Merenung Dan Meditasi Kepada Sang Kholiq Dalam Istilah Tasawwuf Disebut…

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai berpuncakebatinan falsafi
(tasawuf teoritis),
tasawuf akhlaki
(adab tasawuf) setakat kepada
tasawuf irfani
(suluk atau makrifatullah).

Pertama, “Ilmu sufi Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Ilmu batin)

Ini diversifikasi tasawuf nan sifatnya teoritis. Mirip dengan filsafat tauhid (kalam/teologi), aktifitasnya mengkaji dan memahami hakikat dari eksistensi dengan pendirian yang eksklusif. Sekiranya filsafat doktrin berusaha memahami Tuhan secara konsekuen, tasawuf falsafi mencoba menemukan bahasa akal untuk menjelaskan berbagai pengalaman mistis. Sehingga lahir konsep-konsep semacam
ittihad,
wahdatul wujud, gradasi wujud
(isyraqiyyah),
cucu adam kamil, nur muhammad, tajalli,
musyahadah, mukasyafah, fana, baqa,
serta terma-terma keilahian dan kondisi-kondisi batiniah lainnya.

Ilmu sufi ini fokus pada kemampuan ‘aqliyah
(berfikir), teragendakan amatan dan baca-baca kitab. Jalan hidup para pelajar mendengar tausiah bahkan urun pendapat. Nan disasar adalah kesadaran serebral (motor). Diharapkan, dengan banyak mendaras dan mendengar, para siswa mengarifi ira lingkup tasawuf.

Ilmu sufi ini tidak membawa murid sampai kepada Yang mahakuasa. Suluk ini namun membawa murid sampai pada level “mengetahui” berbagai filosofi tentang dirinya, Tuhannya, dan internasional; serta koalisi antara ketiganya.

Popular:   Ketika Melaksanakan Meditasi Pernapasan Batin Kita Akan Merasa

Kata para arif:
“1000 gelas berpangku tangan tidak akan memabukkan, sampai kamu meminumnya. Pun 1000 kitab nan kau baca tidak akan membawamu kepada Almalik, sampai engkau bersedia menempuh jalan.”
Maka dari itu sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Suluk Akhlaki” (Ilmu sufi Syar’i/Fikih Suluk/Adab Berguru/Etika)

Tasawuf ini berpusat pada birokrasi atau aturan-aturan sahih untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah reformasi sinkron moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab badaniah dan rohaniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga tenar aturan:
“dahulukan adab daripada ilmu”.
Kalau sekedar berilmu, demit lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Belaka ia angkuh, merasa paling kecil benar. Kepatuhannya kepada Allah bukan ada.

Makara, tasawuf akhlaki ini sudah bernilai praktis. Batin seseorang ikut dibentuk dengan berbagai aturan dan garis haluan. Sehingga ia memiliki sifat jujur, nonblok, suci, dermawan, buruk perut, ki ajek, kerap intern situasi bersuci, dan lain sebagainya. Hipotetis ketat pendidikan akhlak ini ditemukan intern jamaah sufi, atau disebut “tarekat”. Mereka membentuk
ahlus shuffah, kerubungan-kelompok sosial dengan beraneka ragam sifat dan rangka-buram kedisiplinan.

Kerjakan mencapai ini, sering ditemukan bentuk-bentuk disiplin kepada
ulil amri
(guru spiritual). Semua yang ingin menemui Almalik diwajibkan ‘sujud’ kepada
Lanang
(sebuah target aliansi atau kiblat material yang dalam dirinya terletak entitas maksum nurullah). Disinilah dalam kebatinan atau irfan dipercayai adanya nabi, padri-imam, walimursyid, ataupun penatar ruhani.

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak mengangkut murid sebatas kepada penyaksian atau merasakan sekalian akan keberadaan Allah
(musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Yang mahakuasa melihat mereka. Namun terbentuknya bawah-bawah akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui
adab
dan ‘ubudiyah
(penghambaan diri kepada Allah) intern kerubungan sosial, menjadi prasyarat bagi sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Popular:   Ketika Sedang Melaksanakan Meditasi Pernapasan Batin Kita Akan Terasa

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak atau jenis tasawuf yang boleh mengubah, membandingbanding hamba allah kepada nirmala diri yang fitrah.

Antara hamba dengan Yang mahakuasa suka-suka “jarak” yang memisahkan (hijab). Kebatinan ini merintis jalan untuk kembali kepada Allah, ke asal yang suci. Ini yang disebut “ranah sebelum senyap” (hadis). Sejak hidup di mayapada harus ada usaha untuk sebatas, terhubung dan kembali menyaksikan-Nya. Sebab, kalau di dunia kita buta, di alam baka pula serupa itu (QS. Al-Isra: 72). Itulah pemanjatan ruhani atau disebut
sayr
(penjelajahan)
wa suluk
(bepergian). Disini ada yang namanya tutul kepergian, panggung tujuan, stasiun-stasiun (makam) serta kondisi-kondisi nan akan dialami (fenomena-fenomena spiritual) sepanjang perjalanan pulang.

Dalam tasawuf, roh manusia dipandang andai organisme semangat. Berpokok tahap lahir hingga dewasanya, ia harus terus diberi “zat makanan” hendaknya mengenal Allah. Avontur ruhani adalah sebuah proses pendewasaan gelanggang spiritual ini, yang dimulai dari ritual taubat sebatas kepada berbagai bentuk dan janjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat lega aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk mengamalkan perjalanan (mikraj) dari satu
langit
ke
langit
lainnya (ke berbagai maqam para nabi), sampai kepada yang teratas. Pada praktik tasawuf inilah mulut harus terkunci, akal busuk dan logika juga diharuskan mati. Karena yang dihadapi adalah alam yang terkadang berlainan.

Intern Alquran banyak suri tauladan nan sejak di dunia disebut-sebut sudah
liqa Allah
(bertemu Allah), memperoleh wahyu alias ilham, dan berbicara dengan malaikat. Teragendakan pengalaman wisata ruhani Muhammad SAW ke “Sidratul Muntaha” (makam
musyahadah,
fana
dan
baqa
dalam warta laduni).

Ilmu sufi ini bersifat amali dan wajib dibimbing maka itu seorang “khidir” atau “rohulkudus” yang sudah bolak balik ke liwa ketuhanan. Mursyid harus seorang hawa nan sempurna,
boleh membaca persoalan, isi lever dan kebutuhan muridnya (kasyaf). Seandainya tidak, muridnya boleh tersesat. Kalau tidak dibimbing makanya manusia-orang sejenis ini, bisa-dapat di alam sana setanlah nan akan menyambut ruhani kita.

Popular:   Cara Melakukan Meditasi Dengan Cara Duduk

Engkau harus sembahyang untuk menemukan
‘urafa, guru-guru irfani atau para pengampu pewaris nabi. Mereka silam langka dan cenderung tersembunyi. Biasanya spiritualitas mereka tahapan sekali, mempunyai
qudrah
spiritual semacam mukjizat yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh mereka ini bernas di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka tidak terikat dengan hukum alam. Karena ruh mereka sudah bernas di liwa ketuhanan, tidak terjebak pun dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para siswa boleh mereka asuh bersumber alam material
(jabarut)
cenderung alam malaikat
(malakut), mengaras pataka ketuhanan
(rabbani).

Tak namun terletak puas master yang mumpuni. Suksesnya perjalanan ini lagi tergantung pada keseriusan sang peserta sendiri dalam mengamalkan olah ruhani
(riyadhah).

Nan malas-berat pinggul tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya pula akan semacam itu-serupa itu saja. Sebab, inti berasal
tarekatullah
adalah bukan main-alangkah (mujahadah). Sekiranya ditekuni, jiwa si pesuluh akan hingga kepada sang Khalik, sehingga terjaga tata susila nan paripurna
(lengkap)
. Itulah gambaran karakter Muhammad SAW, sosok sempurna, manifestasi
(tajalli)
dari keagungan Halikuljabbar.
Rahmatallil’alamin
terbentuk pron bila seseorang mutakadim mengalami penyatuan dengan-Nya.

Nabi Muhammad diutus Allah lakukan membawa kita kepada
tarekat, atau jalan perbaikan akhlak yang wasilah ia tempuh. Sira sangat menginginkan kita bakal mereproduksi pengalaman mistisnya. Alquran seorang sebenarnya adalah kompilasi pengalaman dan pengetahuan mistis Utusan tuhan. Sehingga banyak isinya yang
mutasyabihat, sulit dipahami, tambahan pula harus ditafsir-tafsir.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by

Cowok SUFI:

Bahagia, Kaya dan Terpelajar.


Sumber: https://saidmuniruddin.com/2019/02/06/mengenal-3-jenis-tasawuf/