Tempat Berlatih Meditasi Pada Zaman Buddha

Bacaan dan latihan wajib kerjakan setiap siswa tutorial meditasi bersama di Vihara Bodhigiri.




Oleh Bhikkhu Uttamo

Pelaksanaan Buddha Dhamma atau ajaran yang dibabarkan makanya Si Buddha Gotama selingkung 2500 tahun yang lalu dilakukan melampaui tiga kelakuan amal. Ketiga perilaku darmabakti yang tidak dapat dilepaskan cak satu demi satu suatu itu adalah kerelaan
(dana)
, kemoralan
(sila)
, serta konsentrasi
(samadhi)
. Keikhlasan alias
dana

pada tingkat mulanya ialah latihan agar seseorang berada mengasingkan keterikatan dengan beraneka rupa benda duniawi. Ia dilatih untuk berkecukupan berbagi makanan, pakaian, kancah habis maupun bervariasi benda keduniawian lainnya. Puas tingkat seterusnya, latihan kesanggupan dilakukan dengan berbagi manah, pemberian sayang maupun pengertian terhadap lingkungan. Pada tahap lanjutan ini, kerelaan yang tertinggi adalah ketika seseorang mampu merelakan egoisme yang ia miliki. Anda mampu merelakan kebencian berubah menjadi kasih sayang. Ia merelakan kegeraman menjadi pertemanan. Engkau kreatif merelakan keinginan kerjakan diperhatikan menjadi pengabdian kepada masyarakat luas. Kemampuan tertinggi ini menjadi positif dengan munculnya rasa sayang terhadap semua mahluk. Engkau buruk perut berambisi agar semua mahluk selalu hayat bahagia, netral dari siksaan maupun permusuhan.

Kemoralan atau
sila

adalah pelajaran pengendalian perilaku badan ataupun perkataan moga lain menimbulkan kesengsaraan untuk diri koteng maupun fihak lain. Dalam melaksanakan latihan kemoralan dikenal, minimum terbatas, adanya panca cak bimbingan kemoralan yang biasa disebut sebagai
Pancasila Buddhis
. Pancasila Buddhis terdiri dari tuntunan bagi mengurangi pembunuhan serta penganiayaan, cak bimbingan bikin tidak melakukan pencopetan, pelajaran bakal lain mengamalkan pengingkaran kesusilaan maupun perjinahan, les lakukan tak mengucapkan kata yang tidak moralistis atau bohong dan latihan kelima adalah berusaha menghindari makan mereguk berbagai objek yang dapat menimbulkan kecanduan maupun hilangnya kesadaran akibat mabuk. Tujuan melaksanakan kelima cak bimbingan ini seyogiannya seseorang sering menyadari semua tindakan badan atau ucapannya.

Hendaknya seseorang bertambah rani menyadari segala rancangan perilaku awak dan ucapannya, maka ia seyogiannya melaksanakan latihan ketiga yaitu sentralisasi ataupun
samadhi
. Tuntunan konsentrasi ini menjadi sangat terdahulu karena seseorang dikondisikan untuk tidak namun terlewati polah badan dan ucapannya tetapi, melainkan juga perbuatan melangkahi pikiran. Mereka nan memiliki perilaku badan dan tuturan yang baik belum karuan mempunyai pikiran yang baik. Namun, seseorang nan mutakadim memiliki manah baik, tentu perilaku badan dan ucapannya akan baik pula. Pelaksanaan kursus pemusatan ini ataupun sering disebut perumpamaan
Samatha Bhavana

menjadi dasar pelajaran kognisi yang makin tinggi adalah selalu pulang ingatan dan perhatian setiap gerak-gerik pikiran yang unjuk dan terendam yang disebut sebagai
Vipassana Bhavana
. Pentingnya upaya seseorang berlatih pemfokusan maupun pemahaman ini didukung dengan inti Ilham Si Buddha tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan. Seperti sudah lalu diketahui bersama bahwa Kronologi Mulia Berunsur Delapan yakni suatu jalan yang terdiri berpunca okta- anasir yaitu Pandangan Ter-hormat, Manah Etis, Ucapan Sopan, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Bermoral, Daya Upaya Benar, Perhatian Ter-hormat dan Konsentrasi Benar. Delapan unsur Jalan Mulia ini sering dikelompokkan menjadi tiga bagian ki akbar yang disebut sebagai kelompok kebijaksanaan
(panña)
, kemoralan
(sila)

dan konsentrasi
(samadhi)
. Kebijaksanaan menghampari dua elemen pertama yaitu Pandangan Benar dan Pikiran Moralistis. Kemoralan terdiri berbunga tiga atom berikutnya merupakan Bacot Benar, Perbuatan Bermoral, serta Mata Pencaharian Benar. Padahal sentralisasi terdiri dari Daya Upaya Bermoral, Perhatian Etis dan Konsentrasi Etis. Pelaksanaan satu Jalan Mulia yang memiliki delapan anasir ini secara tekun dan penuh semangat akan boleh membebaskan seseorang pecah ketamakan (lobha), kebencian (dosa) serta keremangan batin (moha).

Dari pembagian kerumunan Jalan Indah Berunsur Okta- tersebut, jelas sudah lalu bahwa sentralisasi menjadi salah satu adegan yang tidak dapat dipisahkan dengan kedua babak lainnya. Kursus pemusatan puas awalnya dilakukan dengan memusatkan ingatan pada obyek meditasi nan telah ditentukan. Pencapaian tertinggi meditasi pemfokusan
(Samatha Bhavana)

ini disebut dengan
Jhana
. Apabila tingkat konsentrasi ini dapat dicapai, maka pelaku meditasi boleh melanjutkan dengan melebarkan kesadaran pada segala gerak gerik pikiran alias awak. Latihan tafakur tingkat lanjutan ini disebut sebagai nyepi berekspansi kognisi
(Vipassana Bhavana)

yang hasil tertingginya adalah kebijaksanaan
(Panña) .
Untuk mencapai kebijaksanaan laksana hasil latihan pengendalian pikiran secara maksimal, diperlukan sejumlah anju dasar. Seperti diketahui bahwa manah adalah merupakan episode berpokok batin, sedangkan sosok terdiri berpangkal badan serta batin, maka persiapan badan yang baik akan mendukung jalan kualitas batin nan baik pula. Ancang tubuh dimulai dengan memaklumi posisi tubuh yang ideal selama bermeditasi. Ada empat posisi tafakur yang bisa dipergunakan adalah duduk, redup, berjalan serta menggeletak.

Posisi duduk biasanya dilakukan dengan bersila, adalah menyengkelangkan kedua suku. Idealnya, kedua kaki terlipat sedemikian rupa sehingga kedua telapak kaki terletak di atas paha. Jadi, telapak kaki kidal berada di atas paha kanan dan telapak suku kanan terletak di atas paha kidal. Namun, kalau sulit untuk melakukan posisi ini, boleh juga kaki kiri dilipat dan diletakkan di bawah tungkai kanan. Bekas kaki kaki kanan berada di atas pukang kiri. Akan tetapi, jika posisi ini sekali lagi sulit dilakukan, pergunakan posisi apapun sekali lagi nan berfaedah duduk dapat terasa nyaman tanpa diganggu rasa geringgingan buat periode meditasi nan sudah lalu ditentukan, misalnya 15 maupun 30 menit tanpa bergerak.

Sesudah berpunya memposisikan kaki sehingga nyaman duduk, maka letakkan kedua punggung tangan produktif di pangkuan. Telapak tangan kidal berada di bawah punggung pengapit. Galibnya, kedua ujung ibu ujung tangan dipertemukan. Duduklah dengan tegak namun santai. Kepala berdiri, mata dipejamkan, dan bernafaslah secara normal. Pusatkan pikiran lega obyek meditasi yang mutakadim dipilih. Apabila manah menimang hal tak, sadarilah dan lekas pusatkan kembali pada obyek tafakur tersebut. Demikian lebih jauh selama waktu tafakur yang telah ditentukan.

Adapun meditasi dengan posisi berdiri dilakukan sesuai namanya yaitu memusatkan pikiran serentak memancang. Mudah-mudahan seseorang berlimpah berdiri secara nyaman, posisikan kedua jejak kaki kaki satu sekufu lain bubar selebar pundak. Tangan lazimnya diletakkan di bawah pusar, telapak tangan kidal menempel di badan dan telapak kepercayaan di atas bekas kaki tangan kiri. Tentu belaka tangan boleh diposisikan di tempat bukan, misalnya di samping badan, bersilang tangan di depan dada terlebih bersilang tangan di pinggang. Posisikan tangan senyaman mungkin sehingga selama musim menggermang yang telah ditentukan, konsentrasi tidak terganggu. Kedua mata dipejamkan dan seluruh manah dipusatkan sreg obyek tafakur.

Posisi meditasi yang tak adalah berjalan. Posisi tangan tetap di bawah perut, atau mungkin di samping fisik, bersilang di depan dada ataupun di pinggang. Secara perlahan namun penuh pemusatan, langkahkan kaki satu demi satu. Sreg detik melangkah, seluruh perhatian dipusatkan pada obyek meditasi yaitu, biasanya, proses bepergian atau telapak tungkai yang sedang melangkah. Perasaan pada proses berjalan dilakukan dengan merasakan ketika kaki diangkat, maju dan diletakkan. Ingatan pada telapak kaki dilakukan dengan mengingat-ingat babak belakang, tengah serta depan punggung kaki yang diangkat dan diletakkan. Meditasi bepergian ini dilakukan di ajang yang verbatim dan rata. Jarak nan dipergunakan sekitar 15 langkah sampai dengan 25 ancang. Pelaku nyepi berjalan perlahan sampai di ujung jalan kemudian memegas dan melanglang kembali setakat di ujung jalan nan lain. Demikian seterusnya setakat selesai waktu meditasi nan ditentukan. Jika kekuatan pemusatan semakin tinggi, langkah yang dilakukan juga akan semakin perlahan. Suka-suka kemungkinan, jarak sejauh 25 langkah tersebut ditempuh n domestik waktu 30 menit atau makin. Suatu langkah mungkin menjadi dua menit atau lebih karena pikiran terpusat adv amat abadi menyerang kaki yang menengah bergerak.

Sedangkan posisi meditasi yang keempat adalah berbaring. Posisi ini mesti dibedakan dengan leyeh-leyeh. Tergeletak dilakukan dengan tubuh telentang, tengkurap ataupun menyamping, penasihat di atas bantal. Sedangkan posisi meditasi rebahan dilakukan dengan jasad menyamping ke sebelah kanan, superior ditopang oleh pendamping. Tangan kiri terletak di atas sisi kiri badan. Kaki kiri terletak di atas suku kanan. Kedua mata dipejamkan. Seluruh perhatian dipusatkan pada obyek meditasi nan mutakadim dipilih.

Meditasi agar dilakukan pada waktu dan tempat yang sederajat. Kebanyakan manusia sparing meditasi puas saat engkau bangun tidur dan akan tidur. Lama permenungan, paling sedikit 15 menit sampai dengan 60 menit atau lebih. Bikin perenungan sesuai dengan kemampuan. Sebelum meditasi, boleh cuma melakukan sedikit upacara ritual menurut keyakinan masing-masing. Umat Buddha biasanya melakukan pembacaan paritta ataupun mengulang kotbah Sang Buddha sekitar 15 sampai 20 menit. Upacara seremoni ini diperlukan agar pikiran lebih terpaku pada kegiatan spiritual daripada kegiatan material.

Selama duduk bermeditasi, pelaku permenungan dapat memintal salah suatu berpangkal 40 obyek permenungan nan dikenal dalam Dhamma. Agar lebih jelas dan membantu pemilihan obyek semadi, berikut ini secara ringkas akan diuraikan obyek-obyek tersebut adalah:

a.        Sepuluh
kasina

(benda), merupakan :

01.

Pathavi kasina = benda berupa tanah

02.

Apo kasina = benda aktual air

03.

Teja kasina = benda berwujud api

04.

Vayo kasina = merasakan wujud mega alias kilangangin kincir

05.

Nila kasina = benda berwarna biru

06.

Pita kasina = benda berwarna kuning

07.

Lohita kasina = benda berwarna merah

08.

Odata kasina = benda bercelup putih

09.

Aloka kasina = benda nyata sorot

10.

Akasa kasina = benda berwujud ruangan terbatas
b.       Sepuluh
asubha
(ketidakindahan), adalah :

01.

Uddhumataka = wujud kunarpa yang menggelembung

02.

Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan

03.

Vipubbaka = wujud mayat nan bernanah

04.

Vicchiddaka = wujud jenazah yang rempak di tengahnya

05.

Vikkahayitaka = wujud mayit nan digerogoti binatang-satwa

06.

Vikkhittaka = wujud mayat nan telah hancur lebur

07.

Hatavikkhittaka = wujud buntang yang busuk dan peroi

08.

Lohitaka = wujud kunarpa yang berlumuran darah

09.

Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung

10.

Atthika = wujud tempurung kepala
c.       Deka-
anussati
(perenungan), ialah :

01.

Buddhanussati = nyepi terhadap Buddha atau mereka yang telah mencapai kesucian

02.

Dhammanussati = nyepi terhadap Dhamma atau Tanzil mereka yang sudah mencapai kehormatan

03.

Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha yaitu para siswa yang telah mencapai kesucian

04.

Silanussati = perenungan terhadap kemoralan

05.

Caganussati = perenungan terhadap kebajikan kedermawanan

06.

Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung, para dewa dewi penghuni bermacam rupa tingkat alam surgaloka

07.

Marananussati = perenungan terhadap mortalitas yang dapat dialami oleh semua mahluk

08.

Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani sendiri

09.

Anapanasati = perenungan terhadap proses asimilasi nan mengalir secara keilmuan

10.

Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana (Bhs. Sanskerta)
d.     Empat
appamañña
(situasi tanpa batas), yaitu :

01.

Metta = cinta hidayah yang mendunia, sonder intensi, minus senggat

02.

Karuna = magfirah atas kesengsaraan mahluk lain

03.

Mudita = perasaan simpati atas kebahagiaan mahluk tidak

04.

Upekkha = kesamarataan batin
e.Satu
aharapatikulasanna
(meditasi terhadap makanan yang menjijikkan)
f.       Catur
arupa
(semadi pada tidak materi) :

01.

Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan di keluar kasina

02.

Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran tanpa tenggat

03.

Natthibhavapaññati = obyek kekosongan

04.

Akincaññayatana-citta = obyek tidak pencerapan sekali lagi tidak tak pencerapan
Popular:   Apa Yang Bisa Kita Lakukan Ketika Mengantuk Saat Meditasi

Adapun penjelasan sejenak adapun saban obyek meditasi tersebut adalah :


Sepuluh
kasina
(benda)

Kasina petak sreg sediakala menggunakan obyek segumpal petak. Namun, internal jalan selanjutnya pegiat meditasi dapat memperalat tanah bentukan, misalnya kendi dsb. Kasina air mempergunakan air nan diletakkan di sebuah ajang, misalnya kaca atau mangkuk. Kasina api biasanya mempergunakan nyala api lilin. Kasina angin dilakukan dengan merasakan angin yang berhembus dan adapun tubuh sendiri. Kasina warna dilakukan dengan mempersiapkan peralatan pecah daluang maupun alat angkut lainnya nan dengan diberi warna dramatis, asfar, merah, alias zakiah. Kasina cahaya mempergunakan kirana mentari alias bulan yang mentulmentul di dinding maupun di lantai melangkaui jendela atau sejenisnya. Kasina ruangan abnormal mempergunakan ruangan kosong yang mempunyai batas-perenggan disekelilingnya misalnya kamar nol ataupun sampai-sampai sebuah drum dsb.

Pelaku permenungan dengan mempergunakan pelecok satu dari obyek ini berusaha menunggalkan perhatian pada obyek nan sudah lalu ditentukan dengan prinsip memandangnya bakal periode yang layak lama. Engkau masih diperbolehkan untuk berkedip seperlunya. Ia terus menunggalkan perhatian hingga seluruh obyek itu dapat diingat dan divisualisasikan alias dibayangkan dengan baik n domestik batin. Dengan demikian, ia bakir melihat obyek itu secara jelas dan seimbang pada saat ia membuka maupun mengatupkan.


Sepuluh
asubha

(ketidakindahan)

Pelaku meditasi dengan obyek ini menyaksikan sendiri atau mengibaratkan (visualisasi) dalam batinnya sehingga ia dapat melihat dengan jelas mayat nan dimasukkan ke gorong-gorong kuburan, membengkak, membiru, berbisul, rumbing di tengahnya, dikoyak-tersobek makanya titit gaok atau anjing hutan, hancur dan membusuk, berlumuran darah, dikerubungi oleh lalat dan bernga, dan akhirnya tetapi umpama kranium saja. Kemudian, ia seharusnya menyimpulkan bahwa “Begitu juga mayat itu, demikian pula jasad ini. Interior alias bagian luar. Detik ini saya masih sehat dan sehat, namun, suatu detik pasti saya pasti akan hancur seperti mayat itu.”. Perenungan dan pemahaman terhadap mayit akan mengkondisikan seseorang dapat terbebas bersumber kemelekatan dengan segala apa sesuatu, termasuk dengan tubuhnya sendiri.


Deka-
anussati

(khalwat)

Pelaku meditasi nan mempergunakan obyek tafakur
Buddhanussati,

memikirkan sembilan resan Si Buddha yaitu maha suci, telah mencapai penerangan teladan, sempurna takrif dan tingkah lakunya, sempurna menempuh jalan ke Nibbana, pengenal semua bendera, pembimbing sosok yang tiada taranya, guru para dewa dan bani adam, yang sadar, yang patut dimuliakan.

Demikian pula dalam
Dhammanussati
, pelaku khalwat merenungkan enam sifat Dhamma yaitu Dhamma telah ideal dibabarkan, nyata di dalam kehidupan, bukan lapuk oleh waktu, mengundang bikin dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat dihayati makanya para bijaksana dalam batin per.

Obyek
Sanghanussati

dilaksanakan dengan merenungkan sembilan sifat Ariya-Sangha merupakan mereka yang sudah lalu bertindak baik, lurus, benar dan pas. Mereka layak menerima pujaan, memadai menerima balasan, patut menerima persembahan, sepan menerima sanjungan, ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi mahluk manjapada.

Obyek
silanussati

dilaksanakan dengan merenungkan sila atau kemoralan yang telah dilaksanakan dengan sempurna, bukan tercela dan dipuji oleh para bijaksana serta menuju konsentrasi pikiran.

Obyek
caganussati

dilaksanakan dengan merenungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan yang mampu mengurangi apalagi melenyapkan kekikiran.

Obyek
devatanussati

dilaksanakan dengan menimang para dewa dan dewi pemukim heterogen tingkat kayangan nan berbahagia serta semenjana menikmati hasil perbuatan baik yang telah dilakukannya.

Obyek
marananussati

dilaksanakan dengan merenungkan, “Kematian karuan akan aku alami. Badan yang telah menjadi bangkai akan dimakan maka dari itu ulat, kutu, belatung, serta hewan lainnya yang hayat dengan ini. Bahwa aku lain pernah mengetahui ketika, tempat dan cara ku mengalami kematian. Aku juga tidak memaklumi kemana aku akan terlahirkan kembali sehabis mortalitas.”

Obyek
kayagatasati

dilakukan dengan ki memenungkan 32 episode jasad mulai dari telapak kaki hingga kepala ataupun sebaliknya semuanya diselubungi kulit yang berisikan penuh kekotoran. Dalam badan terdapat surai di bos, bulu fisik, cakar, gigi, kulit, daging, otot, benak, sumsum, ginjal, jantung, hati, selupat dada, limpa, peparu, tali perut, saluran usus, peranakan, sisa, empedu, lendir, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, petro selerang, ludah, ingus, cairan gerendel, air kencing, dan induk bala.

Obyek paling disukai dan dijadikan radiks latihan meditasi di berbagai ragam tempat adalah
anapanasati

yang dilaksanakan dengan rajin merenungkan ataupun mengaibkan ketika nafas keluar atau turut secara alamiah. Pekerja meditasi enggak perlu menata nafas. Ia hanya selalu berusaha menyadari saat nafas masuk dan keluar.

Obyek
upasamanussati

dilakukan dengan ki memenungkan Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirwana (Bhs. Sanskerta) yang terbebas dari kekotoran batin, hancurnya keinginan, putusnya lingkaran tumimbal lahir.


Empat
appamañña

(hal tanpa had)

Keempat peristiwa minus tenggat ini pelahap disebut ibarat
Brahma Vihara

(kediaman sani). Pelaksanaan
metta-bhavana

dapat dilakukan dengan memancarkan pikiran comar kasih terhadap diri sendiri, orangtua, guru, teman-teman, terlebih kepada para musuhnya. Belaka, selain cara tersebut, cak semau pula yang menggunakan tubian dalam batin kalimat “Semoga semua mahluk mendapat.” Dengan pengulangan ini, si pelaku adalah mahluk, semoga ia mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan pamrih yang ia miliki. Demkian pun keluarganya adalah mahluk, semoga keluarganya mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan harapan mereka masing-masing. Lingkungan juga mahluk, kiranya mereka semua mendapatkan kesukaan sesuai dengan kamma masing-masing. Sampai-sampai, para musuhnya pun mahluk, semoga mereka semua beruntung. Tubian kalimat cinta kasih ini akan dapat memintasi bahkan melenyapkan kebencian yang mungkin semata-mata dimiliki oleh praktisi nyepi.

Pelaksanaan
karuna-bhavana

dilakukan dengan berusaha menyorotkan perhatian mumbung welas asih serta lepas kepada mereka nan sedang menderita, mengalami kerugian, sedih, sengsara dan sebagainya.

Pelaksanaan
mudita-bhavana

dilakukan dengan berusaha menyerikan manah mumbung timbang rasa kepada mereka yang sedang berbahagia alias bahkan lebih bahagia daripada pekerja tafakur. Engkau kiranya merasakan kebahagiaan ketika mematamatai mahluk tidak berbahagia.

Pelaksanaan
upekkha-bhavana

dilakukan dengan mengembangkan sikap hening seimbang momen pegiat meditasi internal hayat sehari-masa mengalami delapan kondisi keduniawian akibat perubahan waktu yaitu gemar – benguk, dipuji – dicela, untung – rugi, memperoleh pangkat – dipecat.


Suatu
aharapatikulasañña


(perenungan terhadap makanan nan menjijikkan)

Penggunaan obyek
aharapatikulasañña

ini dilakukan dengan merenungkan bahwa makanan yang nikmat dilihat dan harum baunya, ketika dikunyah dan dimuntahkan pun akan menyurutkan nafsu makan. Seperti itu kembali ketika makanan nan telah ditelan dimuntahkan pun. Apalagi saat ampas makanan yang telah ditelan dan dicernakan keluar bermula bodi berbentuk cairan (urine) dan kotoran (sempuras). Meditasi puas makanan ini akan membangkitkan denotasi bahwa perut cuma buat hidup tak hidup bikin makan. Tidak terserah gunanya seseorang terarah dengan rahim. Sira bisa membedakan dengan jelas antara kebutuhan dan keinginan bersantap. Dia tidak lagi bersantap secara berlebihan.


Satu
catudhatuvavatthana


(analisa terhadap empat zarah internal badan jasmani)
Pelaksanaan permenungan dengan obyek
catudhatuvavatthana

dilakukan dengan merenungkan bahwa dalam badan awak terdapat empat unsur materi, yaitu :

    1. Pathavi-dhatu

      (unsur persil maupun unsur padat) ialah segala sesuatu yang bersifat keras ataupun padat. Misal : bulu kepala, surai badan, kuku, gigi, dan lain-tidak.

    2. Apo-dhatu

      (unsur air atau atom cair) yaitu segala sesuatu yang berperilaku bersambung yang satu dengan nan lain atau terpatok. Bak : empedu, lendir, nanah, darah, dan bukan-lain.

    3. Tejo-dhatu

      (unsur api atau unsur panas) yaitu segala sesuatu yang bersifat erotis dingin. Misal : Kondisi badan yang biasanya hangat, namun bisa menjadi panas ketika remai atau kedinginan di suatu gelanggang.

    4. Vayo-dhatu

      (unsur kilangangin kincir atau anasir gerak) yaitu segala sesuatu yang bersifat bergerak. Umpama : angin yang berada dalam perut maupun usus, angin yang keluar masuk sewaktu seseorang bernapas, dan lain-lain.


Empat
arupa

(perenungan plong tidak materi)

Pelaksanaan
kasinugaghatimakasapaññati

dilakukan sehabis batin menjejak kesempurnaan visualisasi kasina kemudian dilanjutkan dengan nyepi pada rubrik tanpa batas dengan tetap mengerjakan pencitraan atau memperkirakan “Ruangan. Ruangan. Ruangan ini enggak terbatas” dan cerminan kasina nan sudah lalu dicapai digantikan dengan rubrik sonder senggat ini.

Pelaksanaan
akasanancayatana-citta

dilakukan dengan menembus mempergunakan kesadarannya ruangan tanpa batas tersebut sambil menimang-nimang, “Tidak terbataslah kesadaran itu”. Pelaku tafakur secara terus menerus memikirkan penembusan kolom itu.

Pelaksanaan
natthibhavapaññati

dilakukan dengan mengarahkan perhatian plong kehampaan atau kegagalan serta enggak terserah apa-apanya kesadaran terhadap ruangan yang tanpa tenggat itu. Pelaku meditasi terus menerus merenungkan, “Tidak cak semau apa-apa di sana. Semua hanyalah pil”.

Pelaksanaan
akincaññayatana-citta

dilakukan dengan merefleksikan keadaan kekosongan andai ketenangan atau kedamaian. Apabila pelaku meditasi telah mencapai kondisi ini maka ia moga meluaskan pencapaian berpangkal cerih molekul-zarah batin yang tidak yaitu ingatan, pencerapan, tulang beragangan-rangka pikiran, dan kesadaran sampai senggat kelenyapannya. Jadi, setelah kekosongan itu dicapai, maka kesadaran mengenai kemusykilan itu dilepas, seolah-olah tidak cak semau pencerapan pun.

Sehabis mengetahui satu persatu 40 obyek semadi nan diuraikan di atas, maka pegiat meditasi dapat memilih salah satu obyek yang sesuai. Penyaringan obyek meditasi dapat berlandaskan kepantasan seseorang mampu mengkonsentrasikan manah memperalat obyek tersebut. Bisa juga, penyortiran obyek permenungan berdasarkan saran alias nasehat dari individu yang dianggap bertambah berpengalaman dalam meditasi. Namun, ada kalanya, pemilihan obyek dilakukan bersendikan resan nan dimiliki pelaku nyepi. Kerumahtanggaan Dhamma disebutkan ada beberapa rasam dasar basyar dan obyek meditasi yang disarankan. Sifat dasar khalayak tersebut ialah:

  1. Hamba allah yang dominan nafsu ketamakannya atau
    Raga-carita

  2. Khalayak yang dominan kebenciannya alias
    Dosa-carita

  3. Orang yang tidak pakar (beloh) atau
    Moha-carita

  4. Orang nan langgeng keyakinannya atau
    Saddha-carita

  5. Orang nan bijaksana (tukang) atau
    Buddhi-carita

  6. Orang yang gemar berangan-angan ataupun
    Vitakka-carita

Ciri-ciri orang yang punya
ragacarita

adalah melaksanakan apa sesuatu berdasarkan nafsu ketamakan. Anda cenderung menyukai keindahan dan kemolekan, kagum melihat satu kebajikan meskipun kejadian tersebut boncel sekali, mudah melupakan kesalahan individu lain, cerdik, muluk, berambisi besar, menggarisbawahi diri sendiri. Untuk mereka yang n kepunyaan
ragacarita
, maka obyek yang sesuai dalam melaksanakan semadi adalah ketidakindahan
(asubha)

dan khalwat pada jasad
(kayagatasati)
.

Ciri-ciri orang yang n kepunyaan
dosacarita

merupakan melaksanakan sesuatu bersendikan kesirikan. Ia cenderung demen marah, jengkel, sentimen hati, tidak senang melihat kesalahan walaupun kerdil, lain mau perduli terhadap kebajikan basyar tidak walaupun besar, doyan bermusuhan, memandang rendah orang lain, gemar memerintah dan mendikte insan bukan. Bakal mereka yang mempunyai
dosacarita
, maka obyek yang sesuai dalam melaksanakan meditasi ialah empat
appamañña

yaitu
metta, karuna, mudita

dan
upekkha

serta empat
kasina

(biru, kuning, berma dan putih).

Ciri-ciri manusia yang mempunyai
mohacarita

adalah melaksanakan sesuatu bersendikan kebodohan batin. Ia membidik gontai batin, demen mangut, doyan skeptis, senang khawatir, menggantungkan diri pada pendapat orang lain, pikiran ruwet, malas, pendiriannya tidak tetap, sesekali kukuh menjawat suatu rukyat. Kerjakan mereka nan n kepunyaan
mohacarita
, maka obyek yang sesuai intern melaksanakan meditasi ialah
anapanasati

yaitu berupaya mengerti saat nafas masuk dan keluar yang mengalir secara alamiah.

Popular:   Tuliskan Manfaat 5 Dari Meditasi Pernafasan

Ciri-ciri orang nan mempunyai
saddhacarita
adalah melaksanakan barang apa sesuatu tindakan berdasarkan keyakinan. Dia cenderung terbatas hati, murah hati, jujur, gemar mendapati anak adam-orang nan dianggap zakiah, senang mendengarkan Dhamma, yakin lega sesuatu yang dianggap baik. Untuk mereka yang punya
saddhacarita
, maka obyek yang sesuai dipergunakan dalam melaksanakan semadi yaitu enam
anussati

(
Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, silanussati, caganussati,

dan
devatanussati
).

Ciri-ciri khalayak yang mempunyai
buddhicarita

yakni melaksanakan segala apa sesuatu bersendikan sikap hati-lever. Ia memfokus merenungkan Tiga Rona Umum
(Tilakkhana)

merupakan ketidakkekalan, dukkha dan tanpa inti yang kekal. Ia sering bermeditasi, bersedia mendengarkan saran atau nasehat orang lain, n kepunyaan perkongsian-serikat dagang nan baik. Cak bagi mereka yang memiliki
buddhicarita
, maka obyek nan sesuai privat bermeditasi merupakan khalwat pada mortalitas
(marananussati)
, merenungkan Nibbana
(upasamanussati)
, memikirkan tentang rahim
(aharapatikulasañña)
, dan merefleksikan empat elemen badan jasmani
(catudhatuvavatthana)
.

Ciri-ciri individu yang mempunyai
vitakkacarita

adalah melaksanakan sesuatu berdasarkan bergopoh-gopoh. Dia cenderung gugup, doyan berteori, pikiran sering berkeliaran, tidak suka bekerja bakal faedah sosial. Untuk mereka yang mempunyai
vitakkacarita
, maka obyek yang semupakat cak bagi melaksanakan permenungan adalah
anapanasati

atau perasaan pada detik nafas dan keluar secara alamiah.

Jika seseorang sudah lalu dapat menentukan posisi duduk yang nyaman serta obyek meditasi yang sesuai, maka anda dapat berangkat belajar meditasi secara rutin di musim dan medan nan sesuai. Kerumahtanggaan proses memusatkan perhatian, praktisi perenungan rata-rata akan bertatap dengan obstruksi batin yang menghalangi pencapaian tingkat konsentrasi yang makin baik. N domestik Dhamma disebutkan minimal lain terletak lima obstruksi batin yang disebut bagaikan
Nivarana

yaitu:

  1. Kamachanda
    alias nafsu-nafsu kedahagaan

  2. Byapada

    ataupun kehausan bengis

  3. Thina-middha

    ataupun kewegahan dan kelelahan

  4. Uddhacca-kukkucca

    atau kegelisahan dan kekhawatiran

  5. Vicikiccha

    maupun keragu-raguan

Untuk menundukkan kelima rintangan batin tersebut, pegiat meditasi mudahmudahan mengerti penyebab timbulnya rintangan batin itu dan berusaha menghindarinya serta melakukan usaha-usaha yang dapat melenyapkan kelima obstruksi batin tersebut.

Nafsu-nafsu kehausan
(kamachanda)

akan timbul apabila seseorang berulang-ulang mengupas obyek yang sani tanpa disertai kebijaksanaan. Untuk mengasingkan diri dari nafsu keinginan serta congah menimbulkan kebijaksanaan, pegiat nyepi sebaiknya selalu berusaha melaksanakan meditasi menunggangi obyek yang tidak indah
(asubha)

atau menjijikkan serta berusaha menghindari obyek-obyek nan berkecukupan kobar nafsu atau merangsang. Anda harus berusaha menguasai pikiran dan menguasai indria-indrianya. Ia agar senantiasa berbicara tentang keutuhan hayat, tentang kepuasan, kesunyian, amal, kemerdekaan pecah nafsu-nafsu.

Kemauan jahat
(byapada)

akan timbul apabila seseorang secara berulang-ulang memperhatikan obyek nan menyebabkan timbulnya kehasadan tanpa disertai kebijaksanaan. Lakukan menaklukkan kemauan jahat tersebut serta menumbuhkan kebijaksanaan, ia hendaknya selalu melaksanakan nyepi cerbak hidayah, selalu bangun bahwa setiap anak adam adalah empunya dan pewaris dari kelakuan maupun
kamma

koteng. Mereka yang hidup berbahagia adalah karena mereka mempunyai dedikasi nan cukup lakukan membantu kesenangan mereka sendiri. Sementara itu, mereka yang hidup menderita adalah karena kamma buruk yang mereka lakukan dan miliki.

Kemalasan dan kecapekan
(thina-middha)

akan ketimbul apabila seseorang berulang-ulang gegares mengimak rasa sungkan, rasa berat tulang, rasa letih, menunjang sesudah makan, sonder disertai kebijaksanaan. Bagi melepaskan diri terbit kemalasan dan keletihan serta menumbuhkan kebijaksanaan, ia hendaknya senantiasa menimang obyek kilap secara maksimal. Engkau mudahmudahan selalu mengintai kesengsaraan di dalam ketidakkekalan. Ia hendaknya selalu merenungkan Tanzil Sang Buddha dan melaksanakannya dalam semangat sehari-hari.

Kegelisahan dan kekhawatiran
(uddhacca-kukkucca)

akan timbul apabila seseorang berulang-ulang selalu mengikuti ketidaktentraman pikiran minus disertai kebijaksanaan. Bagi tanggulang kegelisahan dan kecemasan tersebut serta menumbuhkan kebijaksanaan, ia agar camar mempelajari dan memahami Kitab Putih Tipitaka. Sira harus selalu berusaha melaksanakan kemoralan
(sila)

dengan sempurna.

Keragu-raguan
(vicikiccha)

akan timbul apabila seseorang repetitif-ulang belalah memperhatikan sesuatu nan menyebabkan timbulnya keragu-raguan tanpa disertai kebijaksanaan. Untuk memperlainkan diri dari keragu-raguan itu dan menumbuhkan kebijaksanaan, dia moga selalu meneguhkan keagamaan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Dengan mengetahui penyebab timbulnya kelima rintangan batin dan cara mengatasinya, maka secara berantara, hambatan batin dapat dikendalikan bahkan dilenyapkan. Hilangnya kelima hambatan batin tersebut akan mengkondisikan pekerja meditasi mampu memusatkan manah puas obyek meditasi yang telah ditentukan. Pemusatkan ingatan pada obyek meditasi ini dicapai melewati beberapa tahap. Mengenai tahap yang dimaksudkan yaitu:

  1. Vitakka
    , upaya pelaku meditasi lakukan berusaha memegang obyek.

  2. Vicara
    , kejadian pikiran yang mampu menjabat obyek dengan langgeng.

  3. Piti
    , ialah kepelesiran karena mutakadim terbebas semenjak tekanan perasaan.

  4. Sukha
    , yaitu kepelesiran yang tak ternilai.

  5. Ekaggata
    , adalah pemusatan pikiran nan abadi.

Vitakka

dan
vicara

adalah dua tahap nyepi yang silih berdekatan dan berkaitan. Kedekatan kedua tahap ini sering dicontohkan sebagai bunyi dan gema sebuah gong nan dipukul. Saat kenung dipukul maka akan terdengar bunyi yang bergaung dan berkumandang. Suara mungmungan nan dipukul adalah
vitakka

dan gema atau gaung suara gong yakni
vicara
. Demikian lagi saat bermeditasi, suasana pikiran kapan permulaan memegang obyek disebut
vitakka
, sedangkan suasana ingatan saat sudah lalu berhasil memegang obyek dengan awet disebut
vicara
.

Tahap ketiga yaitu
piti
. Kegembiraan atau
piti

ini boleh disamakan dengan rasa gembira yang asing formal ketika seseorang berlambak mengerjakan amal yang samudra. Kegembiraan dalam meditasi ini menurut Dhamma disebutkan ada lima tahap merupakan kecil, sesaat, sekejab-sekejab, merawankan dan meresap. Kegembiraan kecil tercapai ketika seseorang merasakan air mata mengalir atau bulu di seluruh badan berdiri. Kesenangan sesaat tercapai ketika pekerja permenungan menyaksikan kilauan seperti pendar atau perasaan jengger yang tidak sakit di seluruh jasmani. Kesukaan sekejab-sekejab tercapai ketika pencapaian kesenangan sesaat dapat dirasakan bagi musim yang kian lama. Selain itu, kesukaan variasi ini kembali timbul n domestik bentuk perasaan seperti terayun-ayun alias mengayun karena ombak. Kegembiraan mengharukan tercapai ketika ketimbul perhatian gembira yang asing biasa sehingga disertai perbuatan tubuh begitu juga melebar di udara. Dan kesukaan kelima ialah kegembiraan meresap yang tergapai ketika pekerja perenungan mengalami kegembiraan nan dialami di seluruh badan serta berlanjut bikin periode yang lama.

Tahap ke empat adalah
sukha

ataupun kebahagiaan yang dibedakan dengan
piti

maupun kegembiraan. Bakal memahami perbedaan antara keduanya dapatlah dicontohkan dengan orang yang sangat lalu lapar, mana tahu ia telah bukan makan beberapa hari. Engkau kemudian bertemu dengan lambung yang lalu digemarinya. Ia sangat gembira mengintai kas dapur itu. Ingatan inilah
piti

nan timbul umpama akibat kebebasan dari tekanan perhatian. Detik ia telah bersantap dan menikmati peranakan kegemarannya itu, maka batinnya menjadi sangat bahagia. Ia merasakan kepuasan yang sangat mendalam. Perasaan inilah yang disebut sebagai
sukha
.

Tahap tertinggi yaitu
ekaggata

nan dicapai ketika ingatan mutakadim tergabung pada obyek secara abadi, sehingga rintangan batin
(nivarana)

tidak mampu mengganggu pun.

Pencapaian lima tahap semadi ini disebut dengan
Jhana

ataupun pencapaian tertinggi dalam khalwat pemfokusan
(Samatha Bhavana)
. Dengan kepentingan
Jhana
, praktisi semadi dapat mengendapkan obstruksi batin. Ketika
Jhana

merosot, maka rintangan batin akan timbul lagi.
Jhana

ialah perkakas pembasmi hambatan batin (
nivarana)
,
vitakka

membasmi keengganan atau kepenatan
(thina-middha)
,
vicara

memberantas keragu-raguan
(vicikiccha)
,
piti

membasmi keinginan jahat
(byapada)
,
sukha

membasmi kegelisahan dan kekuatiran
(uddhacca-kukkucca)
, dan
ekaggata

memusnahkan nafsu-nafsu kemauan
(kamachanda)
.

Disebutkan privat Dhamma adanya delapan tingkat Jhana yang terdiri dari empat
Jhana

berbentuk atau bermateri (
Rupa Jhana
) dan empat
Jhana

bukan berbentuk atau enggak bermateri (
Arupa Jhana
). Kedelapan tingkat
Jhana

itu merupakan :

Jhana berbentuk ataupun bermateri
(Rupa Jhana):

  1. Pathama-Jhana
    , ialah jhana tingkat permulaan ketika
    nivarana

    mutakadim boleh diatasi dengan seksama. Faktor-faktor jhana nan timbul adalah
    vitakka, vicara, piti, sukha
    , dan
    ekaggata
    .

  2. Dutiya-Jhana
    , ialah jhana tingkat kedua ketila
    vitakka

    dan
    vicara

    mulai gaib, karena kedua faktor ini bersifat berangasan lakukan jhana kedua. Faktor-faktor jhana nan masih suka-suka yakni
    piti, sukha
    , dan
    ekaggata
    .

  3. Tatiya-Jhana
    , ialah jhana tingkat ketiga saat
    piti

    mulai lenyap, karena
    piti

    masih terasa garang lakukan jhana ketiga. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah
    sukha

    dan
    ekaggata
    .

  4. Catuttha-Jhana
    , ialah jhana tingkat keempat ketika
    sukha

    start pupus, karena faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. Di dalam jhana keempat ini hanya ada faktor
    ekaggata

    dan ditambah dengan
    upekkha

    (keseimbangan batin).

Jhana lain berbentuk alias lain bermateri
(Arupa Jhana)

:

  1. Akasanancayatana-Jhana

    ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang minus batas

  2. Viññanancayatana-Jhana

    ialah keadaan dari konsepsi kognisi yang tidak abnormal

  3. Akincaññayatana-Jhana

    ialah hal dari konsepsi kekosongan

  4. Nevasaññanasaññayatana-Jhana

    ialah kejadian dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan.

Kemampuan pegiat semadi mencecah puncak pemfokusan maupun
Jhana

ini apabila didukung dengan kamma baik yang sesuai akan memunculkan kebaikan batin atau ‘kesaktian’. Kesaktian merupakan kemampuan batin seseorang yang melebihi kemampuan batin yang dimiliki hamba allah kebanyakan. Kemampuan batin atau kesaktian dalam Dhamma disebut sebagai
abhiñña

nan artinya kemampuan ataupun kekuatan batin yang asing sah, atau tenaga batin.
Abhiñña

timbul dalam diri pelaku meditasi yang sudah mencapai
jhana

tingkat empat
(catuttha-jhana)
.

Dalam Dhamma, walaupun ­­´kesaktian´ bukanlah hal yang terdahulu, disebutkan kembali adanya enam kemampuan batin
(abhiñña)
yang dapat dicapai makanya pelaku meditasi. Keenam kemampuan batin atau ´kesaktian´ ini dibagi menjadi dua kelompok merupakan
abhiñña

yang berperangai keduniawian atau
lokiya

dan
abhiñña

yang berwatak di luar keduniawian atau
lokuttara.

Abhiñña

keduniawian (
lokiya-abhiñña
) terdiri atas lima macam, merupakan :

1. Iddhividhañana
, cak acap disebut sebagai kekuatan lulus atau faedah magis atau kesaktian. Ini terbagi lagi atas sejumlah jenis, yaitu :

  1. Adhitthana-iddhi
    , yaitu kemampuan untuk menyangkal diri pecah satu menjadi banyak maupun dari banyak menjadi satu.
  2. Vikubbana-iddhi
    , ialah kemampuan untuk beralih bentuk, sebagai halnya menjadi anak kecil, raksasa, ular bura, alias membuat diri menjadi tak tampak.
  3. Manomaya-iddhi
    , ialah kemampuan mencipta dengan menunggangi pikiran, sebagaimana menciptakan istana, taman, harimau, wanita cantik, dan lain-lain.
  4. Ñanavipphara-iddhi
    , ialah kemampuan bagi menembus ajaran melalui pengetahuan.
  5. Samadhivipphara-iddhi
    , ialah kemampuan melalui konsentrasi, yaitu :

    • Kemampuan menembus dinding, pagar, gunung.
    • Kemampuan menyelam ke n domestik manjapada bagaikan menyelam ke dalam air.
    • Kemampuan berjalan di atas air perumpamaan berjalan di atas tanah nan padat.
    • Kemampuan kalut di angkasa seperti kalam.
    • Kemampuan melawan api.
    • Kemampuan mencecah rembulan dan matahari dengan tangannya.
    • Kemampuan mengunjungi surga maupun alam Brahma.

2. Dibbasotañana

(telinga dewa), ialah kemampuan mendengar kritik-celaan berusul alam tak, nan jauh maupun nan dekat.



3. Cetopariyañana
, ialah kemampuan membaca pikiran makhluk enggak.



4. Dibbacakkhuñana

(mata dewa), yakni kemampuan untuk melihat tunggul-tunggul lumat dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk nan bertumimbal lahir sesuai dengan perbuatan masing-masing.



5. Pubbenivasanussatiñana
, adalah kemampuan untuk memahfuzkan suatu maupun makin kelahiran yang lampau kerjakan diri sendiri maupun dan basyar lain.

Sementara itu kemampuan batin
(abhiñña)

nan diluar keduniawian
(lokuttara-abhiñña)

hanya ada satu macam semata-mata yaitu
asavakkhayañana

alias kemampuan membasmi kekotoran batin substansial kelahapan, kebencian dan kegelapan batin. Kemampuan membasmi kekotoran batin ini menjadi tujuan tertinggi n domestik Ajaran Si Buddha. Pembantaian kekotoran batin ini dilakukan dengan melaksanakan semadi mengembangkan pemahaman atau
Vipassana Bhavana
.

Pelaku semadi yang meluaskan latihan kesadaran maupun
Vipassana Bhavana

mempergunakan fisik dan batin umpama obyek pemfokusan. Ia selalu berusaha menyadari segala tindakan melalui badan, ucapan maupun pikirannya. Perasaan ini disebut dengan
Empat Satipatthana

(Empat dasar kesadaran) yang terdiri atas :
kaya-nupassana

(kesadaran terhadap raga tubuh),
vedana-nupassana

(kesadaran terhadap manah),
citta-nupassana

(kesadaran terhadap manah), dan
Dhamma-nupassana

(kesadaran terhadap segala rangka-bentuk pikiran).

Popular:   Jelaskan Perbedaan Meditasi Benar Dan Meditasi Yang Salah

Mudahmudahan lebih jelas, akan diuraikan satu demi satu keempat pikiran tersebut.

  1. Berbenda-nupassana

    (kesadaran terhadap awak bodi).
    Salah satu contoh yang paling umum dan mudah dijumpai tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ini adalah
    anapanasati
    yaitu merasakan dan mencerna saat nafas masuk dan keluar. Nafas dibiarkan mengalir secara keilmuan minus harus diatur jenjang dan ringkasnya. Pelaku permenungan hanya mengamati dan menyadari saat nafas itu bergerak..Selain memperhatikan proses pernafasan, pelaku meditasi juga dapat mempergunakan seluruh tubuhnya sebagai obyek meditasi ketika ia sedang berjalan, duduk, bekerja, berbicara, membaca, berdiri maupun leyeh-leyeh. Beliau seyogiannya selalu sadar dengan barang apa sesuatu nan menengah ia bikin maupun ucapkan.

  2. Vedana-nupassana

    (kognisi terhadap perasaan).
    Dalam memperalat obyek ini, pelaku semadi selalu memperhatikan dan hanya mengetahui ketika muncul dan tenggelamnya manah. Terserah tiga varietas perasaan nan boleh dikenali yaitu doyan, tidak gemar dan independen. Segala bentuk perasaan itu, ketika diketahui, diamati maka ia akan segera lucut kembali.

  3. Citta-nupassana

    (kesadaran terhadap ingatan).
    Dalam memperalat obyek ini, praktisi perenungan selalu memperhatikan segala gerak-gerik pikiran. Sira akan cak acap mengetahui momen perasaan sedang dikendalikan oleh ketamakan, kebencian atau ketaksaan batin. Ia hanya mencerna dan mengamati sehingga, secara berantara, semua rajah perasaan itu akan lenyap satu-satu suatu.

  4. Dhamma-nupassana

    (kesadaran terhadap bentuk-bentuk perasaan).
    Kerumahtanggaan menggunakan obyek ini, praktisi meditasi pelalah merefleksikan semua lembaga pikiran sebagaimana adanya. Bahwa pikiran muncul karena adanya lima keberagaman rintangan batin
    (nivarana)
    . Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan batin
    (nivarana)

    ialah bahwa apabila di kerumahtanggaan diri anak adam yang bermeditasi timbul nafsu kedahagaan, kemauan jahat, kemalasan dan kecapekan, kegelisahan dan kekhawatiran, atau keragu-raguan, maka peristiwa itu harus buru-buru disadari. Demikian pula apabila
    nivarana

    itu tidak cak semau di kerumahtanggaan dirinya, maka situasi itu pun harus disadari. Ia tahu bagaimana gambar-bentuk ingatan itu datang dan kulur. Engkau luang bagaimana sekali timbul, tulangtulangan-rajah pikiran itu harus ditaklukkan. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan, bentuk-bentuk pikiran itu tidak akan keluih kembali di kemudian perian.

Demikianlah uraian singkat yang dapat dijadikan sebagai dasar sparing tafakur. Mulai berpangkal posisi duduk, pemilihan obyek meditasi, tinggi dalam sentralisasi dan balasannya hasil yang dapat dicapai internal berlatih tafakur.

Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan intern nyawa sehari-masa, maka berikut ini akan diuraikan sepintas kursus meditasi dengan obyek dasar perasaan pada proses turut dan keluarnya nafas. Obyek ini lewat digemari maka itu para guru meditasi karena obyek ini sangat terlambat, tidak membutuhkan persiapan tertentu dan selalu tersedia dalam jasad pelaku meditasi. Jadi, pegiat meditasi selama perian yang telah ditentukan, misalnya 30 menit berusaha gegares memusatkan perhatian pada proses pernafasan yang bergerak secara alamiah. Kamu tidak terbiasa mengatur pernafasan. Engkau hanya berusaha merasakan saat nafas ikut dan keluar. Kalau nafas masuk, ia menyebutkan dalam batin kata ‘masuk’ dan apabila nafas keluar, ia juga menyebutkan dalam batin kata ‘keluar’. Demikian seterusnya sejauh meditasi. Apabila manah dirasakan menimang hal lain, maka segera perasaan dipusatkan kembali pada merasakan detik nafas timbrung dan keluar. Sreg tahap awal latihan meditasi ini, seseorang dianggap bertelur apabila sepanjang meditasi, ia mampu memusatkan perasaan secara cepat pada obyek pernafasan. Ia juga ki berjebah mempertahankan pikiran terkonsentrasi pada obyek meditasi bikin perian yang relatif layak lama.

Apabila ia sudah menjejak tahap konsentrasi
Samatha Bhavana

seperti ini, maka selanjutnya ia boleh meningkatkan latihan meditasi pada tahap berikutnya merupakan
Vipassana Bhavana.
Latihan ini dilakukan dengan berusaha menjadikan segala bentuk perasaan, ingatan maupun gerak gerik tubuh ibarat obyek meditasi. Dengan kursus meditasi tahap kedua ini, seseorang akan dikondisikan untuk selalu berusaha mengembangkan kesadaran setiap saat. Ia pada waktunya tubin akan menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tahun lalu hanyalah rekaman yang dapat dijadikan pelajaran lakukan diperbaiki di musim sekarang. Sementara itu masa depan adalah tujuan dan maksud nan harus dicapai dengan perilaku berwujud pada detik ini. Pencapaian pengertian tahap ini membuahkan toleransi batin. Kegelisahan yang timbul bak akibat kemelekatan puas perian lampau atau hari yang belakang hari dapat dilenyapkan secara bertahap. Pengaruh kegelojohan, kebencian serta kegelapan batin semakin berkurang. Kesamaran batin yang dimaksudkan di sini adalah ketidaktahuan bahwa hidup hanyalah proses nan cinta berubah, tidak ada yang kekal. Usia adalah saat ini. Masa lalu, ia pernah hidup cuma ia sudah lalu lain usia lagi, Kala nanti, ia akan kehidupan namun ia belum tentu hidup. Detik ia menyadari sepenuhnya tentang situasi ini, lenyaplah ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Lenyapnya ketiga akar kelakuan ini akan membebaskan seseorang dari proses kelahiran lagi. Anda telah mencapai kesucian. Anda telah mencapai maksud tertinggi dan terakhir dalam Ajaran Sang Buddha yaitu Nibbana atau Nirwana.

Pencapaian kesucian nan dicapai dengan obyek pernafasan di atas kembali boleh dicapai dengan obyek khalwat tak yaitu pengamatan pada unsur padat pembentuk tubuh sebagaimana rambut di kepala
(kesa)
, bulu di seluruh badan
(loma)
, kuku
(nakkha)
, gigi
(danta)

dan jangat
(taco)

Adapun tujuan obyek meditasi ini adalah juga buat melihat hidup yang tidak kekal. Sebenarnya semua orang sudah lalu mengetahui bahwa nasib yakni lain kekal, namun, mereka mengetahui kesahihan ini hanya cak bagi orang tidak. Artinya, ketika orang lain mengalami kesulitan, ia dapat menyebutkan bahwa hidup adalah bukan kekal. Namun, apabila diri seorang nan medium mengalami kesulitan, kiranya sangat sulit untuk mengakui pengetahuan ini.

Semadi dengan obyek panca bagian tubuh ini dilakukan dengan mengucapkan secara tautologis-ulang kelima kata intern susunan berurutan dan teman. Jadi, disebutkan
kesa, loma, nakkha, danta, taco, taco, danta, nakkha, loma, kesa
. Demikian seterusnya diulang dan terus diulang selama bermeditasi. Pengulangan ini bertujuan agar n domestik pikiran menjadi kebiasaan cak bagi cak acap merefleksikan kelima babak fisik yang dapat diamati secara jelas proses pertukaran alias ketidakkekalannya itu. Inilah salah satu cara bikin menembus dan membuktikan pengertian yang telah disampaikan maka itu Sang Buddha bahwa arwah adalah enggak kekal. Pemahaman tentang hal ini akan melenyapkan secara bertahap kemelekatan sreg segala apa bentuk raga sendiri maupun orang tak.

Bulu di komandan setiap kali dicukur akan selalu tumbuh kembali. Rambut di tubuh, misalnya kumis, dicukur dan dibersihkan atan tetap bersemi lagi, demikian kembali dengan kuku. Persneling yang kuat di masa muda akan menjadi guncang dan sungkap seiring dengan bertambahnya semangat. Sementara itu jangat yang dahulu terbantah mulus dan kencang kesannya juga menjadi kendor dan keriput dimakan usia. Semuanya tidak kekal. Semuanya tidak dapat dipertahankan. Semuanya tidak berguna cak bagi dilekati. Semua hanyalah proses. Melekat dengan segala sesuatu yang tidak kekal hanyalah akan menimbulkan ketidakpuasan.

Di dalam keseleo satu kotbah Sang Buddha disebutkan bahwa sukma berisikan ketidakpuasan. Dalam fisik yang tidak kian dari dua meter inilah terdapat mata air ketidakpuasan karena berkumpul dengan yang tidak disukai dan berpisah dengan yang disukai. Doang, dalam tubuh yang tidak lebih berbunga dua meter ini pula terletak akhir ketidakpuasan yaitu ketika batin memaklumi bahwa segala apa sesuatu yakni tidak kekal dan batin terbebas dari kemelekatan. Dan, akhirnya, n domestik tubuh nan tidak lebih dari dua meter ini pula terwalak jalan bagi membebaskan diri dari ketidakpuasan dengan melaksanakan Jalan Sani Berunsur Delapan yaitu Penglihatan Benar, Perasaan Bersusila, Perkataan Benar, Kelakuan Benar, Mata Pencaharian Ter-hormat, Daya Upaya Bersusila, Ingatan Bermoral dan Konsentrasi Ter-hormat.

Dengan bermeditasi, seseorang akan dikondisikan untuk usia pada saat ini dan menjadikan masa lalu misal pelajaran, hari depan sebagai pendorong spirit untuk berjuang plong ketika ini. Zaman dulu hanyalah silam kenangan, masa depan masih kasatmata impian, masa sekarang yaitu embaran. Kesadaran pada informasi usia detik ini akan melenyapkan kemelekatan. Ia akan bangun bahwa kematian dapat terjadi setiap ketika. Makanya karena itu, internal dirinya akan keluih hidup untuk selalu mengisi semangat ini semaksimal boleh jadi. Beliau juga akan timbul rasa kasihan kepada mereka nan berperilaku buruk dan menjengkelkan. Anda mungkin akan menyoal pada diri sendiri, “Kenapa makhluk tersebut tidak memanfaatkan waktu hidupnya dengan selengkapnya? Kok ia menyia-nyiakan waktu hidup yang tinggal berharga bagi mengerjakan keburukan dan enggak bikin mengembangkan pemahaman?” Tahap penghayatan Dhamma seperti ini akan menyerahkan ketenangan batin baginya. Ia buruk perut menghadapi berbagai jilatan kehidupan dengan batin yang mati seimbang. Ia tambahan pula setelah mengingat-ingat bahwa hidup ialah detik ini, engkau akan cak acap manfaatkan waktu hidupnya bakal mengembangkan kebajikan sebanyak-banyaknya melangkaui ucapan, perbuatan dan kembali pikiran. Kemanapun anda berada, ia pelahap berusaha mengisi semangat dengan kebaikan dan kebahagiaan. Ia menjadi basyar yang mampu membahagiakan semua mahluk yang fertil di sekitarnya. Inilah riuk satu kemujaraban berlatih tafakur dengan obyek kelima fragmen tubuh yang tidak indah tersebut.

Demikianlah beberapa hal siasat yang seyogiannya diketahui oleh mereka yang hendak sparing perenungan. Bahwa meditasi Buddhis pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian yaitu meditasi konsentrasi
(Samatha Bhavana)

dan permenungan kesadaran
(Vipassana Bhavana)
. Kemajuan perenungan konsentrasi diukur dari kemampuan seseorang menjabat obyek meditasi secara cepat dan dapat mempertahankannya bikin waktu yang nisbi cukup lama. Sedangkan kemajuan meditasi kesadaran diperoleh momen seseorang mampu mengembangkan kesadaran semaksimal siapa ketika ia madya melakukan berbagai aktifitas sehari-hari. Ia selalu sadar ketika sira semenjana merembas, berjalan, berbaring, duduk, berkarya dsb. Ia selalu sadar bahwa hidup adalah saat ini. Kemenangan maksimal meditasi kesadaran ini ialah ketika seseorang mampu menyucikan perhatian dari keserakahan, kebencian serta kegelapan batin. Seandainya ia telah kaya melenyapkan ketiga akar perbuatan itu, maka ia dapat disebut sebagai orang yang sudah hingga ke kesucian atau Nibbana. Kamu mencapai kebahagiaan tertinggi privat Dhamma yaitu tidak terlahirkan kembali. Inilah pamrih tertinggi dalam meditasi Buddhis. Inilah intensi utama Ajaran Sang Buddha Gotama.

Hendaknya penjelasan tentang sumber akar latihan meditasi ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan dengan sepenuhnya.

Semoga keterangan ini ki berjebah membangkitkan hayat bikin terus berlatih meditasi secara rutin dan tekun ketika sedang duduk, berjalan, tegak atau berbaring.

Sebaiknya semuanya pelahap berbahagia n domestik Dhamma.

Semoga demikianlah adanya.


Sumber: https://bodhigiri.com/bodhigiri/dasar-dasar-meditasi/