Sejak Kapan Sidharta Melatih Meditasi Pernapasan

Buddha menjatah pelajaran tentang dharma kepada panca pertapa di Taman Kijang

Buddha Gautama

dilahirkan dengan stempel
Siddhārtha Gautama
(Sanskerta:

Siddhattha Gotama
; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi
Si Buddha
(secara literal: sosok yang telah menyentuh Penyorotan Teladan). Dia kembali dikenal andai
Sakyamuni
(‘orang bijak dari suku bangsa Sakya’), sebagai
Theravada, dan seumpama
Tathagata. Siddhartha Gautama ialah guru spiritual bersumber kewedanan timur laut India yang pun ialah pendiri Agama Buddha[1]
Dia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) plong perian sekarang.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha usia dan menghamburkan ajarannya pada era Mahajanapada di wilayah Kekaisaran Magadha pada masa tadbir Raja Bimbisara dan putranya Prabu Ajatashatru. Tanggal kelahiran dan mortalitas Siddartha bukan diketahui secara pasti. Sebagian sejarahwan modern memperkirakan engkau lahir antara masa 563 SM hingga 483 SM, dan wafat antara tahun 411 SM hingga 400 SM.[2]

Salah satu panggilan yang disematkan kepada Siddhartha adalah
Sakyamuni
(khalayak bijak berusul klan Sakya). Panggilan ini, dan kembali dari bermacam ragam pustaka tadinya, membuktikan bahwa ia lahir dari klan Sakya, sebuah klan kuno yang diperkirakan spirit di pinggiran timur laut India, di sekitar pinggiran Nepal-India. Sakya menciptakan menjadikan koalisi pemerintahan oligarkis yang disebut
Ganasangha
ataupun
Ganarajya. Disebutkan bahwa
Ganarajya Sakya
memiliki ibu kota di Kapilavastu yang keberadaannya kini tak diketahui secara pasti; supaya beberapa mengajukan ii kabupaten Tilaurakot di Nepal dan Piprahwa di India sebagai lokasinya.

Saat Siddharta lahir, Ganarajya Sakya merupakan negara vasal Kerajaan Kosala.[3]
[4]
Belakangan, Kerajaan Magadha melendung dan cekut alih hampir semua kawasan di Timur Laut anak benua India, termaktub wilayah Sakya. Era ini dikenal umpama periode Mahajanapada, di mana terserah enam belas
janapada
(bangsa, kekaisaran) yang menuntaskan anak benua India. Bimbisara berasal Magadha memiliki jasa samudra kerumahtanggaan perkembangan agama Buddha, karena menjadi pelindung Si Buddha privat menyebarkan ajarannya. Bimbisara pula disebut telah mengirimkan tabib imperium, Jivaka, bagi menjadi sinse pribadi Siddharta.[5]

Makhluk Tua

[sunting
|
sunting sumber]

Ayah dari Siddharta ialah Suddhodana yang yaitu seorang kesatria pimpinan
Ganarajya Sakya
yang disebut
rājā
(kerumahtanggaan bahasa Pali istilah ini bisa berarti superior suku, pemimpin, atau gubernur). Namun karena buram pemerintahannya oligarki, posisi
rājā
di Sakya dipilih oleh sebuah dewan dari kalangan kesatria. Adapun ibunya adalah Tuanku Maya, lagi dari klan Sakya. Dalam teks-referensi Buddisme, Ratu Khayali meninggal tujuh periode setelah kelahiran Siddharta. Sejak meninggalnya sang sunan, Siddharta dirawat oleh Mahapajapati Gotami, bibinya yang kemudian menjadi ibu angkatnya karena menjadi istri Suddhodana.

Riwayat sukma

[sunting
|
sunting mata air]

Kelahiran

[sunting
|
sunting sumber]

Kanjeng sultan Siddharta dilahirkan lega musim 623 SM[6]
di Taman Lumbini, saat Emir Maha Abstrak seram menjabat dahan tanaman sala. Pron bila sira lahir, dua arus boncel jatuh bermula langit, yang satu adem sementara itu yang lainnya hangat. Arus tersebut mencuci jasad Siddhartha. Siddhartha lahir kerumahtanggaan keadaan bersih tanpa noda, memancang dan serentak dapat melangkah ke arah utara, dan medan nan dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Maka itu para pertapa di bawah bimbingan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Pangeran kelak akan menjadi koteng Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi koteng Buddha. Sahaja pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Paduka tuan tulat akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Pangeran menjadi Buddha, tak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh soal Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Pangeran jangan sebatas mematamatai catur variasi peristiwa. Bila enggak, sira akan menjadi pertapa dan lusa menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu yakni:

  1. Ibu bapak,
  2. Orang sakit,
  3. Makhluk mati,
  4. Seorang pertapa.
Popular:   Tuliskan Manfaat 5 Dari Meditasi Pernafasan

Masa mungil

[sunting
|
sunting sumber]

Sejak kecil telah terlihat bahwa Pangeran yaitu seorang anak yang cerdas dan lewat pandai, pelalah dilayani maka itu pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cakap rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta punya 3 kolam anak uang runjung, yaitu:

  • Kolam Bunga Lotus Berwarna Dramatis (Uppala)
  • Kolam Anak uang Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Tambak Bunga Teratai Bercelup Putih (Pundarika)

Privat Hayat 7 musim Raja Siddharta telah mempelajari bervariasi ilmu manifesto. Pangeran Siddharta mengamankan semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya sesudah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 hari, Emir punya tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Cahang (Ramma)
  • Istana Hari Panas (Suramma)
  • Kastil Tahun Hujan (Subha)

Masa dewasa

[sunting
|
sunting sendang]

Pangeran Siddhartha meluluk empat hal yang memungkiri hidupnya.

Kata-kata pertapa Asita membentuk Aji Suddhodana tidak sirep siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara sonder tempat dahulu. Kerjakan itu Baginda memilih banyak pelayan lakukan merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati sukma keduniawian. Apa rangka penderitaan berusaha disingkirkan berpangkal nyawa Yang dipertuan Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan mortalitas, sehingga Kanjeng sultan semata-mata mengetahui kenikmatan keduniaan.

Suatu perian Pangeran Siddharta meminta belas kasihan untuk berjalan di asing istana, di mana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” nan sangat berarti, ialah orang tua, orang linu, orang mati dan makhluk kudrati. Pangeran Siddhartha bersedih dan lamar kepada dirinya sendiri, “Apa guna kehidupan ini, jikalau semuanya akan menderita guncangan, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta sambung tangan kepada orang nan tidak memaklumi, yang sama-setolok tak tahu dan terpukau dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan zakiah yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 hari lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kepelesiran duniawi. Pergolakan batin Emir Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 musim, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada satu lilin lebah, Yamtuan Siddharta mengakhirkan cak bagi memencilkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Channa. Tekadnya sudah buntak untuk mengamalkan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup suci perumpamaan pertapa.

Relief kelahiran Paduka tuan Siddhartha. Berusul kuil Zen You Mitsu, Tokyo.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, tanggungan, keglamoran, bikin pergi berguru mencari ilmu zakiah yang bisa membebaskan manusia dari kehidupan bertongkat sendok, sakit dan sunyi. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputta, sekadar lain merasa puas karena tidak memperoleh nan diharapkannya. Kemudian sira bersuluk menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya ia juga meninggalkan pendirian yang ekstrem itu dan bermeditasi di bawah pokok kayu Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengelanaan

[sunting
|
sunting perigi]

Pangeran Siddharta mencukur rambutnya dan menjadi pertapa, relief Borobudur.

Di kerumahtanggaan pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara memencilkan diri bermula dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa
Udraka Rāmaputra
. Doang sehabis mempelajari cara bertapa terbit kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertafakur sebagaimana itu tak akan sampai ke
Pencerahan Kamil. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha cak bagi melaksanakan memencilkan diri menyiksa diri di hutan Uruvela, di tepi Sungai Nairanjana(Naranjara) yang mengalir dekat Hutan Gaya. Meskipun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruvela, tetap pertapa Gautama belum kembali bisa memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada satu tahun n domestik pertapaannya, pertapa Gotama kesanggupan seorang roh pemusik/gandharva yang kemudian melantunkan sebuah puisi:

Popular:   Jenis Senam Yang Menggabungkan Latihan Fisik Dan Meditasi Yaitu Senam

Nasihat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama nan akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya suntuk pergi ke batang air untuk mandi. Badannya yang sudah lalu sangat tulang intim bukan sanggup bakal menopang bodi pertapa Gautama. Koteng wanita bernama Sujata menjatah pertapa Gautama mengkucing payudara. Badannya dirasakannya sangat langlai dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang gentur membaja, pertapa Gautama menyinambungkan samadhinya di bawah tumbuhan bodhi (Asattha) di Alas Mode, sekaligus ber-prasetya, “Meskipun darahku meringkai, dagingku membusuk, tulang kulit kerbau drop berlampar, tetapi aku tidak akan memencilkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Model.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir semata-mata Ia putus agak menghadapi godaan Mara, dewa penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang persisten memupuk dan dengan keyakinan yang konstan tunak, akibatnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi detik bintang pagi memperlihatkan dirinya di horizon timur.

Pertapa Gautama sudah lalu sampai ke Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Samma sam-Buddha), tepat bilamana wulan Purnama Siddhi lega bulan Waisak saat engkau berumur 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM lega masa ke-8 rembulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, sreg bulan Mei tahun 588 SM). Bilamana mencapai Pencerahan Transendental, dari tubuh Siddharta memancar heksa- sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru (nila) nan penting bhakti; kuning (tali tap) mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah (lohita) yang berarti pemberian sayang dan anugerah; asli (Avadata) mengandung keefektifan ceria; jingga (mangasta) signifikan kehidupan ; dan campuran sinar tersebut (prabhasvara)

Penyerantaan ajaran Buddha

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama berbintang terang gelar keutuhan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Sakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Beliau Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Luang’), Bhagava (‘Nan Agung’) dan sebagainya. Panca pertapa yang mendampingi Beliau di jenggala Uruvela merupakan petatar pertama Buddha nan mendengarkan lektur pertama Dhammacakka Pavattana Sutta, di mana Dia mengklarifikasi mengenai Urut-urutan Tengah nan ditemukan-Nya, ialah Delapan Ruas Urut-urutan Kemuliaan termaktub awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Legalitas Luhur”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama catur puluh panca hari lamanya kepada umat manusia dengan munjung cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai jiwa 80 tahun, saat anda mengingat-ingat bahwa tiga bulan lagi beliau akan mencapai Parinibbana.

Buddha internal keadaan sakit kelempai di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-pelajar-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM plong masa ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB sreg bulan Mei, 543 SM). Seorang dukun pribadi dan pengikutnya yang ki ajek, Jivaka, merawat Sang Buddha lega masa sakitnya.[5]

Sifat Agung Buddha

[sunting
|
sunting sumber]

Seorang Buddha memiliki rasam Cinta Kasih (maitri alias metta) dan Kasih Besar perut (karuna). Jalan buat hingga ke Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin nan dimiliki oleh orang. Pada musim Syah Siddharta pergi atma duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya nan berdasarkan Camar Anugerah dan Kasih Kerap yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua sosok.
  2. Menolak semua kerinduan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menjiwai dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama mula-mula melatih diri untuk melaksanakan dedikasi amal kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri berpangkal dasa tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan perhatian, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembantaian, pencurian, ulah jinah.
  • Ucapan (vaci): pengelabuan, pembicaraan cerca, pengucapan kasar, percakapan tiada khasiat.
  • Pikiran (mano): kemelekatan, niat buruk dan asisten yang salah.
Popular:   Pengetahuan Dasar Dalam Melaksanakan Meditasi Pandangan Terang Dengan Memahami

Kerap hidayah dan kasih pelahap seorang Buddha yakni belalah kasih buat kebahagiaan semua turunan sebagaimana anak adam renta mencintai momongan-anaknya, dan memimpikan berkah terala terlimpah kepada mereka. Akan sekadar terhadap mereka nan menderita sangat berat atau n domestik hal batin gelap, Buddha akan memberikan manah khusus. Dengan Kasih Cangap-Nya, Buddha menganjurkan meski mereka berjalan di atas jalan yang etis dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha, Sira sudah lalu mengenal semua insan dan dengan menggunakan bermacam ragam cara. Dia sudah lalu berusaha kerjakan menjarakkan penderitaan banyak makhluk. Buddha Gautama memahami seutuhnya hakikat manjapada, Ia menunjukkan tentang keadaan dunia seperti adanya. Buddha Gautama mengajarkan kiranya setiap hamba allah membudidayakan akar tunjang kebijaksanaan sesuai dengan watak, ulah dan kepercayaan tiap-tiap. Ia tidak semata-mata mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi sekali lagi melintasi perbuatan. Internal mengajar umat manusia yang mencitacitakan lenyapnya Dukkha, Dia menunggangi kronologi pembebasan berpangkal kelahiran dan kematian cak bagi menggugah perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya makmur menyelesaikan berbagai masalah di privat berbagai kesempatan yang sreg hakikatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan hal sebenarnya dari hakikat yang hakiki berbunga seorang Buddha. Buddha yakni perlambang dari kesucian, yang tersuci berpangkal semua nan tahir. Karena itu, Buddha yaitu Raja Dharma yang agung. Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan saja sering terdapat alat pendengar orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang bisa memaklumi dan menyelami serta mengamalkan Sifat Agung Buddha akan terbebas semenjak kesengsaraan jiwa. Mereka tidak akan dapat bersambung tangan saja karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

Wujud dan kehadiran Buddha

[sunting
|
sunting sumur]

Buddha tidak cuma dapat mengetahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya sahaja, karena wujud dan adat luar tersebut bukanlah Buddha yang zakiah. Jalan yang etis untuk memahami Buddha adalah dengan jalan mengecualikan diri dari hal-hal duniawi/menjalani jiwa dengan mempraktekkan kronologi mulia berunsur delapan. Buddha sejati bukanlah wujud tubuh, sehingga Resan Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan perkenalan awal-kata. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya alias mengerti Sifat Agung Buddha, namun tak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah nan sesungguhnya yang sudah mempunyai kebijaksanaan lakukan melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.

Tatap juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Agama Buddha
  • Daftar Filsuf
  • Daftar permainan nan tidak akan dimainkan oleh Sang Buddha

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Ajaran Gautama kaila nananaoaa Indonesia
  • (Inggris)
    Life of the Buddha
  • (Inggris)
    A sketch of the Buddha’s Life
  • (Inggris)
    Critical Resources: Buddha & Buddhism
  • (Inggris)
    The Emaciated Gandharan Buddha Images: Asceticism, Health, and the Body Diarsipkan 2007-06-15 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    The Lalitavistara Diarsipkan 2007-08-10 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Life of Gautama Buddha – Free Audio Books
  • (Inggris)
    Hidup Gautama Buddha dalam Gambar Bersiri 1
  • (Inggris)
    Hidup Gautama Buddha dalam Gambar Bersiri 2

Teks

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    (Inggris)
    The Buddha

  2. ^


    (Inggris)
    The Dating of the Historical Buddha: A Review Article Diarsipkan 2011-02-26 di Wayback Machine.

  3. ^


    Walshe, Maurice (1995).
    The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Digha Nikaya
    (PDF). Somerville, MA USA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.





  4. ^


    Batchelor, Stephen (2015).
    After Buddhism. Yale University Press. hlm. Chapter 2, Section 2, 7th paragraph. ISBN 978-0-300-20518-3.




  5. ^


    a




    b




    Chen, TSN; Chen, PSY (2002). “Jivaka, Physician to the Buddha”.
    Journal of Medical Biography
    (10(2)): 88–91. doi:10.1177/096777200201000206.





  6. ^

    L. S. Cousins (1996), “The dating of the historical Buddha Diarsipkan 2011-02-26 di Wayback Machine.: a review article”, Journal of the Abur Asiatic Society (3)6(1): 57–63.




Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Siddhartha_Gautama