Tempat Berlatih Meditasi Pada Zaman Buddha Adalah

Khalwat BUDDHIS

JALAN Mendatangi Toleransi
DAN KEBERSIHAN BATIN

Judul Masif : Buddhis Meditation
Oleh Piyadassi Thera

Bersabdalah Si Buddha Gotama

“Sekarang saya katakan, Nigrodha, tidak mengharapkan untuk memperoleh murid, tidak mengharapkan kamu bakal gagal privat mempelajari pengetahuan agama, tidak mengangankan dia untuk menghentikan kaidah dan larap hidupmu yang telah biasa kamu bagi, tak memaksakan padamu untuk menerima sesuatu laksana tidak baik dan tidak sempurna laksana engkau atau gurumu memandangnya, atau menganjurkan padamu lakukan memencilkan sesuatu yang engkau anggap baik dan juga dianggap baik maka itu gurumu. TIDAK DEMIKIAN.

“Hanya, Nigrodha, suka-suka beberapa kejadian yang tak baik, bengis, yang tidak disingkirkan (dilenyapkan), segala sesuatu yang bersangkutan dengan kekotoran batin. Bakal melenyapkan ini semua, maka aku mengajarkan Dhamma; berlakulah hidup sesuai dengan Dhamma, maka barang apa sesuatu yang bersangkut paut dengan kekotoran (batin) akan boleh dilenyapkan, dan sesuatu nan baik dapat dikembangkan, dan siapapun, baik waktu ini maupun kelak, gemuk mencapai dan menjiwai dengan penuh kebijaksanaan.”

(Udumbarika-sihanada Sutta, D.Kaki langit., 25)

Khalwat BUDDHIS

Kronologi Memfokus Ketenangan dan Kebersihan Batin.

Dua mili lima dupa musim yang lampau, seorang putra mahkota pada jiwa dua puluh sembilan tahun, saat seseorang berpunya di puncak kegemilangan nyawa, telah meninggalkan tahta yang penuh dengan kemegahan dan kekuasaan dan memencilkan menyendiri ke hutan menjauhi keduniawian mengejar obat lakukan mengatasi kelainan vitalitas, mencari jalan keluar dari belenggu ketidakpastian untuk mencapai Nibbana.

Di bawah bimbingan para ahli meditasi pada zaman itu, beliau mencari dengan harapan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan ke arah pembebasan dan kebijaksanaan; beliau melatih konsentrasi, pemfokusan perhatian (samatha
atau
samadhi) dan telah mencapai tingkat-tingkat teratas berusul latihan-latihan tersebut. Namun sira merasa bukan lega dengan semua itu karena tidak menghasilkan Penerangan Agung. Pesiaran dan kemampuan guru beliau cenderung puas klenik dan hasilnya enggak memuaskannya bagi mencari segala apa yang masih belum diketahuinya.

Menjadi kepercayaan di India plong zaman itu, terutama di gudi para ahli kebatinan (ascetic), bahwa penyucian batin dan otonomi akhir batin dapat diperoleh dengan melatih diri secara keras, seandainya perlu dengan menyengsarakan diri. Beliau mengakhirkan bikin membuktikan kebenarannya. Beliau mulai berjuang cak bagi melatih jasmaninya dengan harapan, sebaiknya batinnya boleh mengatasi jasmaninya dan mampu membebaskan dirinya. Dengan amat benar-benar dan pelahap kamu berlatih. Beliau belaka hidup dengan bersantap dedaunan, akar-akar pohon kemudian mengurangi jumlah rahim sehingga amat minim, pakaiannya sangat bersahaja yang dihimpunnya berpangkal sampah buangan dan tidur di antara batang atau di atas duri. Kehilangan makan dan minuman membuat jasmani beliau suntuk lemah.

Selama enam masa lamanya beliau berjuang sedemikian kerasnya sampai akrab mendekati pintu ajal, hanya pamrih setia bukan tercapai. Cara menyiksa diri jelas baginya tidak berarti melintasi pengalamannya sendiri. Percobaan dengan cara seperti mana itu ternyata gagal. Namun ia lain terbang arwah. Dengan pikiran nan awet dan kemauan yang membara, beliau mencari jalan tidak untuk hingga ke intensi. Beliau berhenti menyiksa diri dan berpantang nan ekstrim itu dan kembali makan menenggak seperti biasa. Jasmani beliau yang telah lemah dan kurus itu kembali pada keadaan afiat sama dengan dulu. Beliau kini menyadari bahwa Jalan ke arah kesuksesan yang diidamkannya terletak pada investigasi ke dalam adalah akan kemurnian batin sendiri, sonder bantuan hawa, ia mengakhirkan untuk bertafakur menyendiri lakukan mencapai tujuan akhir.

Dengan bersila di radiks tanaman yang kemudian terkenal sebagai
pohon Bodhi
atau
pohon Penerangan Sempurna, di tepi sungai Neranjara, di Gaya (masa ini dikenal dengan sebutan Buddhagaya) suatu tempat yang sejuk dan mendorong kemantapan batin dan dengan tekad yang memupuk : ‘Sekalipun badanku dahulu selerang dan tulang serta darahku meringkai, aku takkan meninggalkan tempat ini sebelum menjejak Penerangan Sempurna’. Sejenis itu mantap usahanya, sedemikian itu lestari pengabdiannya, begitu keras tekadnya kerumahtanggaan mencapai kebenaran dan memperoleh Kebijaksanaan Teratas.

Dengan akhir pandangan seperti itu, beliau menyelusuri kedalaman batinnya cak bagi mengejar pendirian semadi yang boleh memberi ketenangan mutlak, penerangan dan independensi. Dengan cara
Ana-apana-sati, beliau mencapai dan memasuki
Jhana
purwa (hasil kedalaman semadi yang disebut juga Dhyana –
Sankrt, suatu istilah yang sukar diterjemahkan). Secara sedikit berangsur-angsur engkau mencecah dan memasuki Jhana kedua, ketiga dan keempat. Dengan demikian sira mempersiapkan diri membersihkan kekotoran batin nan masih melekat dan mampu berekspansi Pandangan Terang (Vipassana bhavana), Pandangan Benar dan Kebijaksanaan Mutlak, yang membuat orang berlimpah memandang sesuatu sebagaimana adanya dengan mengetahui ketiga dandan masyarakat (Tilakkhana) atau tiga resan dari apa saja yang saling terkait yaitu
anicca,
dukkha
dan
anatta. Dengan Pandangan Kilat ini, dengan penembusan nan bijaksana beliau mampu mengarifi dan mengetahui semua kesempurnaannya, adalah yang disebut sebagai
Empat Kesunyataan Luhur
tentang kesengsaraan, sebab musababnya, lenyapnya dan prinsip mengakhiri.

Dengan mengetahui kesunyataan tersebut maka batinNya terbebas terbit segala akar tunjang atau pertalian kenikmatan indriya (kama-asava), hajat batin nyawa (bhava–asava), kesamaran batin (avijja–asava). Spontan batin terbebas dari mereka, segeralah tumbuh pengetahuan dan pengertian : ‘Pandangan Benar kulur padaku, tak teruit kebebasan batinku. Inilah kelahiranku yang ragil, tiada kelahiran lagi cak bagi seterusnya bagiku, bukan terserah hasrat buat menjadi’.

Yamtuan India ini dengan pribadi dinamis, lain lain yakni
Sakyamuni Siddharta Gautama
(Siddhattha Gotama), Sang Buddha.

Musim telah berlalu dan Sang Buddha gelagatnya tidak pergi jauh dari kita. Perbuatan nabi nabi muhammad Sang Buddha masih berkumandang di telinga kita dan mengatakan, agar kita jangan lari dari penangkisan namun harus tenang menghadapinya, dengan memandang bahwa justru kehidupan ini membagi kesempatan untuk kita bakal berkembang dan maju. Kepribadian masih berfaedah sejak terlampau hingga kini, dan seseorang yang memikirkan kemanusiaan seperti Sang Buddha yang bahkan hingga momen ini masih terasa semangat dan membangkitkan semangat, pastilah basyar yang menakjubkan.

‘Pesan Sang Buddha diucapkan beribu-ribu musim nan habis namun selalu baru dan nirmala kerjakan mereka yang melatih diri dalam kerohanian, menyentuh pandangan kaum intelek dan meresap ke lubuk hati masyarakat’.

Dunia YANG SEDANG BERUBAH

Meditasi Buddhis merupakan inti semenjak Tanzil Sang Buddha. Karena subjek ini amat padat, saya mengusulkan lakukan ceratai sejumlah segi saja, khususnya yang bertalian dengan
Satipatthana, yaitu cara pengembangan perhatian terpusat atau terarah.

Di zaman sekarang, lain zaman secebir abad nan lewat, pendapat tentang kebaikan dan karas hati berubah-ubah dengan cepat, usaha kearah jalan budi pekerti dan yang lain baik berlainan-beda; sebagaimana cara pendekatan dan pandangan umum tentang khalayak serta benda juga amat berbeda-beda.

Kita arwah di zaman serba raba-rubu dan menuntut kecepatan. Dimana-mana terserah ketegangan. Jika anda berdiri di ujung jalan dan memandang pada paras mereka yang sedang lewat maka terbantah bahwa mereka semua dijangkiti demam ketergesaan. Sebagian besar mereka menengah gelisah. Mereka mengantungi ketegangan. Karib semuanya menggambarkan ketergesaan di wajah mereka. Seperti itulah semangat dunia modern.

Dunia sekarang ditandai dengan kesibukan dan ketergesaan yang menghasilkan keputusan cepat dan kelakuan yang enggak bijak. Mereka berteriak di detik mereka bisa wicara secara biasa dan nan enggak bicara disertai ketegangan dan tekanan nan jebah untuk masa yang lama dan mengakhiri segala ucapannya dengan kelelahan yang menghabiskan tenaga. Semua keruncingan yaitu impitan dalam pandangan batiniah, dan krisis mempercepat ausnya proses jasmani. Lain jarang kelihatan seorang pengendara roda dengan cepat melarikan sepedanya begitu melihat lampu persilangan berwarna mentah. Orang yang histeris memandang suatu persoalan bahkan yang mungil seperti mana suatu keruncingan perumpamaan suatu gaham. Sebagai risikonya ia tidak bahagia dan tidak sirep.

Segi enggak semenjak semangat berbudaya ini yakni terlalu pekak. “Musik mengandung kelembutan”, introduksi mereka, namun dewasa ini justru musik nan lembut enggak lagi disenangi karena kurang bengal; bertambah bising dan nyaring musiknya maka bertambah disukai. Bagi individu nan hidup di metropolitan takkan punya waktu cak bagi menilai kebisingan karena sudah wajib. Celaan, tekanan nan ditimbulkan, banyak membuat kerugian berupa penyakit jantung, kanker, rebuk, batu syaraf, dan sulit tidur. Sebagian besar penyakit kita disebabkan oleh keadaan batin, kemelut yang dibawa serta hayat maju, kegelisahan ekonomi dan ketidaktenangan batin.

Kelesuan syaraf pada cucu adam semakin meningkat dengan cara hidup yang gegares tegang. Acapkali makhluk pulang dari pekerjaan dengan menunjukkan tanda kehabisan tenaga karena gelisah. Konsekuensinya adalah gerendel konsentrasi semakin menurun dan efektivitas kerja jasmaniah dan batin drop. Orang cepat berang dan doyan mengejar kesalahan orang enggak. Ia menjadi pemurung dan egois serta menderita tekanan sempit hati dan rumpil tidur. Gejala kelambanan menunjukkan bahwa orang modern memerlukan istirahat yang memadai secara batin maupun tubuh.

Perlu diperhatikan bahwa menjauhkan diri secara tertentu, yakni penarikan batin dan pikiran bersumber keruwetan roh amat teristiadat bagi kesehatan batin. Di manapun dan kapanpun ada kesempatan, pergilah keluar kota dan libatkan dirimu cak bagi menyendiri dan merenung, katakanlah sebagai yoga yaitu konsentrasi alias meditasi. Belajarlah merasakan keheningan yang amat berguna dan membawa kebaikan bagi kita. Salah sama sekali untuk berpendapat bahwa sekadar yang suka keributan dan kesibukan yang mempunyai kemampuan. Diam itu emas, dan kita plonco bersuara takdirnya mampu meningkatkan keadaan diam. Memperhatikan keheningan amatlah terdahulu. Rahasia kaya dan agung bekerja dalam hening. Dan kita lakukan keheningan ini dalam latihan meditasi kita. Sang Buddha bersabda :

“Oh para bhikkhu, kalau kalian sedang berkumpul, cak semau dua kejadian yang harus dilakukan, berlabun-labun adapun Dhamma atau mengaibkan keheningan nan agung”.

Angka Berbunga MENYENDIRI

Orang mesti dengan keributan dan berucap dan mereka merasa kesepian seandainya tidak bersabda dan dikucilkan. Belaka seandainya kita melatih diri dalam seni berdiam diri, maka pasti kita akan menyenanginya.
Pisahkanlah dan jauhkanlah dirimu bersumber kebisingan dan ketergesaan dan ingatlah bahwa suka-suka ketenteraman dalam kesepian. Sekali periode kita harus menghindari kesibukan agar mendapatkan keheningan. Ini merupakan satu hal damai dan mati di detik menyendiri, kita akan mengalami hakekat yang berguna berpokok ‘mengheningkan cipta’. Kita melakukan perjalanan ke dalam diri kita. Jika kita memasuki keadaan diam maka kita samasekali sendirian untuk mampu memeriksa diri kita koteng dan mampu mengawasi diri sendiri sebagaimana adanya, kemudian kita berlambak menuntaskan kelemahan diri dan keterbatasan kemampuan diri kerumahtanggaan pengalaman yang tertinggal.

Perian nan dipakai untuk menyendiri sepatutnya ada bukan suatu pengobralan, malahan menciptakan menjadikan pribadi kuat. Yang ini yakni suatu simpanan yang berharga akan datang bagi pencahanan kita sehari-perian dan kemajuannya, jika kita saban hari rani menyediakan waktu bikin menyendiri dan melakukan perenungan di keheningan. Sebenarnya hal ini sama sekali tak pelarian atau hidup berfantasi, namun prinsip terbaik kerjakan menguatkan perasaan dan menumbuhkan sifat-sifat baik puas manah/batin. Dengan menghayati pikiran koteng serta manah yang timbul maka turunan dapat mengetahui keistimewaan dan arti sesuatu dengan sebenarnya dan menemukan manfaat nan terdapat dalam diri.

Hamba allah modern mengejar kesenangan di luar dirinya nan kiranya dicari di privat dirinya koteng. Dia menjadi Ekstrovert. Kebahagiaan tak terletak di luar dirinya. Peradaban modern bukan yaitu satu berkah yang enggak campur aduk. Nampaknya manusia membawa marcapada luar ke dalam kekuasaannya. Ilmu keterangan dan teknologi seakan menjanjikan kesanggupannya membuat dunia menjadi satu keindraan. Kini di mana-mana orang sibuk sonder henti berusaha di dalam memperbaiki manjapada. Para ahli mengejar metode dan hasil percobaannya minus rasa jemu dan penuh keyakinan. Persuasi dan pertentangan manusia kerjakan boleh mengungkap rahasia alam berlanjut terus. Reka cipta bau kencur dan metode komunikasi serta korespondensi memberikan hasil yang mempesona. Semua perbaikan ini lamun bermakna dan bersifat khusus di bidang materi dan kerjakan asing batin manusia. Sekalipun sejenis itu, manusia bukan berkecukupan mengendalikan pikirannya sendiri, ia tidak menjadi makin baik dari ilmunya. Bagaimanapun di dalam gerak batin dan jasmani manusia nyatanya terwalak ketaknormalan yang bukan bernas diungkapkan sekalipun para ahli ilmu warta telah menyibukkan dirinya sejauh bertahun-tahun.

Popular:   Imajinasi Dan Meditasi Berguna Untuk Melatih

Orang selalu mencari kronologi keluar lakukan berbagai persoalannya, namun pelahap gagal, sebab metode dan pendekatannya keliru. Mereka mengasa bahwa seluruh persoalan bisa diatasi bersumber segi asing. Sebagian besar problema selayaknya berada di privat. Ia kulur terbit dunia di intern, oleh sebab itu pemecahannya harus dicari ke dalam pun.

Kita dengar bahwa orang yang mengupas pengotoran lingkungan mutakadim memperdengarkan keberatannya terhadap pencemaran udara, laut dan darat. Sekadar bagaimana dengan kontaminasi batin kita? Sebagaimana Sang Buddha menunjukkan: ‘Sejak lama batin manusia dikotori maka dari itu keserakahan, kesirikan dan kegoblokan batin. Kekotoran batin membentuk manusia tidak suci, pembersihan batin membuat mereka suci’. Roh secara Buddhis yaitu proses yang terus menerus berusul pembasuhan atas perbuatan, perkataan dan perhatian. Ini berupa usaha mengembangkan pemurnian diri koteng di privat menyucikan penyadaran diri. Penekanan suka-suka puas hasil-hasil praktis dan bukan sreg gambling kerohanian alias analisa akal sehat yang enggak nyata, maka itu karena itulah menjadi kebutuhan sehari-hari kerjakan belajar nyepi selincam yang bak seekor induk ayam nan semenjana mengerami telornya, sebab karib seluruh periode kita cuma dihabiskan bagai seekor tupai privat kandang yang berputar terus.

Meditasi bukan merupakan pelaksanaan kemarin maupun kini. Sejak dahulu rekata orang telah melakukannya dengan berbagai cara; para yogi, orang suci dan pencari Penerangan Hipotetis mulai sejak tiap zaman sudah melakukannya dan telah memperoleh hasilnya dan mencapainya melalui tafakur. Tak pernah terserah dan enggak mana tahu ada suatu pembentukan moral ataupun pembersihan batin minus melalui tafakur merupakan urut-urutan yang dipergunakan makanya Sang Buddha Sidharta Gotama bikin mencapai tingkat tertinggi dari Kebijaksanaan Mutlak.

Perenungan bukan hanya bagi India ataupun saja cak bagi zaman Sang Buddha, cuma untuk semua makhluk plong situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Batas kesukuan, agama, batas waktu maupun ulas tidaklah menjadi dok untuk mengerjakan meditasi.

Semua agama mengajarkan semacam meditasi bikin mengembangkan batin cucu adam yang bisa konkret berdoa bungkam atau membaca sendirian alias berbarengan Paritta atau doa tertentu atau berkonsentrasi puas suatu korban yang zakiah, baik objek orang atau ide. Dan diyakini bahwa latihan batin begitu kadangkala membentuk orang makmur mengaram bayangan orang jati atau madya terlibat berbicara dengan mereka atau mendengar suara atau performa yang meruap. Apakah semua itu khayal, ilusi, halusinasi belaka atau sekedar proyeksi bawah sadar alias gejala nan sungguh lain dapat dikatakan dengan pasti. Batin merupakan arti tersembunyi nan mampu menghasilkan gejala demikian.

Keadaan tak sadarkan diri sejauh ini dikembangkan oleh para yogi dan ahli perdukunan tertentu sampai menjadi sesuatu yang bukan baik dipandang. Namun mereka sendiri tidak merasakan apa-apa sama sekali. Kita telah menyaksikan turunan n domestik sikap semadi nan terperenyuk ke privat keadaan koma dan tampaknya kehilangan kiat pikir. Yang menyaksikan menjadi salah terka, jika berpendapat bahwa itu adalah suatu jenis meditasi (bhavana).

Kitab suci Buddhis memberi tahu bahwa dengan melalui kedalaman khalwat (Jhana maupun dhyana), dengan mengembangkan kemampuan batin maka insan akan mampu memperkembangkan keefektifan batin. Saja amat berfaedah untuk diingat, bahwa Jhana Buddhis seimbang sekali bukan suatu peristiwa menghipnotis kejadian diri sendiri alias satu keadaan penciptaan dengan koma (lupa diri). Jhana Buddhis merupakan keadaan batin yang bersih; gangguan nyata kedahagaan dan dorongan lever telah mereda hingga batin menyatu cak bagi lebih lanjut memberi keadaan kognisi dan ingatan yang sempurna.

Amat menarik untuk menuduh gejala demikian, para ahli penyelidik dan tukang jiwa dapat menerima dan membenarkannya. Pikiran terhadap pandangan radiks sadar (kemampuan atau daya serap indra keenam), puas terapan ilmu jiwa secara perlahan memperoleh dukungan dan hasil nan diperoleh di luar dari dugaan semula. Semuanya ini sebenarnya hanya aktual hasil sambilan nan tak begitu bermakna jika dibandingkan dengan kemerdekaan akhir seseorang nan terbebas mulai sejak segala nafsu dan jalinan kebendaan dan hasilnya berbuntut mencapai kebebasan mutlak.

Khalwat yang diajarkan di n domestik Agama Buddha tidak bertujuan bakal menyatukan diri dengan mahluk super ataupun buat memperoleh pengalaman perdukunan ataupun buat menghipnotis diri sendiri. Tujuan meditasi adalah untuk mencapai kesabaran batin (samatha) dan Rukyat Panah (vipassana), dengan tujuan penutup satu-satunya lakukan memperoleh keadaan batin yang tidak terpengaruh (akuppa ceto vimutti), jaminan tertinggi bikin terbebas pecah semua belenggu batin dengan mengikis lewat semua kekotoran batin. Tidak semua orang berada mencapai tingkatan yang tertinggi ini yang merupakan kedaulatan total dari batin, namun segala kegagalan tidak berfaedah, pangkal kita kukuh sungguh-sungguh dan bersungguh-sungguh serta berambisi baik. Mari kita usahakan dan jangan skeptis. Sepan berjasa untuk terus diusahakan. Pada suatu detik, walau tidak dalam umur yang saat ini, jikalau tetap tekun maka akan mencapai tingkat yang termulia.

Sekalipun kita gagal mencapai tingkat kebijaksanaan yang terala, kita akan tetap mendapatkan pahala dari propaganda kita. Masyarakat yang bergerak cepat memerlukan tafakur walaupun sedikit bakal melenyapkan keruncingan dan tekanan serta untuk bertahan terhadap perubahan nan dibawa kehidupan. Dengan permenungan kita dapat menuntaskan persoalan kita nan bersifat kerohanian ataupun problema yang berkenaan dengan kejiwaan seperti kegelisahan, emosi dan firasat; permenungan akan meningkatkan kedamaian dan ketabahan yang kita dambakan.

Perebutan DIRI DAN NARKOTIK

Si Buddha bersabda: ‘Sekalipun seseorang menaklukan seribu lawan, belaka bila anda kreatif menundukan dirinya koteng ia adalah orang ki akbar’. Ini tidak lain adalah pendudukan diri sendiri. Ini berarti tanggulang isi batin dan emosi yang kita sukai atau yang lain kita sukai. Milton, seorang penyair, mengumandangkan kata-prolog Si Buddha sebagai berikut: ‘Penaklukan diri seorang merupakan kekaisaran terbesar yang dapat diperoleh seseorang dan sebaliknya, bila kita memperturutkan keinginan akan menjadi budak yang menyedihkan’.

Pengendalian batin sendiri adalah kunci kegembiraan. Ini merupakan kekuatan di balik semua pencapaian. Setiap perbuatan yang tidak tertangani adalah sia-sia. Bila kita tak berkecukupan tanggulang diri, maka beraneka macam konflik akan timbul di dalam batin. Jika semua konflik harus dikendalikan, sekiranya tidak dihilangkan maka seseorang harus mengekang kerinduan, kecenderungan dan usahanya untuk hidup tertangani dan bersih. Tiap cucu adam menyadari manfaat kursus badaniah. Meskipun demikian kita tidak sekadar sekedar jasmani hanya, kita juga mempunyai pikiran nan memerlukan latihan. Kebahagiaan tergantung padanya.

Dari segala kekuatan maka kekuatan pikiranlah nan minimal hebat. Ia merupakan manfaat koteng. Kerjakan bisa mengerti rasam roh selayaknya, seseorang harus menyelidiki semua gerak batin yang terdalam, yang doang bisa diselami dengan instropeksi mendalam bersendikan keotentikan ragam dan semadi.

Mengingat-ingat manifesto ini, kian banyak orang dari mayapada Barat yang mempelajari Dhamma, Tajali Si Buddha. Telah dicapai suatu kerukunan di antara suku bangsa terbimbing Barat bahwa Agama Buddha adalah agama psikologi tertinggi, dan bahwa Agama Buddha paling mampu menyoroti dan menangani gerak yang rumit berpunca batin basyar dibanding dengan sistem pendekatan dan rukyah yang bukan.

Pandangan Agama Buddha adalah batin atau keadaan kita itu yaitu resep kesediaan kita. Semua pengalaman kejiwaan, sama dengan sedih dan senang, susah dan bahagia, baik dan buruk, nyawa dan mati…… tak disebabkan oleh sesuatu di asing diri. Semua ini yaitu hasil batin dan pikiran serta perbuatan kita koteng. Akhir-akhir ini seseorang telah menyelidiki gejala-gejala yang berkarakter rohaniah, suatu penekanan nan nampaknya kuak keistimewaan jadi-jadian batin cucu adam. Dorongan privat diri kerjakan mencari bimbingan batin, sedang meningkat. Ini merupakan pertanda yang baik.

Perasaan orang Barat terhadap cara berfikir juru yoga dan pemeditasi India telah meningkat secara mengagetkan. Alasannya tidak perlu jauh untuk dicari. Nampaknya ada perasaan bingung nan menumpuk pada manusia dimana-mana. Ingatan itu lebih tertentang pada muda. Mereka memaui jalan pintas nan cepat bakal menuntaskan kompleksitas dalam dunia yang bersifat materi ini. Mereka mendambakan kesejahteraan dan ketenangan.

Problema remaja tidak dapat dipecahkan dengan mandu dogmatis dari pelajaran agama bertahun-masa. Pernyataan-pernyataan yang menyangkut batin (ke dalam diri) tetap bukan terjawab. Nilai yang dilekatkan plong aspek materi atma amat dihargai maka dari itu manusia modern tampaknya bukan mampu dan tak berguna untuk menginterogasi batin. Problema umur dunia Barat pada dasarnya bersifat batiniah. Nyatanya pengetahuan, ilmu dan kemampuan teknologi di rataan materi lain subur membagi jawaban bagi problema dunia dan basyar. Jenis pengetahuan sedemikian itu hanyalah melipatgandakan problema yang ada.

Remaja yang menjadi penggemar obat bius merasa yakin untuk menemukan jawaban atas frustrasi batin mereka, saat ini mengarahkan diri mereka pada tutorial yoga dan meditasi. Jelaslah obat bius bukan ki berjebah berbuat apapun dibanding dengan hasil permenungan nan boleh kita gapai. Obat bius bukan merupakan pengalih meditasi nan bersusila di dalam mencari ketegaran batin dibanding menguatkannya.

Mayapada sudah dicengkram makanya gangguan baru berupa penyakit nan tidak tersembuhkan bakal mereka yang disentuhnya, terlebih mencelakakan mereka, serta keterjangkitan nan menjanjikan mimpi ke alam yang sani, menuju satu kehidupan nan minus arti dan maksud, suatu problem yang mengancam anak asuh-anak kita atau dunia teknologi atau abad bertamadun: perunding bius. Berjuta-juta remaja telah dihinggapinya, beribu-ribu dari mereka enggak dapat diselamatkan berasal kematian, ratusan ribu telah kecanduan dan hanya tersangkut serta terperangkap pada obat-obatan begitu juga ‘hasis’ nan menyebabkan kerusakan gembong dan berlanjut pada deteriorasi etik.

Terdapat bukti nan tidak dapat dibantah bahwa meditasi mampu merubah batin yang secara kejiwaan, pada gilirannya mempunyai surat berharga sampingan yang berjasa sekali. Berbagai usaha telah dilakukan bagi menilai sekuritas-sekuritas ini.

Dr. Herbert Benson nan melakukan investigasi terhadap meditasi selama suatu dasawarsa terutama sangat tertarik ketika mengetahui bahwa faktor–faktor kejiwaan alamiah mampu mempengaruhi jantung, impitan darah dan segi yang tidak berasal peredaran pembawaan dan fungsinya. Pendapat dan penyelidikannya dibukukan dengan kop: ‘The Relaxation Response’.

Studi yang dilakukan kerumahtanggaan Universitas Havard, Cambridge, Amerika Serikat dagang mengungkapkan bahwa ratusan remaja nan mengembat L.S.D. dan mengisap ganja sudah menghentikan semua itu setelah mengerjakan khalwat beberapa bulan.

MEDITASI DAN Perdukunan

Meditasi pasti enggak pengasingan sukarela dari kehidupan, atau satu usaha untuk hari depan (setelah mati). Semadi harus dilakukan n domestik roh sehari-hari dan kesannya didapatkan saat ini dan di sini juga. Ia tidak terpisah dari segala yang dilaksanakan dalam hidup sehari-musim, ia merupakan babak dari kehidupan kita. Kenyataan ini menjadi jelas jika kita mempelajari empat objek meditasi, ataupun penerapan berpunca Perhatian Bersusila (Satipatthana). Jika kita terbebas dari keributan semangat kota, bebas semenjak cengkraman kesibukan duniawi maka kita tak begitu kehilangan yuridiksi diri. Dan ini hanya mungkin bagi masyarakat yang berusaha untuk memeriksa kekeliruan seperti itu. Tafakur yang kita lakukan merupakan bantuan yang berarti agar kita mampu menghadapi semua ini dengan tabah. Dan jika kita mengabaikan nyepi maka hidup kehilangan arti, tujuan dan ilhamnya.

Ada suatu waktu di mana banyak bani adam berpendapat bahwa khalwat namun bakal pertapa, para yogi dan penghuni hutan. Kini pendapat itu berubah. Dewasa ini tampak meningkat minat atas meditasi. Sekiranya meditasi ini diartikan ibarat ketaatan dan pembudayaan batin maka lain usah dikatakan lagi bahwa semua insan harus melaksanakannya, tanpa memandang macam kelamin, bangsa, keturunan alias perbedaan yang lain.

Mahajana bertamadun internal bahaya dilanda pesona dan godaan nan namun subur diatasi dengan usaha nan rumit dan mantap internal melatih batin kita.

Memang diakui amat sulit bikin meninggalkan sifat berpikir dan berkelakuan, namun meditasi mampu mendukung kita buat mengatasi beban dari segala kesulitan hidup ini. Tujuan akhir pecah nyepi Buddhis adalah bikin menyentuh Kebijaksanaan Mutlak, Penguasaan diri sendiri dan Nibbana melalui penguasaan atas semua kotoran batin.

Doang terlepas dari tujuan penting tadi, ada keuntungan dan maslahat tidak yang bernas diraih dengan nyepi. Ia mengilhami kita bikin menemukan kepintaran, keluhuran alamiah kita dan bahwa kita berharga. Tafakur berpunya meredakan syaraf, mengendalikan atau menurunkan tekanan darah, membuat kita leha-leha dengan mengendorkan pemborosan tenaga akibat keruncingan syaraf, menyunting kesehatan dan cas badan.

Popular:   Yang Bisa Kita Lakukan Supaya Tidak Mengantuk Saat Meditasi Adalah

Dia kembali boleh sensual kekuatan nan tersembunyi dari batin, membantu berpikir jernih, berpengertian tekun, mempunyai batin yang seimbang dan sunyi. Terlebih beberapa komplikasi syaraf pun bisa disembuhkan. Kita dapat mempergunakan permenungan bakal menguasai keadaan dalam emosi. Tekanan batin mandraguna akan surat berharga dalih dari penawar-obatan. Meditasi menenangkan diri dan beberapa pengobatan yang tak bisa dipergunakan dengan berhasil terhadap beberapa penyakit kronis. Nyepi ialah suatu proses gemuk yang bertujuan merubah perasaan nan kalut dan pikiran yang tidak baik menjadi harmonis dan murni. Ia merupakan cara terapi yang silam bermanfaat bagi problema dunia bertamadun. Jika batin terjaga dengan meditasi maka engkau akan mampu menangkap sesuatu nan berada di asing jangkauan pencerapan seremonial. Semua manfaat ini dapat diperoleh dengan meditasi, tentu saja bukan langsung, namun lambat-laun melalui sistem yang sistematis.

Meditasi ialah pendirian hidup. Ia yaitu cara hidup nan universal, tak cuma sebagian. Tujuannya adalah mengembangkan manusia seutuhnya. Yuk kita berusaha keras untuk menjadi cermin dan tak usah menunggu zaman emas nan jemah. Enggak tak mungkin kerjakan kita untuk memperoleh apa yang benar-benar kita kehendaki dengan kemampuan batin nan terserah pada diri kita yakni kekuatan yang asing biasa pecah batin kita.

Permenungan merupakan gejala istimewa kehidupan manusia dan makanya sebab itu, harus didekati dari sudut pandang kemanusiaan dengan perasaan manusiawi dan pengertian kemanusiaan. Problema kehidupan dan jalan keluarnya pada dasarnya bersifat kejiwaan. Khalwat yang sebenarnya tidak ada hubungan sewaktu-waktu dengan mistik. Mereka sangat berbeda. Provisional perdukunan membawa kita pergi semenjak kenyataan kama, meditasi mendekatkan kita sreg kenyataan; sebab dengan meditasi kita akan mampu melihat khayalan dan halusinasi kita secara kontan. Ini membawa perubahan yang menyeluruh plong watak kita. Ini makin merupakan suatu nan tidak dipelajari. Kita harus pergi banyak hal yang telah kita pelajari dan anut dengan mencatat bahwa mereka saja merupakan penahan yang menggoda kita.

Semua problema kejiwaan berakar bersumber kebodohan dan pandangan pelecok. Ketidaktahuan adalah mahkota kesialan (avijja paramam lilin batik). Irihati, kebencian, kepongahan dan setumpuk cirit batin nan tidak berjalan bersamaan dengan kebodohan batin. Pemecahannya harus ditemukan di internal problema itu koteng dan agar kita tidak lari darinya. Coba periksa dan selidiki dan anda akan menemukan bahwa semuanya itu adalah problema atma. Maka dari itu karena itu janganlah menyalahkan semua ini disebabkan oleh mahluk lain. Persoalan kita yang selayaknya hanya bisa dipecahkan dengan memencilkan semua konsep ilegal dan bayangan khayal dan membawa hidup kita ke dalam keserasian dengan kenyataan dan ini saja dapat diperoleh dengan melampaui bermeditasi.

Kronologi Sani BERUNSUR Delapan

Dengan meninggalkan apa yang membentuk mabuk serta meningkatkan kewaspadaan, menstabilkan kesabaran dan menjaga kebersihan batin, para bijak melatih dirinya. Tidak seberapa elusif untuk yang memimpikan ketahanan jika lingkungannya menunjang, doang seandainya ki berjebah di lingkungan yang tidak sesuai amatlah sulitnya. Lebih lagi kesulitan seperti itu yang harus diatasi, sebab dengan demikian kita membangun karakter yang kuat.

Dengan melatih konsentrasi pikiran maka batin akan menjadi tenang. Dapatkah kita mencapinya? Jawabannya adalah : ‘Pasti’ – namun bagaimana caranya? Lain dengan mengamalkan ‘sesuatu nan hebat’. Mengapa orang asli itu hebat? Jawabannya adalah : mereka loyal bergembira bilamana yang sulit kerjakan berhiaskan, dan konsisten bersabar pada saat sulit buat mengelus dada. Mereka tetap bersemangat disaat mereka harus berusaha lakukan beralamat diri dan justru berdiam diri puas saat ingin berbicara. Itulah semua. Amat terlambat belaka maha sulit kerjakan terjamah. Suatu persoalan pembilasan batin…..!

Berusahalah terus dengan tanpa memangkal. Tiada seseorang bisa mencapai puncak argo dengan seketika. Perumpamaan seorang pandai ferum yang trampil mengeluarkan kotoran dari perak satu masing-masing suatu, demikianlah kita berusaha demi kesuksesan batin kita seorang.

Jalan nan ditunjukan para Buddha dan nan berhasil dari barang apa jaman bagi menumbuhkan dan berekspansi batin yakni meditasi dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Urut-urutan mulia ini terbagi atas tiga putaran:
Sila
(kemoralan),
Samadhi
dan
Pañña
(kebijaksanaan) yang yaitu satu-satunya mandu. Tidak ada jalan pintas enggak cak bagi menuju Penyorotan Sempurna. Jalan ini lalu khas Buddhis. Enggak ada satupun Tanzil Agama maupun filsafat lain yang berlambak dipertandingkan dengannya.

Semua bimbingan nan bersifat praktis yang ditunjukkan makanya Sang Buddha bakal melenyapkan konflik batin nan disebabkan oleh ketidakpuasan arwah, dapat ditemukan di internal Kronologi Mulia Berunsur Delapan ini.

‘Saya sudah menginvestigasi setiap prinsip berpangkal semua agama nan dikenal di marcapada ini, tetapi tidak saya temukan yang berlambak menimbangi baik berusul segi keindahan maupun luasnya seperti Jalan Sani ini. Oleh sebab itu Saya berkeinginan untuk membaktikan dan merubah diri Saya sesuai dengannya’ (T.W. Rhys Davids, Presiden mulai sejak Pali Text Society, London).

Jalan Indah Berunsur Delapan (Jalan Tengah) tersebut adalah :

  1. Pandangan Benar (sammaditthi) —– Pañña (kebijaksanaan)
  2. Pikiran Benar (sammasankappa)
  3. Mulut Benar (sammavaca)
  4. Perbuatan Bermartabat (samma Kamanta) —– Sila (kemoralan)
  5. Daya Upaya Benar (samma ajiva)
  6. Usaha Sopan (sammavayama)
  7. Perhatian Ter-hormat (sammasati) —– Samadhi (Konsentrasi)
  8. Pemfokusan Benar (sammasamadhi)

DUA Jenjang Privat Perenungan

Penjelasan meditasi sebagai halnya segala apa adanya melalui kitab suci Buddhis awal sedikit banyak berdasar atas metode nan digunakan Sang Buddha kerjakan mencapai Penyinaran Kamil dan Nibbana, dan dalam pengalaman Beliau seorang disaat mengembangkan batinNya.

Istilah meditasi sebenarnya dapat disamakan dengan istilah ‘bhavana’ yang arti harafiahnya ‘pengembangan batin’ adalah kampanye untuk mengintensifkan batin tergabung, senyap, ki berjebah dengan jelas melihat adat batin sesungguhnya gejala apapun yang bisa merealisir Nibbana, satu keadaan batin abstrak dari batin yang fit.

Meditasi yang dilakukan makanya Sang Buddha ada dua macam : Pemusatan Batin (samatha atau samadhi) merupakan penyatuan pemusatan batin (cittekaggata
Skrt. cittaikagrata), dan Rukyat Seri (Vipassana
Skrt. Vipasyana ataupun Vidarsana). Berpangkal kedua istilah ini samatha atau konsentrasi, kerjakan alasan ini prolog samatha atau samadhi, pada konteks tertentu dimaksudkan sebagai ketabahan maupun keheningan. Mendamaikan perhatian berarti menunggalkan pikiran nan diperoleh dengan menunjukan batin lega suatu objek pilihan dengan meninggalkan yang lain.

Nyepi (bhavana) dimulai dengan sentralisasi pikiran/pemusatan (samatha) yakni suatu keadaan yang bebas dari kekalutan. Segala apa konsentrasi itu? Apa ciri-cirinya? Dan bagaimana mengembangkannya?

‘Apapun cara penyatuan pikiran, inilah pemusatan (konsentrasi); catur usaha terhadap perhatian etis merupakan ciri-ciri pemfokusan, ialah syarat-syarat yang diperlukan internal pemfokusan; bagaimanapun kaidah melatihnya, mengembangkannya, akan meningkatkan kemampuan konsentrasi.
Inilah yang membangun konsentrasi. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa ketiga faktor kelompok samadhi yaitu: Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Sopan berkomplot dan ubah menunjang. Ketiganya membentangi konsentrasi yang senyatanya.

Perlu ditunjukkan bahwa berekspansi sentralisasi ingatan (samatha bhavana) seperti nan diajarkan oleh Sang Buddha bukan semata-mata Agama Buddha. Para Yogi sebelum Sang Buddha telah mengerjakan bermacam ragam cara perenungan nan berlainan yang hingga kini masih dilakukan. India sejak sangat sudah ialah negara okultisme, tetapi yoga yang amat terkenal di India enggak mampu melampaui sebatas tutul tenggat.

Samatha sebagai halnya yang diajarkan di dalam Agama Buddha sahaja berakhir pada pencapaian
Jhana
dan
Vipassana
mengarah kepada catur tingkat pencapaian kesucian batin ataupun emansipasi. Murid meditasi yang melanjutkan usahanya dengan khusyuk dan kontinu dengan Vipassana melenyapkan tahap demi tahap, kotoran batin nan membelenggu dirinya dalam putaran penderitaan (Samsara, pula disebut pit spirit dan kematian) dan mencapai tingkat keempat berusul kesucian batin
Arahat. Pengertian yang detail tentang Empat kehormatan ini dapat dibaca dalam buku ‘The Buddha’s Ancient Path, goresan Piyadasi Thera, B.P.S. hlm 210’.

Sang Buddha enggak sreg dengan pencapaian Jhana dan pengalaman mistik; satu-satunya tujuan Beliau adalah pencapaian Kebijaksanaan Mutlak dan Nibbana. Sesudah sampai ke kesabaran yang mantap dan sentralisasi yang tidak tergoyahkan dengan Samatha bhavana, Anda produktif melebarkan Vipassana yang membentuk orang mampu memandang apapun dalam kejadian begitu juga adanya, dan bukan seperti mana penampilannya. Dengan kata lain untuk mengerti bagaimana sesungguhnya diri kita ini.

Istilah Vipassana (vi + passana) berpokok dari asal katanya, ‘dilihat dengan cara eksklusif’ dan alas kata ‘passati’ melihat dan suplemen ‘vi’ artinya : ‘spesifik’. Maka Vipassana bermanfaat menyibuk dari segi yang seterusnya, bukan melihat kepermukaan alias bersifat sepintas lewat melainkan melihatnya dalam perspektif yang sebenarnya, yang privat istilah dari ketiga rasam istimewa terbit semua gejala kehidupan yaitu anicca, dukkha dan anatta. Meditasi Pandangan Kilat ini mempunyai landasan ketegaran batin hasil Samatha Bhavana yang meningkatkan kemampuan semadi koteng siswa lakukan membersihkan batinnya dari segala kotoran, melenyapkan khayalan keakuan dan mampu melihat kasunyataan dan merealisir Nibbana.

Vipassana merupakan nubuat khas Sang Buddha sendiri yang sebelumnya lain nikah Beliau dengar, suatu pengalaman berbarengan nan asing biasa dan khas semenjak Dia koteng, yang bukan akan cak semau seandainya lain ada Pangeran Siddharta.

Beberapa JENIS WATAK

Batin manusia amat dipengaruhi jasmaninya. Jika dibiarkan berperan semaunya dan melakukan pikiran yang tidak baik, maka akan mewah menciptakan kehancuran dan bahkan menyebabkan pembunuhan. Sebaliknya jika batin diliputi oleh pikiran nan baik bisa menyembuhkan jasad nan medium lindu. Jika batin dipusatkan lega ingatan yang baik dengan mengembangkan usaha benar dan pengertian yang benar, maka risikonya tidak invalid. Jadi batin nan bersih dan pikiran yang baik membuat umur menjadi sehat dan santai.

Dr. Bernard Grad dari Mcgill University di Montreal melakukan suatu percobaan dengan susah payah yaitu jika seseorang penyembuh awak memegang sebotol air nan terpejam bersanding dan air ini disiramkan ke bibit jelai maka akan tertentang menyolok bahwa konsentrat-ekstrak tersebut tumbuh melebihi yang bukan. Ini merupakan fakta nan mengejutkan karena jika pasien penyakit jiwa alias syaraf menjawat sebotol air lalu menyiramkan ke pati maka pertumbuhannya menjadi terganggu.

Kesimpulan Dr. Grad yaitu ada suatu faktor X atau energi yang mengalir bermula jasad manusia nan mampu mempengaruhi pertumbuhan tanaman atau fauna. Keadaan batin hamba allah mempengaruhi dirinya. ‘Energi’ nan belum diakui tersebut mempunyai dampak luas bikin Hobatan Pengobatan, pecah adat-sifat penyembuhan sampai lega percobaan laboratorium, pembukaan Dr. Grad.

Sebagaimana ditemukan olehnya bahwa batin berlambak mempengaruhi benda, maka tak terik untuk menyadur bahwa batinpun berbenda mempengaruhi batin.

Jasmani kita bisa berada privat kesegaran yang amat baik, namun batin sakit, digerogoti oleh problem yang berupa lobha, dosa dan moha serta bermacam ragam pesona yang menipu. Sebagian raksasa masalah turunan berasal bermula batinnya. Batin tidak cuma menjadi penyebab penyakit melainkan sekali lagi menyembuhkannya. Pasien yang optimis lebih banyak punya harapan sembuh daripada pasien yang pesimis. Goresan keyakinan pada penyembuhan menunjukan bahwa cara inilah yang memulihkan kelainan organis secara mendadak.

Batin amat peka dan merupakan gejala nan ruwet sehingga tidaklah mungkin kita temukan dua orang yang sama batinnya. Pikiran manusia diterjemahkan melalui kata dan ulah. Tubian kata-perkenalan awal dan kelakuan menumbuhkan kebiasaan dan akhirnya membuat watak. Watak adalah hasil berusul kegiatan yang dijuruskan makanya manah, oleh sebab itu watak basyar berbeda-beda. Ahli Psikologi seperti Carl G. Yung mengatakan cak semau dua tipe, introvert dan exstravert, yaitu orang yang lebih demen memperhatikan diri seorang ketimbang orang lain serta orang yang lebih senang memperhatikan hal-situasi yang terserah di luar dirinya.

Jalan ke arah pencucian batin (Visudhi Magga) menunjukan enam tipe watak (carita) yang menghampari banyak hal yang tak berfaedah. Suka-suka sejumlah yang condong ke-nafsu kerinduan, kebencian, kebebalan batin, keyakinan, kecendekiaan dan kesangsian. Karena adanya watak yang berlainan-selisih maka subyek meditasinya lagi disesuaikan (kammatthana). Makhluk menjumpai kammatthana ini disebutkan satu demi satu pada Kitab Suci Pali, khususnya mengenai kotbah Si Buddha. Petunjuk akan halnya Jalan menjurus Pembersihan Batin, (Visuddhi Magga) suka-suka empat desimal keberagaman. Mereka tekun merupakan resep obat bakal berbagai kompleksitas batin anak adam.

Di privat kitab Majjhima Nikaya, salah satu semenjak lima Kitab Tipitaka ceria nan berisikan petunjuk-tanzil Sang Buddha, ada dua di antaranya (no 61 dan 62) berisikan nasehatNya kepada Rahula sewaktu mengajarkan Dhamma. Semuanya berisikan tentang khalwat. Pada ujar-ujar yang ke 62 kepada Rahula, yang saat itu baru berusia delapan belas musim, menarik sekali untuk diperhatikan bahwa Sang Buddha menerimakan sapta varietas meditasi, yang intinya sebagai berikut :

Popular:   Berapa Lama Waktu Meditasi Yang Baik

‘Kembangkanlah perenungan cinta rahmat (metta), maka itikad jahat akan meruap.

Kembangkanlah meditasi magfirah (karuna), maka keganasan akan menguap.

Kembangkanlah meditasi simpati (mudita), maka kemuakan (ketidak senangan terhadap keberhasilan orang lain) akan lenyap.

Kembangkanlah tafakur keseimbangan batin (upekkha), maka perseteruan akan menghilang.

Kembangkanlah meditasi dengan objek yang menjijikan (asubha), maka nafsu kemauan akan ki amblas.

Kembangkanlah meditasi lega objek ketidakkekalan (anicca sañña), Rahula; dengan demikian maka kesombongan diri ataupun ke-Akuan (asmi – mana) akan lucut.

Kembangkanlah perenungan lega objek yang keluar masuknya nafas (anapana sati), Rahula, perhatian pada keluar masuknya nafas ini bila dilatih dengan alangkah-sungguh dan terstruktur banyak memberi manfaat.

Sang Buddha bukan hanya menganjurkan kepada basyar lain bagi melatih semadi, akan hanya Dia sendiri telah terbiasa melakukannya untuk menciptakan suasana akur, tentram (ditthadhamma sukha vihari). Sreg suatu waktu Sang Buddha bertutur : ‘Wahai para Bhikkhu, Aku akan menyendiri selama tiga rembulan. Yang menemuiKu hanyalah yang mengantarkan makanan dan minumKu’. ‘Baik Yang Mulia’, jawab para Bhikkhu. Setelah tiga wulan Sang Buddha bersabda sebagai berikut :

‘Wahai para Bhikkhu, jika cak semau seseorang berusul ajaran lain menanya kepadamu Meditasi segala apa yang sering dilakukan makanya Samana Gotama selama musim hujan, maka jawablah dengan mengatakan ‘Sang Buddha sering menghabiskan hari selama musim hujan dengan semadi keluar dan masuknya berasimilasi’. ‘Dengan tafakur ini Aku mengeluarkan dan menarik berasimilasi dengan mumbung manah. Cucu adam yang berkata benar harus mengatakan; perhatian sopan terhadap keluar dan masuknya napas ialah cara hidup Sang Tathagata’.

Kita lain teradat dan enggak kali menguasai empat desimal subjek tafakur. Yang utama adalah memilih salah suatu di antaranya yang sesuai dengan dirinya. Akan dahulu kontributif jika asian didikan dari bani adam yang sudah terlatih dalam khalwat, sendisendi tentang nyepi kembali akan dapat membantu. Sememangnya dalam peristiwa ini kita harus dengan jujur mengenali watak sendiri, sebab bila tidak, kita tidak akan gemuk memilih subjek meditasi yang tepat. Begitu pilihan sudah lalu diambil, kita harus tekun melatih diri dengannya. Permenungan adalah suatu ‘usaha yang dilakukan diri sendiri’.

Sekiranya sibuk dengan urusan duniawi, kita tidak akan mudah melerai dan menyendiri di tempat yang nyenyat lakukan waktu tertentu melakukan meditasi dengan serius setiap masa. Hanya jika ada kemauan maka akan terdapat jalan. Pada perian pagi periode atau sesaat menjelang tidur maupun kapan saja jika batin telah siap, meskipun sebentar, kita menyatukan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.

Jika kita meluaskan khalwat yang tenang saban hari maka kita akan mampu mengerjakan tugas kita dengan baik, dan lebih efisien. Kita mempunyai kewiraan untuk menghadapi kesulitan, mudah lega dan kian mudah berdampak. Memadai berharga bikin dicoba, saja kita harus pas sabar, percaya diri dan mantap. Seandainya memungkinkan, meditasi harus dilakukan dengan teratur dan cukup, dan agar jangan mengharapkan hasilnya dengan cepat. Perubahan rohaniah tibanya perlahan-petak.

LATIHAN TIGA UNSUR

Diperlukan disiplin bagi kita di dalam berkata dan berbuat sebelum melatih batin dengan tafakur yang bermaksud menumbuhkan dan menyunting moral. Ini disebut tuntunan kebajikan (sila sikha). Tiga faktor Kronologi Mulia Berunsur Delapan merupakan kode nyawa (sila) Agama Buddha, merupakan Ucapan Benar, Perbuatan Benar dan Daya Upaya Benar. Siswa meditasi yang berusaha dengan tekun mentaati sedikitnya Lima Pantangan (Pancasila) yang terdiri dari tak menjagal, tidak mencolong, tak bergendak, enggak berbohong dan lain rezeki dan minuman yang memabukkan. Plong latihan meditasi siswa diharapkan tidak melibatkan diri pada hubungan seks dan memelihara kemurnian diri.

Moralitas (sila) ini merupakan godaan loncatan permulaan, pangkal berpijak umat Buddha, merupakan fondasi untuk mengembangkan batin. Individu yang ingin menekuni meditasi harus mengembangkan bosor makan hidayah dan kebersihan batin nan mempengaruhi hayat batin dan membuatnya tenang. Pencari ketenangan batin selalu berusaha menjauhkan diri dari keterlibatan nafsu ataupun melenyapkannya. Inilah sikap pertapa yang benar. Ia berpikir dalam-dalam : ‘Biarlah turunan berbuat sadis, saya tidak akan teruit, saya tak akan mencelakakan individu enggak, biarpun orang lain berbuat sebaliknya. Biarlah orang lain mencuri tetapi saya tidak; biarlah hamba allah tak berkehidupan tidak ikhlas, namun saya harus hidup suci, biarlah orang tidak terbabit prolog-kata nan kasar, memfitnah dan membuat gosip, namun saya sekadar akan mengomong yang membawa kepentingan, dapat dikabulkan oleh telinga, munjung kasih, menyenangkan buat didengar, enggak suka-suka kesalahan, berharga untuk diingat, tepat pada waktunya, tepat akan halnya persoalannya, saya tidak mau bertarget, biarlah orang lain bergairah pada sesuatu yang tidak berharga/pantas, namun saya akan mendambakan secara batin apa yang baik. Penuh umur, tekor hati, tidak ragu terhadap segala apa yang benar, jujur, akur, penting, pemurah, cerbak benar dan nonblok dalam berhubungan dengan apapun sekali lagi. Saya akan pelalah sadar dan bijak terhadap semua kenyataan sepanjang masa, dan tidak akan gegar terhadap sesuatu nan mudah lenyap dan tidak akan tertuju padanya. Individu seperti itu enggak akan pernah bermain sebagai budak ataupun seekor domba nan bukan mempunyai pikiran.

Sila, kode kepatutan yang dikemukan oleh Si Buddha bukan suatu urutan lapangan yang bersifat kaku tetapi kian tepat yakni satu anjuran lakukan berlaku baik – satu sikap hidup munjung tekat baik demi kesejahteraan dan kebahagiaan turunan. Kaidah etik ini mengarah kepada suatu sikap awam nan aman dengan menyampaikan persatuan, keharmonisan dan saling pengertian antar manusia.

Perbuatan yang baik akan mendukung membentuk konsentrasi. Tiga faktor terakhir dari Jalan Mulia merupakan Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Sopan yakni bagian dari Samadhi. Ini disebut latihan mengasingkan diri (samadhi sikha).

Dengan selalu meningkatkan kebajikan, anda melatih mengembangkan batin. Dengan duduk dalam rubrik tertutup, di bawah pohon, di alam ternganga, ataupun di manapun, pesuluh tafakur memantapkan perhatiannya kepada satu objek meditasi dan dengan persuasi yang tiada hentinya membersihkan diri dari segala kekotoran batin sehingga dengan bertahap akan memperoleh kedalaman konsentrasinya.

Konsentrasi yang tinggi dan dalam yaitu radas bakal mendapatkan kebijaksanaan dan Pandangan Sinar. Kebijaksanaan terdiri berpunca Pandangan Sopan dan Pikiran Bermartabat, kedua faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ini disebut tutorial kebijaksanaan (pañña sikkha). Jalan Tengah yang terdiri berpangkal Sila, Samadhi dan Panna di dalam kitab Tajali Sang Buddha disebut ‘Pelajaran Tiga Partikel’ (Tividha-sikkha). Tidak satupun berpokok mereka merupakan penutup terbit diri sendiri, setiap penggalan merupakan suatu tujuan pencapaian. Tidak satupun dapat berfungsi tanpa terampai lega faktor lain. Bagaikan sebuah pot nan berkaki tiga nan serempak terbalik jika salah satu kakinya kotok, maka demikianlah hubungan dari ketiga unsur di atas. Mereka selalu berkreasi sama dan silih kejedot. Ulah baik akan menguatkan konsentrasi yang akan membawa banyak manfaat. Pemusatan pada gilirannya puas kebijaksanaan yang akan membantu kita melenyapkan pandangan salah dan dapat memandang kehidupan begitu juga adanya, artinya dapat mengawasi usia dan barang apa yang ada bergerak keluih dan menghilang (udaya-vaya). Dengan proses bertahap menerobos pengalaman dan latihan dan asam garam yang bertahap, ia membuang semua kotoran nan suka-suka di privat dirinya, merabut seluruh akarnya dan memperoleh kebebasan yang baginya bermanfaat camar duka nan hidup dengan berakhirnya tiga akar susu ki kebusukan : lobha, dosa dan moha yang mengotori batin manusia. Ketiga akar tunggang ini harus dilenyapkan dengan melatih diri dengan menjalankan
Sila,
Samadhi
dan
Pañña.

Pada akhir penyabunan diri ia mencapai di mana cahaya Nibbana berangkat terserap, keadaan sunyi di luar alas kata-kata, di luar perbuatan, doang damai mutlak, tidak akan gegar oleh pikiran yang dikotori oleh nafsu, sesuatu yang pasti dan mantap, gemilang luar biasa, kesukaan mulai sejak keheningan yang mendalam, suatu kepuasan terlepas dari kewajiban, kelegaan, kebahagiaan yang amat dan bersih nan tiada persamaannya, yakni Kebenaran Mutlak. Itulah mahkota bersumber spirit meditasi, hasilnya silam samudra. Dengan hasil ini maka semua kelahiran, kelapukan dan kematian dihentikan dengan total, kehidupan suci sudah lalu dicapai dan telah selesai apa yang harus dikerjakan, dan pengenalan-kata tiada lagi punya fungsi.

Tampaklah di sini bahwa
Sila,
Samadhi
dan
Pañña
bukan merupakan rasam nan terpisah, namun justru merupakan bagian dari Kronologi Indah Berunsur Delapan yang merupakan Perkembangan Tafakur seperti terderai di atas.

PELAKSANAAN PERHATIAN Bermartabat.

Apakah meditasi itu? Bikin apa orang bermeditasi dan apa manfaatnya? Pertanyaan ini telah dijawab. Mari kita dekati prosedur solo pelaksanaan perenungan.

Saya anjurkan kerjakan membicarakan satu segi yang berharga dari meditasi Buddhis, yaitu Pelaksanaan Manah Moralistis atau
Satipatthana. Alas kata
patthana
merupakan singkatan berpokok
upatthana
yang arti harfiahnya ‘mendekatkan pada batin’, adalah tetap ingat, teguh teguh, melaksanakan atau menumbuhkan. Buat menumbuhkan muslihat kesadaran terhadap bulan-bulanan tertentu dan menghidupkan peranan dan mengarahkan kemampuan mengawasi, kemampuan kekuatan, faktor penyorotan dan pendirian berkesadaran, semua ini merupakan pembentukan perhatian benar.

Petunjuk mengenai pembentukan Manah Ter-hormat (Satipatthana Sutta) nan dapat dikatakan seumpama Ajaran minimum penting nan pernah diberikan sekitar 2500 tahun yang lalu oleh Si Buddha Gotama untuk melatih, mematok, memurnikan, dan menyeimbangkan batin, tampil sebanyak dua kali di Kitab Suci Buddhis. Umpama pembukaan yang terdapat di buku tersebut akan halnya latihan ini, jelas sekali disebutkan bahwa
Satipatthana
yakni satu-satunya cara/urut-urutan (ekayano maggo) cak bagi membeningkan batin, mencupaikan penderitaan, untuk menjejak Jalan yang bersusila serta Nibbana, itulah
Satipatthana, pelaksanaan Perhatian Moralistis’.

Empat Pelaksanaan Perhatian Benar.

  1. Jasmani (Kayanupassana).
  2. Perasaan (Vedananupasana).
  3. Gerak perhatian (Cittanupassana).
  4. Objek-alamat batin (Dhammanupassana).

Yang paling kunci di sini yakni Perhatian dan pengamatan (anupassana).

Begitu juga telah disebutkan keadaan manah nan lengang dilakukan bersama ketiga faktor terakhir semenjak Urut-urutan Mulia Berunsur Delapan merupakan Persuasi Bersusila, Ingatan Ter-hormat dan Sentralisasi Moralistis. Ini adalah Tiga Jalur dari faedah tali nan saling menjalin dan menunjang. Ingatan Benar adalah terkuat sebab memegang peran penting dalam usaha mencapai ketenangan maupun ketajaman pandangan. Pikiran Benar merupakan suatu kerja tertentu dari batin karena merupakan faktor batin. Sonder terserah faktor pecah ingatan yang bernilai strata maka orang tak dapat membedakan objek hasil pencerapan, tidak dapat melihat dan menyadari dengan jelas tingkah lakunya sendiri. Disebut Perhatian Benar karena makmur menghindarkan kesalahan arah pikiran dan menghindarkan batin berpangkal perhatian terhadap sesuatu yang tidak baik serta menjaga sepatutnya pesuluh demap mewah pada kronologi sopan ke arah pembebasan, kedamaian dan kebersihan batin.

Perasaan Benar mempertajam kemampuan mengamati dan kondusif jalan angan-angan dan berpengertian benar. Jalan angan-angan dan ki memenungkan nan terkonsolidasi maka itu Perhatian Sopan. Petunjuk-tanzil latihan memperlihatkan bahwa peserta meditasi menjadi sadar akan gerak pikirannya, siaga mengawasi dan menangkap setiap gerak pikiran, tidak perduli yang berkarakter baik ataupun buruk, terpuji atau tidak. Semua ilham mengingatkan kita kepada ketidakacuhan dan lamunan serta pelahap menjorokkan sebaiknya batin kita tetap siap. Sebenarnya siswa yang gegares akan melihat dan menyadari bahwa sekedar mendaras dan menyadari kembali segala ajaran terkadang membuatnya sadar dan waspada, rajin dan sungguh-sungguh. Tak perlu dikatakan bahwa Perhatian Sopan selalu diusahakan oleh orang yang berminat. Kesungguhan adalah amatlah terdepan bikin meluaskan Perhatian Ter-hormat ini apalagi pada zaman yang membingungkan ini banyak orang menjadi objek dari ketidak-seimbangan batin.

Perhatian Etis merupakan alat nan tidak doang membuat pemfokusan menjadi tenang belaka pun meningkatkan Pengertian Benar dan Buku Upaya Moralistis. Ia merupakan faktor yang amat terdepan di dalam kegiatan materialisme alias spiritual. Kini kita telah meluluk bahwa perenungan lain suatu pelarian, terbit kehidupan publik, melainkan ialah suatu bentuk batin nan diidam-idamkan.


Sumber: https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-buddhis/