-pengertian-faedah-dan-cara-melaksanakan/