Sotthi Hotu,

Setelah sekian lama bolos dalam batik blog karena disibukkan dengan UAS, barangkali ini saya akan mengomongkan tentang kendala nyepi berdasarkan kiat

Superpower Mindfulness

catatan
Ajahn Brahm.

Meditasi (bhavana) adalah pemfokusan pikiran pada satu mangsa. Secara umum, meditasi terbagi menjadi 2 n domestik agama Buddha, yaitu
Samatha Bhavana
(Pengembangan keluasan pikiran batin) dan
 Vipassana Bhavana
(Pengembangan pandangan kilauan). Ada 40 macam bulan-bulanan
Samatha Bhavana. Sementara incaran
Vipassana Bhavana
ialah batin dan jasmani.

Incaran tafakur nan sering digunakan adalah perenungan terhadap pernapasan (memerhatikan keluar-masuknya napas, doang bukan berusaha untuk mengaturnya) dan khalwat cinta kasih (mengembangkan manah cinta kasihterhadap semua makhluk hidup). Keduanya tergolong dalam
Samatha Bhavana.

Dewasa ini, banyak orang yang tertarik dalam belajar meditasi bakal mendapatkan relaksasi. Akan tetapi, belajar khalwat tidak sering berjalan mulus. Suka-suka heterogen rintangan nan menghambat seseorang privat melakukan meditasi. Obstruksi-rintangan meditasi dalam bahasa Pali disebut
nivarana. Buddha sudah lalu mengklarifikasi bahwa ada 5 rintangan batin yang melemahkan kebijaksanaan dan memperdekat kebodohan batin. Kelima obstruksi tersebut adalah sebagai berikut. Nafsu indrawi (kama-chanda), kehendak buruk (byapada), kewegahan (thina-middha), Kegalauan dan penyesalan (uddhacca-kukucca) dan keraguan (vicikiccha).

  1. Nafsu indrawi (kama-chanda)

Ini adalah rintangan utama yang mencegah kita memasuki khalwat sungguh-sungguh. Ini bukan sekedar nafsu indrawi sebagai halnya plong lazimnya.
Kama-chanda
berarti “kesenangan, ketertarikan, keterlibatan dengan bumi pancaindra” Andai contoh, detik kita bermeditasi dan mendengar sebuah suara yang pekak, mengapa kita tidak bisa mengabaikannya serupa itu belaka? Mengapa suara miring itu begitu mengusik kita? Contoh ini tergolong
kama-chanda, yaitu pikiran yang terlibat dengan suara miring. Sama halnya ketika kita memulai meditasi, kita tersela nyeri pada kaki, dan kita menjadi terganggu.
Kama-chanda
sulit diatasi karena kita begitu terpatok dengan dunia pancaindra. Prinsip bikin memintasi rintangan ini yaitu dengan mengalihkan ingatan semenjak pancaindra sedikit demi abnormal dan fokuskan juga pada napas atau pikiran.

  1. Niat buruk (byapada)

Niat buruk terdiri berpunca niat buruk terhadap diri sendiri atau lebih-lebih terhadap objek meditasi.

  • Karsa Buruk terhadap diri sendiri, terjadi karena kita tak memperkenankan diri kita menjadi bahagia, ataupun menjadi damai, atau berhasil dalam khalwat. Kita semua berhak atas kepelesiran yang diperoleh berusul perenungan. Tak ada yang menentangnya. Suka-suka beberapa jenis “kebahagiaaan yang ilegal”. Ada jenis-jenis lainnya yang melanggar sila Buddhis, yang menyebabkan kebobrokan, alias meiliki efek samping yang mengerikan. Namun, kepelesiran perenungan tidak n kepunyaan surat berharga samping yang buruk. Prinsip mengatasi kendala ini adalah melakukan semadi besar perut karunia.
  • Niat buruk terhadap sasaran tafakur, biasanya menjadi sebuah masalah umum kerjakan orang-orang nan pernah bermeditasi pernapasan tetapi belum terlalu sukses. Takdirnya kita mengawali meditasi dengan niat buruk terhadap meditasi, melakukannya tapi tidak menyukainya, maka meditasi tidak akan urut-urutan. Kita memangkalkan hambatan di depan diri kita sendiri. Prinsip lakukan mengatasinya ialah dengan menanamkan kehendak baik terhadap meditasi. Berpikirlah “Weh! Sani! Yang harus ku bikin hanyalah duduk dan lain terbiasa melakukan kejadian-hal lainnya. Aku hanya perlu duduk disini dan bersama dengan sahabat lamaku, napasku.”
Popular:   Jelaskan Syarat Syarat Meditasi Pandangan Terang

Sederhananya, niat buruk bisa diatasi dengan berbelah kasih kepada semua hamba allah, amnesti terhadap diri kita sendiri, camar rahmat terhadap bahan meditasi, niat baik terhadap alamat meditasi dan perkawanan sreg napas.

  1. Kemalasan (thina-middha)

Hambatan ini tidak wajib dirincikan karena kita semua mengetahuinya dengan baik melalui pengalaman semadi kita. Cara buat mengatasi kemalasan adalah berdamai dengan kesungkanan, berhentilah melawan pikiran kita. Berhentilah berusaha mengubahnya dan biarkan saja. Berdamailah, jangan berperang dengan kemalasan. Buddha menyarankan penyelidikan bukan tentangan. Ingatlah “junjung tinggi kesadaran”

  1. Kekhawatiran dan penyesalan (uddhacca-kukucca)

Komponen utama dari hambatan ini yaitu kepanikan pikiran.

  • Penyesalan

Penyesalan yakni akibat berusul hal-hal menyakitkan yang sangkut-paut kita lakukan alias katakan. Cara lakukan mengatasinya yakni dengan absolusi, membiarkan nan dulu ajal.

  • Kebingungan

Kegelisahan muncul karena kita tidak menghargai indahnya kelengkapan lever.
Kegelisahan intern meditasi cak acap signifikan tanda kehampaan menemukan kebahagiaan pada yang suka-suka di sini. Cara untuk mengatasinya adalah dengan mengembangkan kepadaan hati. Kita teristiadat mengembangkan sensasi kecukupan hati rukyat kita terhadap barang apa pun nan kita miliki, enggak peduli dimana pula kita rani dan suka-suka di situasi segala apa pun.

  1. Keraguan (vicikiccha).

Keraguan dapat terjadi terhadap tanzil, pengajarnya ataupun diri kita sendiri. Jikalau kita merasa mutakadim mencapai janjang teratas lega semadi momen kita perenungan, maka dipastikan bahwa kita tidak mencapai apa-barang apa, karena pemikiran-pemikiran tidak bisa hadir dalam kejadian mati yang benar-benar. Belaka setelahnya, ketika kita belinjo kembali keadaan tersebut, kita baru boleh mengatakan hal yang demikian.

  • Mengatasi syak wasangka terhadap ajaran dengan mempraktikan semadi. Menerobos pengalaman-camar duka, kita akan semakin mencerna ajaran Buddha
  • Mengatasi keraguan terhadap pengajarnya, kita dapat melakukan penyelidikan terhadap mereka. Jika mereka sungguh-sungguh tahu barang apa yang mereka katakan, maka mereka akan menjadi pribadi yang etis, terkendali dan meneladankan.
  • Mengatasi kewaswasan terhadap diri kita sendiri dengan memberikan semangat terhadap diri kita sendiri bahwa kita boleh menjadi lebih baik.
Popular:   Merenung Dan Meditasi Kepada Sang Kholiq Dalam Istilah Tasawwuf Disebut…

Semoga catatan ini bermanfaat dan menjadikan kita lebih umur dalam mempraktikkan Dhamma, salah satunya melalui tuntunan meditasi sehingga kita bisa menjadi orang yang bertambah baik lagi.
Sadhu…Sadhu….Sadhu