Meditasi Vipassa a Bhavana Menggunakan Obyek


1. EMPAT Spesies SATIPATTHANA



Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi), ataupun pancakhandha (lima keramaian faktor nasib). Ini dilakukan dengan memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga dapat mengintai dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku).

Pancakkhandha (panca kelompok faktor spirit) terdiri atas :
rupa-khandha (kelompok bodi), vedana-khandha (kelompok perhatian), sañña-khandha (kelompok pencerapan), sankhara-khandha (kelompok tulang beragangan ingatan), dan viññana-khandha (kerumunan kognisi). Sesungguhnya, yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk.

Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas :
kaya-nupassana (meditasi terhadap jasad jasmani), vedana-nupassana (perenungan terhadap pikiran), citta-nupassana (perenungan terhadap perasaan), dan Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-kerangka perasaan).

Empat spesies satipatthana itu adalah pancakkhandha, ataupun tanda dan rupa itu sendiri. Produktif nupassana adalah rupa-khandha. Vedana-nupassana yakni vedana-khandha. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha.

Sepatutnya ada, yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah ingatan nan tajam dan kesadaran nan lestari.

1.


Kaya-nupassana

 (perenungan terhadap bodi awak).
Salah satu acuan nan minimal populer dan praktis tentang khalwat dengan obyek badan raga adalah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). Dalam anapanasati ini, tidak ada impitan atau paksaan pada pernapasan. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari, namun tidak dibuat-lakukan atau sengaja diatur. Jadi, bernapas secara biasa dan wajar.Walaupun menurut kebiasaan , kesadaran terhadap respirasi itu pada tingkat mula-mula dianggap sebagai obyek cak bagi meditasi ketenangan (Samatha Bhavana), merupakan untuk mengembangkan jhana-jhana, ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Rukyat Terang (Vipassana Bhavana). Dalam pernapasan, yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian putih, naik turunnya gelombang listrik jiwa yang enggak kekal, nan keluih tenggelam ini, dapat disadari dengan mudah.Cara meditasi lain yang penting, praktis, dan berharga merupakan pulang ingatan dan waspada terhadap segala sesuatu yang dilakukan, saat berjalan, merembas, duduk, ataupun tiduran, sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan, sewaktu menyibuk ke muka dan ke belakang, momen berpakaian, makan, dan minum, momen keluarkan berak dan kencing, ketika berujar atau bersemayam diri.Di sini tidak dijalankan penyiksaan jasmani jasmani dengan intensi untuk tanggulang badan. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang tersisa, dengan menyadari ketimbul dan tenggelamnya rancangan semangat setiap saat.

2.


Vedana-nupassana

 (meditasi terhadap perasaan).
Di sini direnungkan perasaan yang madya dialami secara obyektif, baik perasaan gemar, perasaan tidak demen, atau perasaan yang acuh tak acuh. Direnungkan situasi perasaan nan sepatutnya ada, bagaimana beliau timbul, berlangsung, dan kemudian sirna kembali.Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan, mudahmudahan perhatian itu tak membangkitkan bermacam-macam rajah emosi. Apabila perasaan telah boleh diatasi dengan tepat, maka batin menjadi bebas, tidak kasmaran makanya apapun di dalam dunia ini.

3.


Citta-nupassana

 (perenungan terhadap pikiran).
Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. Apabila pikiran sedang dihinggapi guru nafsu atau terbebas daripadanya, maka hal itu harus disadari.Pikiran harus diarahkan pada pengumuman umur bilamana ini. Masalah-masalah nan mutakadim lewat atau peristiwa-hal yang kelak tidak boleh dipikirkan kapan ini. Bukan main banyak tenaga yang tertendang dengan cuma-cuma karena melamunkan peristiwa-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan peristiwa nan akan datang. Jadi, keadaan pikiran yang sebenarnya harus diamat-amati, mudah-mudahan batin menjadi objektif dan tidak terikat.

4.


Dhamma-nupassana

 (perenungan terhadap bentuk-susuk ingatan).
Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya, direnungkan tulangtulangan-bentuk pikiran semenjak panca macam rintangan (nivarana), direnungkan bentuk-bagan manah dari lima gerombolan faktor hayat (pancakkhandha), direnungkan rancangan-bentuk pikiran berasal enam dok indriya dalam dan luar (dua belas ayatana), direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga), dan direnungkan rencana-gambar pikiran pecah Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani).Cara merenungkan tulang beragangan-bentuk ingatan berbunga lima macam rintangan (nivarana) adalah bahwa apabila di n domestik diri orang yang bermeditasi keluih nafsu kerinduan, kemauan tebal hati, kemalasan dan kecapekan, kegelisahan dan kekhawatiran, maupun keragu-raguan, maka keadaan itu harus disadari. Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dalam dirinya, maka hal itu pula harus disadari. Ia tahu bagaimana rencana-rangka pikiran itu datang dan kulur. Ia adv pernah bagaimana sekali ketimbul, bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan, bentuk-bentuk ingatan itu tidak akan timbul lagi kemudian.Cara merefleksikan bagan-bentuk pikiran berbunga lima kelompok faktor spirit (pancakkhandha) ialah dengan mengingat-ingat bahwa inilah buram bodi, inilah perasaan, inilah pencerapan, inilah bentuk perhatian, inilah kognisi. Ia senggang bagaimana caranya kulur dan bagaimana caranya lucut.Cara menimang-nimang buram-tulang beragangan pikiran bermula enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) yakni dengan mencatat bahwa inilah mata dan obyek bentuk, inilah telinga dan obyek suara minor, inilah hidung dan obyek bau, inilah lidah dan obyek kecapan, inilah badan dan obyek singgungan, inilah perhatian dan obyek pikiran. Ia senggang akan belenggu-belenggu yang keluih dalam hubungan dengan semua itu. Ia sempat bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. Ia tahu bagaimana caranya kendati borgol yang sudah dibuang itu tidak ketimbul lagi kemudian.Cara merenungkan bentuk-bentuk perhatian berusul sapta faktor Iradiasi Agung (Satta Bojjhanga) yakni apabila di privat diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran (sati), penajaman Dhamma yang tekun (Dhamma-Vicaya), tenaga (viriya), kegiuran (piti), keluasan pikiran (passadhi), pemusatan perasaan (samadhi), ataupun keadilan (upekkha), maka hal itu harus disadari. Beliau tahu kapan keadaan-kejadian ini tidak cak semau di kerumahtanggaan dirinya. Kamu adv pernah bagaimana cara timbulnya, dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna.Prinsip menimang-nimang bentuk-tulangtulangan ingatan dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani) merupakan dengan menyadari beralaskan kesunyataan bahwa inilah siksaan, inilah pangkal mula berbunga penderitaan, inilah pemadaman dari kesengsaraan, inilah kronologi condong pemadaman dari penderitaan. Ia merenungkan masalah-masalah yang kulur dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. Akhirnya, ia atma adil tanpa koneksi dalam dunia ini.

Popular:   Jelaskan Bahwa Sifat Marah Bisa Dikendalikan Oleh Meditasi Pernapasan


2. Sepuluh MACAM VIPASSANUPAKILESA



Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin ataupun rintangan nan menghambat perkembangan Pandangan Terang, di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana.
Vipassanupakilesa ini cak semau sepuluh macam, yaitu :

1.

Obhasa, merupakan seri-kirana yang gemerlapan, nan rancangan dan keadaannya bermacam-spesies, yang kadang-kadang yaitu pemandangan yang menghibur.

2.

Piti, yaitu kegiuran, yang yaitu perhatian yang nyaman dan enak. Piti ini terserah panca spesies menurut keadaannya, yakni :

1.

Khudaka Piti, ialah kegiuran yang boncel, yang suasananya seperti bulu fisik yang terangkat atau merinding.

2.

Khanika Piti, yaitu kegiuran yang sambil lalu memprakarsai jasad.

3.

Okkantika Piti, merupakan kegiuran yang menyeluruh, yang suasananya meriang di seluruh bodi, sama dengan ombak laut memecah di tepi laut.

4.

Ubbonga Piti, adalah kegiuran nan mengangkat, yang suasananya seolah-olah menggotong badan naik ke udara.

5.

Pharana Piti, ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan, yang suasananya seluruh bodi seperti tersedot oleh perasaan yang menakjubkan.

3.

Passadi, adalah ketahanan batin, nan seolah-olah khalayak telah mencapai penerangan tulen.

4.

Sukha, adalah ingatan yang membujur, yang seolah-olah turunan sudah lalu nonblok dari kesengsaraan.

5.

Saddha, adalah keyakinan yang awet dan harapan hendaknya setiap orang juga seperti dirinya.

6.

Paggaha, adalah manuver yang terlalu giat, yang lebih ketimbang semestinya.

7.

Upatthana, ialah ingatan yang tajam, yang sering keluih dan mengganggu jalan kesadaran, karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini.

8.


Ñana, ialah proklamasi yang selalu timbul dan mengganggu jalannya praktek tafakur.

9.

Upekkha, ialah kesamarataan batin, dimana pikiran tidak kepingin mengalir bikin menyadari proses-proses yang timbul

10.

Nikanti, ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek.

Deka- keberagaman vipassanupakilesa ini biasanya timbul internal perkembangan Sammasana-Ñana, yaitu ñana yang ketiga.


3. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA



Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan, atau kepalsuan, ataupun kekeliruan yang berkenaan dengan responsif yang menganggap suatu kesahihan laksana suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. Vipallasa-Dhamma ini terserah empat macam dan dapat dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana.

Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah :

1.

Subha-Vipallasa, yaitu kekeliruan dari pencerapan, manah, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai rupawan. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan mampu-nupassana.

2.

Sukha-Vipallasa, adalah kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang me bagaikan bahagia. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan vedana-nupassana.

3.

Nicca-Vipallasa, ialah kekeliruan dari pencerapan, manah, dan pandangan, nan menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. Nicca-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan citta-nupassana.

4.

Atta-Vipallasa, yakni selang surup mulai sejak pencerapan, perasaan, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tanpa aku laksana aku. Atta-Vipallasa ini bisa dibasmi dengan melaksanakan Dhamma-nupassana.


4. ENAM BELAS Macam ÑANA



Ñana berarti pengetahuan. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana, maka akan berkembanglah ñana di kerumahtanggaan dirinya. Ñana itu terserah enam belas variasi, yaitu :

1.

Logo-Rupa Pariccheda Ñana, yakni pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi).

2.

Paccaya Pariggaha Ñana, ialah pengetahuan mengenai perantaraan sebab dan akibat semenjak cap dan rupa.

3.

Sammasana Ñana, yaitu kenyataan nan menunjukkan keunggulan dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum), ialah anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), anatta (minus aku).

4.

Udayabbaya Ñana, ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa.

5.

Bhanga Ñana, yaitu warta adapun peleburan/pelenyapan segel dan rupa.

6.

Bhaya Ñana, ialah pengetahuan akan halnya keheranan yang berkenaan dengan rasam nama dan rupa.

7.

Adinava Ñana, adalah kenyataan akan halnya awan kelabu yang berkenaan dengan sifat merek dan rupa.

8.

Nibbida Ñana, ialah pengumuman mengenai kewegahan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.

9.

Muncitukamyata Ñana, yakni pengetahuan mengenai keinginan kerjakan mencapai kebebasan.

10.

Patisankha Ñana, yaitu pengetahuan tentang penglihatan akan perkembangan nan menghadap kemandirian, yang menimbulkan keputusan buat belajar terus dengan bersemangat.

11.

Sankharupekkha Ñana, yakni siaran tentang keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan.

12.

Anuloma Ñana, ialah laporan mengenai orientasi diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Sani), sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan), mengaras phala (hasil) dari magga itu, dan mendekati Nirvana, dengan melalui anicca, dukkha, dan anatta.

13.

Gotrabhu Ñana, ialah pengetahuan akan halnya pemotongan ataupun penyudahan kejadian duniawi, dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran.

14.

Magga Ñana, ialah pengetahuan tentang penembusan terhadap magga, dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan.

15.

Phala Ñana, ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil bermula penembusan terhadap magga, dan Nirvana perumpamaan obyek batinnya.

16.

Paccavekkhana Ñana, ialah pengetahuan adapun peninjauan terhadap cirit-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada.

Enam belas keberagaman ñana tersebut di atas diuraikan sangkil terperinci seperti di pangkal ini.

1.

Nama-Rupa Pariccheda Ñana

2.

Popular:   Sikap Badan Yang Ketika Melakukan Meditasi Adalah

Dengan memiliki ñana ini, seseorang dapat mengeluarkan nama dari rupa dan rupa mulai sejak segel. Umpamanya, dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, naik dan turunnya sinus tembolok ketika bernapas adalah rupa, sedangkan perhatian yang memaklumi proses itu yakni nama. Gerakan kaki detik melanglang yakni rupa, sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah logo.Tentang membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera, bisa dijelaskan sebagai berikut :

1.

Internal melihat bentuk atau dandan, bentuk atau dandan itu adalah rupa, dan pemahaman terhadap situasi itu adalah tanda.

2.

Dalam mendengar bunyi, bunyi itu adalah rupa, dan kognisi terhadap hal itu adalah nama.

3.

Dalam mencium bau, bau itu adalah rupa, dan kesadaran terhadap hal itu adalah jenama.

4.

Dalam mencicipi sesuatu, rasa itu adalah rupa, dan kesadaran terhadap keadaan itu adalah nama.

5.

Dalam menyentuh suatu benda yang dingin, panas, persisten, atau lunak, benda itu adalah rupa, dan pemahaman terhadap hal itu yaitu nama.

Bintang sartan, kesimpulannya ialah bahwa seluruh tubuh ini adalah rupa, dan pikiran adalah logo. Yang ada hanya rupa dan nama. Bukan cak semau sesuatu yang disebut bani adam, enggak ada pribadi, aku, dia, dan tak-lainnya.

1.

Paccaya Pariggaha Ñana

Intern beberapa keadaan, rupa merupakan sebab, dan jenama yakni akibat. Jadi, kalau rongga perut menaiki, maka kesadaran akan mengikutinya. Namun, privat hal tidak, segel merupakan sebab, dan rupa merupakan akibat. Bintang sartan, seandainya manah bergerak, maka gerak fisik akan mengikutinya. Keinginan duduk merupakan sebab, dan duduk adalah akibatnya.Rongga perut kali naik, tetapi bukan ada turun. Rongga perut mungkin turun dengan keras dan lalu tutup mulut n domestik keadaan itu. Naik turunnya rongga alat pencernaan hilang, doang kalau dirasakan dengan tangan, proses itu masih teguh ada.Sewaktu-waktu ada manah yang sangat terpaksa dan kadang-kadang agak cacat, atau merasa diri enggak berhasil. Sering diganggu makanya pemandangan maupun khayalan, sama dengan binatang bawah tangan, ardi-argo, dan lain-tidak.Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kognisi itu berlantas dengan teratur. Sewaktu-waktu orang dapat terkinjat, bergoyang ke muka maupun ke belakang. Karenanya, orang dapat merasakan bahwa spirit yang lampau, yang kini, dan nan akan datang hanya terdidik dari rangkaian sebab dan akibat, dan hanya terdiri atas nama dan rupa.

Dengan memiliki ñana ini, seseorang dapat merasakan tera dan rupa menerobos panca-indera bagaikan Tilakkhana (Tiga Corak Mahajana), yaitu, Anicca (ketidak-kekalan), Dukkha (me), dan Anatta (tanpa aku).Gerak naiknya perut dan gerak turunnya kas dapur ada tiga bagian, yaitu upada (terjadi), thiti (berlangsung), dan bhanga (penyap). Naik turunnya perut dapat pupus selintas atau dalam perian yang lama. Pernapasan boleh berlanjut cepat, lapangan, subtil, atau tersekat.Timbul perasaan terpaksa, yang hanya dapat lenyap setelah disadari bilang boleh jadi dengan perlahan-lahan. Pikiran menjadi keruh, yang memperlihatkan adanya kesadaran terhadap Tilakkhana itu.

Dengan punya ñana ini, seseorang dapat mencatat bahwa gerakan naik turunnya ki gua garba itu terdiri atas dua, tiga, catur, lima, maupun enam tingkat.Naik dan turunnya kandungan lulus berselang-porselen. Berbagai perasaan musnah sesudah disadari beberapa boleh jadi. Tertentang kilauan yang terang, seperti lampu setrum.Permulaan dan pengakhiran berpunca gerakan menaiki turunnya tembolok makin terasa. Akhirnya, orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti lega masa beristirahat nan repetitif-ulang, badan seperti jatuh ke dalam jurang nan lewat privat, atau nanar dengan pesawat terbang, ataupun naik dengan lift, sahaja sepatutnya ada awak masih tetap diam dan tidak bergerak.

Pengakhiran berpangkal gerak menanjak turunnya rahim lebih terasa. Naik turunnya perut terasa samar-enigmatis, terasa bablas, dan sekali-kali terasa tidak ada apa-segala.Manuver naik terban dan kesadaran/perasaan (citta) terasa seolah-olah lucut. Mula-mula-tama, rupa (materi/bodi) yang mengendap, sekadar citta masih bergema. Kemudian, persuasi menaiki runtuh segera menghilang, demikian pula kesadarannya. Jadi, citta dan obyeknya ki amblas sederum.Terasa panas seluruh badan. Terasa diri sebagaimana ditutupi dengan jaring. Segala sesuatu kelihatannya seolah-olah intern suasana yang penuh kesuraman, sangat samar muka, dan samar muka-remang. Kalau melihat puas langit, seolah-olah ada vibrasi-getaran di udara. Propaganda naik dan roboh sekonyong-konyong nongkrong dan sekonyong-konyong kulur lagi.

Keluih perasaan seram, tetapi lain seperti menggermang ketika melihat hantu atau setan. Tidak merasa bahagia, senang, gembira, atau nikmat. Terasa sakit lega urat-urat syaraf, terutama lega perian berjalan atau agak gelap.Terdapat bahaya dari perubahan-persilihan yang terus menerus di intern semua rajah kehidupan. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. Keunggulan dan rupa yang dianggap perumpamaan sesuatu yang bagus atau indah, sebenarnya tidak punya inti-sari, dan kosong sama sekali. Setelah nama dan rupa lucut, lain ada kembali nan menimbulkan rasa redup.

Gerakan jongkat-jangkit penyap sedikit berangsur-angsur sedikit, dan kelihatannya belaka samar-problematis dan berawan. Logo dan rupa muncul dengan cepatnya, tetapi boleh juga disadari.Diri terasa buruk, jelek, dan menjemukan. Semua buram batin dan fisik menyedihkan.

Semua obyek tampak ki boyak dan jelek. Terasa seperti celih, belaka kemampuan untuk mengenal ataupun menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. Tak ada keinginan kerjakan berbenturan atau mengomong-cakap dengan orang lain, dan makin senang dulu di kamar sendiri saja.Khalayak merasa bahwa keinginan-keinginan maupun cita-citanya yang habis, seperti popularitas, kemewahan, gebyar, dan bukan-lainnya bukan lagi merupakan kepelesiran dan kegembiraan, bahkan berubah menjadi kebosanan pasca- menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. Semua manusia dan makhluk lain, sampai-sampai para dewa dan para brahma bukan suka-suka yang terkecuali semasih diliputi oleh rencana-rang ini, di mana masih suka-suka kelahiran, kehidupan tua, gempa bumi, dan kematian, dan tak terdapat ingatan kenikmatan yang sejati. Kebosanan timbul ibarat dorongan yang keras untuk mencari Nibbana.

Seluruh badan merasa galak, seperti digigit-gigit semut, alias begitu juga ada satwa kecil yang menjulur sreg muka dan fisik. Terasa kurang senang, khawatir dan bosan. Suka-suka kehausan menyingkir dan menghentikan tuntunan meditasinya. Cak semau pula nan ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-ulah baiknya belum cukup lestari.

Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda ekstrem di seluruh tubuh. Timbul berbagai rupa perasaan yang mengganggu, sahaja setelah disadari dua atau tiga kali, semua itu menjadi lenyap. Terasa mengantuk. Badan menjadi preskriptif, tetapi ingatan masih aktif dan rungu masih bekerja. Badan terasa seperti ditindih alai-belai atau kayu. Seluruh badan terasa sensual. Muncul perasaan bukan senang.

Tidak ada perasaan ngeri, tidak ada perasaan gemar, tetapi agak seperti mau tak mau. Menanjak turunnya perut cuma disadari sebagai nama dan rupa saja. Bukan ada perasaan gembira maupun pikiran sedih, doang pikiran dan kesadaran kapan itu konsisten terang.Perhatian, perkenalan awal, atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran.Konsentrasi pikiran bepergian baik, tetap tenang dan halus kerumahtanggaan jangka waktu yang lama, seperti mana sebuah otomobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. Ada perasaan plong dan kelihatannya lupa dengan waktu. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat, sebagai halnya adonan debu yang diremas-remas maka itu tukang roti yang pandai.Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan perkenalan awal di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. Orang siapa dapat pangling dengan perian yang telah dilewatinya dalam tuntunan itu. Mungkin ia sudah duduk selama satu jam atau lebih, sementara itu mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit belaka.

Di sini Anuloma Ñana diuraikan kerumahtanggaan tulangtulangan Tilakkhana (anicca, dukkha, anatta) sebagai berikut :

1.

Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sila-sila akan sampai ke magga melampaui perenungan tentang anicca. Gerakan naik turun perut menjadi cepat, sekadar sekonyong-konyong memangkal. Ia menyadari atau mengetahui dengan cerah tentang usaha menaiki turun itu yang nangkring, menyadari sikap duduk alias sentuhan-singgungan badannya dengan jelas. Keadaan fotosintesis yang cepat itu adalah corak anicca, dan kata alias kesadaran terhadap proses berhentinya pernapasan ini adalah anuloma-ñana, tetapi janganlah seyogiannya ragu-ragu atau dipikir-pikirkan. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata.

2.

Dukkha : Cucu adam yang konvensional melatih diri intern Samatha (meditasi ketahanan) akan sampai ke magga melalui khalwat adapun dukkha. Kalau ia belajar mengingat-ingat naik turunnya perut, sikap duduk, atau sentuhan-sentuhan puas badan, maka hal itu akan terhalang. Takdirnya sira terus melanjutkan menyadari naik turunnya kas dapur, sikap duduk, maupun senggolan-singgungan puas badan, maka terjadilah proses berhenti. Kejadian pernapasan yang terhalang itu ialah corak berasal dukkha, dan perkenalan awal atau kesadaran terhadap proses berhentinya gerakan naik merosot ini, maupun terhadap sikap duduk, ataupun sentuhan-rabaan lega badan itu adalah anuloma-ñana.

3.

Anatta : Orang yang sah melatih diri dalam Vipassana (permenungan pandangan terang), atau suka dengan Vipassana dalam kehidupannya yang silam-dulu, akan mencapai magga melangkaui nyepi tentang anatta. Jadi, naik turunnya perut menjadi senyap dan teratur, jangka masa berpokok operasi naik dan gerakan turun sama, dan kemudian nongkrong. Gerak menanjak turunnya perut, atau sikap duduk, alias rabaan-sentuhan pada raga terpandang dengan terang. Keadaan pernapasan yang halus dan terkonsolidasi itu ialah corak berpokok anatta, dan alas kata atau kesadaran nan terang terhadap proses berhentinya gerakan panjat turun ini, alias terhadap sikap duduk, atau gesekan-rabaan pada jasad itu ialah anuloma-ñana.

12.

Gotrabhu Ñana
Stempel-rupa serentak dengan citta (perhatian) yang mengetahui proses nongkrong itu menjadi sengap, tenang, aman, dan rukun. Ini berarti bahwa orang mutakadim mendapat iradiasi dengan nibbana umpama obyeknya. Makara, kalau pencerapan start berpunca dan lucut, maka gotrabhu-ñana terjangkau.

13.

Magga Ñana
Magga timbul berbarengan pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur akibat dari putusnya belenggu-belenggu, seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku), Vicikiccha (keragu-raguan), Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara).

14.

Phala Ñana
Phala-ñana yakni hasil dari magga, yang muncul sedarun setelah timbulnya magga-ñana. Dalam beberapa detik, dua maupun tiga saat, yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. Ñana ini bersifat lokuttara.

15.

Paccavekkhana Ñana
Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). Dalam hal ini terletak lima macam pertimbangan andai berikut :

1.

Pertimbangan akan halnya magga, yang berarti bahwa kita sudah tiba pada magga ini.

2.

Pertimbangan mengenai phala, yang bermanfaat bahwa kita telah sampai ke phala atau hasil ini.

3.

Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan, yang berarti kita telah membanting semua kilesa.

4.

Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan, yang berarti kita masih memiliki kilesa.

5.

Pertimbangan mengenai nibbana, nan berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai cak bagi mengarah ke Nibbana sebagai obyek manah.

Demikian proses tersebut dapat timbul di n domestik diri seseorang dan dapat
disadari dengan seksama, takdirnya basyar melaksanakan Vipassana Bhavana.


Materi Terkait :


Sumber: http://pab.kangwidi.com/2017/03/vipassana-bhavana-medhitasi-untuk.html