Meditasi Termasuk Dalam Latihan Olah . . .



Secara umum semadi artinya adalah menenangkan pikiran. N domestik teater dapat diartikan perumpamaan suatu usaha untuk merukunkan dan mengosongkan ingatan dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.

Intensi Permenungan :

1. Mengosongkan perasaan.

Kita mencoba mengosongkan perhatian kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam manah kita, tentang bervariasi problem baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu bermula otak kita agar perhatian kita adil dari barang apa beban dan perhubungan.

2. Meditasi sebagai jembatan.

Disini alam latihan kita sebut laksana alam “semu”, karena segala sesuatu yang kita untuk dalam latihan merupakan semu, tidak aliansi kita buat dalam atma sehari-hari. Kaprikornus setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-masa. Untuk itulah kita memerlukan suatu sirat nan akan membawa kita berusul alam vitalitas kita sehari-masa ke duaja tuntunan.

Kaidah tafakur :

Posisi tubuh bukan tertawan, kerumahtanggaan arti tidak dipaksakan. Doang yang jamak dilakukan merupakan dengan duduk bersila, bodi usahakan redup. Cara ini dimaksudkan untuk membagi bidang/kolom lega rongga jasmani jihat dalam.
Atur pernafasan dengan baik, hirup udara lapangan-pelan dan lepaskan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar internal tubuh kita.
Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang suka-suka disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, kelu, bungkam bukan bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk meringkuk.
Garitan :

Plong suatu detik bisa jadi kita kesuntukan rangsangan bakal berlatih, seolah-olah ketimbul kelambanan internal setiap gerak dan mulut. Kejadian ini besar perut terjadi akibat diri berlebih lelah atau berlebih banyak manah. Jikalau hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk membiasakan, maka akan sia-sia saja. Mandu untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Permenungan juga perlu dilakukan bila kita akan dolan di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum signifikan “pemusatan”. Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan perasaan terhadap kalimantang cak bimbingan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita bukan terganggu dengan ingatan-pikiran tidak, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :

Kita harus melakukan dahulu perenungan. Kita kosongkan terlampau pikiran kita, dengan cara-kaidah yang mutakadim ditentukan. Kita buat sesempurna mungkin agar perhatian kita serius kosong dan siap berkonsentrasi.
Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu elemen ingatan. Rasakan bahwa detik ini sedang latihan, kita memasuki umbul-umbul semu yang tidak kita dapati dalam nasib sehari-waktu. Jangan menimang-nimang yang lain, selain bahwa kita detik ini semenjana kursus teater.
Gubahan :

Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, pemudi pemalu dan sebagainya, baik itu n domestik latihan maupun pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan kadang kala merefleksikan yang lain.
VOKAL dan PERNAFASAN
PERNAFASAN
Koteng artis gelanggang, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka bakal memperoleh suara minor nan baik anda memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/organ-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan maupun dalam pementasan.

Ada catur diversifikasi respirasi yang absah dipergunakan :

Ø Pernafasan dada

Plong pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke atrium sehingga dada kita membusung.

Di kalangan basyar‑orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping trik tampung atau kapasitas dada buat Udara lampau sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.

Ø Pernafasan perut

Dinamakan pernafasan ki gua garba jika udara nan kita hisap kita masukkan ke intern ki gua garba sehingga makanan kita menggelembung,

Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena enggak banyak mengganggu gerak dan pusat tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.

Ø Pernafasan model

Pada pernafasan arketipe kita mempergunakan dada dan tembolok untuk menyimpan udara, sehingga gegana yang kita serap silam banyak (maksimum).

Pernafasan acuan dipergunakan maka itu sebagian artis panggung yang galibnya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.

Ø Pernafasan diafragma

Pernafasan diafragma yakni jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya lambung, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga masuk mengembang.

Menurut perkembangan akhir‑intiha ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena lain banyak mengganggu gerak dan anak kunci tampungnya bertambah banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.

Latihan‑cak bimbingan pemapasan :

• Pertama kita menyerap gegana sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke kandungan, sampai di haud napas kita tahan. Kerumahtanggaan hal demikian tubuh kita gerakkan turun setakat senggat maksimurn sumber akar. Setelah sampai di dasar, silam naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan sekali lagi.

• Mandu kedua ialah menarik berasimilasi dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.

• Cara berikutnya adalah menarik napas dalam‑internal, kemudian lempar adv amat congor dengan mendesis, menggumam, atau cara‑prinsip lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.

Coretan : Bila telah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang tak.

VOCAL
Untuk menjadi seorang anak ningrat drama yang baik, maka sira harus mernpunyai sumber akar vocal yang baik pula. “Baik” di sini diartikan sebagai :

• Dapat terdengar (n domestik jangkauan spektator, sampai pemirsa, yang minimum belakang).

• Jelas (artikulasi/pengucapan nan tepat),

• Tersampaikan misi (pesan) bermula dialog nan diucapkan.

• Lain monoton.

Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka wajib dilakukan pelajaran‑cak bimbingan vocal. Banyak cara, yang dilakukan lakukan melatih vocal, antara lain :

• Tariklah nafas, lantas lepaskan lewat mulut sambil menghentakan suara miring “waduh…” dengan energi suara. Lakukan ini tautologis kali.

• Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat ucapan sambil menggumam “mmm…mmm…” (suara minor keluar lalu hidung).

• Seperti mana latihan kedua, hanya buang dengan suara mendesing,”ssss…….”

• Isap peledak banyak‑banyak, kemudian lempar vokal “aaaaa…….” sampai senggat nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.

• Separas dengan tutorial di atas, belaka nada (tataran rendah suara miring) diubah-ubah jungkat-jungkit (internal suatu tekanan listrik nafas)

• Lepaskan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.

• Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o”, “ai‑ao‑au‑ae‑”, “oa‑oi‑oe‑ou”, “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑oui‑oua‑uei‑uia‑……” dan sebagainya.

• Berteriaklah sekuat‑kuatnya mencapai tingkat histeris.

• Bertutur, berbicara, berteriak langsung berialan, jongkok, berlingkar‑gulung, berlari, bergerak‑putar dan berbagai macam variasi lainnnya.

Catatan :

Apabila suara miring kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini jamak terjadi apabila kita baru pertama kelihatannya melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑sputum di rengkung terkikis, bila kita berfirman berkanjang. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah sangka longgar dan gelimir suara (larink) mutakadim menjadi elastis. Maka kritik yang serak tersebut akam menguap dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah bersisa memaksa alat‑alat suara bakal bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan boleh destruktif alat‑perabot suara miring kita. Berlatihlah dalam takat-batas nan wajar.

Kursus ini biasanya dilakukan di duaja termengung. misalnya di gunung, di siring bengawan, di damping serasah dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑celaan di sekeliling kita, disamping cak bagi menghayati hadiah Halikuljabbar.

ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater merupakan pengucapan kata melalui ucapan agar terdengar dengan baik dan bermoral serta jelas, sehingga telinga mustami/penonton dapat mengarifi plong prolog‑alas kata nan diucapkan.

Pada pengertian artikulasi ini boleh ditemukan sejumlah sebab yang mongakibatkan terjadinya pelafalan yang kurang/tidak ter-hormat, merupakan :

Ø Adv minim artikulasi liwa : invalid artikulasi ini dialami oleh orang nan berujar cemas atau orang yang sulit mengucapkan salah suatu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.

Ø Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena invalid pelafalan, melainkan terjadi serta merta‑masa. Hal ini gegares terjadi pada pengucapan naskah/dialog.

Misalnya:

o Kehormatan menjadi kormatan

udara murni Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.

Penuturan jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.

Ø Artikulasi tak tentu : kejadian ini terjadi karena pengucapan introduksi/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi pembukaan mepet tanpa adanya jarak adakalanya.

Bakal mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan

• Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut sreg setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan irama‑nada tinggi, rendah, nasal, katai, besar, dsb. Lagi ucapkanlah dengan berbisik.

• Variasikan dengan artikulasi lambat, cepat, naik, turun, dsb

• Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk ucapan.

GETIKULASI
Getikulasi ialah suatu cara untuk memenggal prolog dan menjatah tekanan pada kata atau kalimat sreg sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi juga merupakan bagian mulai sejak dialog, saja saja fungsinya nan farik.

Getikulasi tidak disebut pemancungan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang‑kadang memiliki keefektifan nan sama. Misalnya kata “Pergi !!!!” dengan kalimat “Gotong kaki dari sini !!!”. Juga privat sandiwara tradisional bisa saja terjadi sebuah dialog nan berbentuk “Lalu ?” , “Kenapa ?” ataupun “Tidak !” dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan privat menjagal kata pada sebuah dialog.

Getikulasi harus dilakukan sebab kata‑alas kata nan pertama dengan kata berikutnya privat sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berlainan. Misalnya: “Pemilik kelewatan. Memencilkan!”. Antara “Tuan kelewatan” dan “Pergi” harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berlainan.

Keadaan ini dilakukan hendaknya lebih lampias internal memberikan tekanan sreg kata. Misalnya “Empunya kebangetan”……. (berbintang terang tekanan), “Menghindari….” (bernasib baik tekanan).

INTONASI
Kalau pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Nan dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑tekanan yang diberikan lega perkenalan awal, bagian kata atau dialog. Internal tatanan intonasi, terletak tiga varietas, ialah :

Tekanan Dinamik (gentur‑lenyai)
Ucapkanlah dialog pada skrip dengan mengamalkan penekanan‑riset pada setiap perkenalan awal yang memerlukan penekanan. Misainya saya lega kalimat “Saya membeli pensil ini” Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti nan farik.

– SAYA membeli potlot ini. (Saya, tidak orang lain)

– Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, lain, cak memindahtangankan)

– Saya membeli PENSIL ini. (Potlot, bukan anak kunci tulis)

Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah menyabdakan kalimat/dialog dengan memakai musik/aksen, artinya lain mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah mendaras/menitahkan dialog dengan Suara yang mendaki merosot dan berubah‑ubah. Bintang sartan nan dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya satu kata.

Tekanan Tempo
Tekanan tempo ialah memperlambat atau mempercepat pengujaran. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Bakal latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑selisih. Lambat atau cepat silih berganti.

WARNA SUARA
Dempang setiap orang mempunyai corak suara nan farik. Demikian juga atma sangat mempengaruhi rona suara. Misalnya namun seorang poyang, akan berbeda warna suaranya dengan koteng momongan muda. Seorang ibu akan farik warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki‑laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan rona suaranya.

Bintang sartan jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus menuding artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus menyerang pun corak celaan. Andai tutorial dapat dicoba merubah‑rubah corak suara dengan mengikuti warna suara miring seorang tua bangka, pengemis, anak kecil, dsb.

Selain adapun dasar‑sumber akar vocal di atas, n domestik sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam babak tersendiri. Untuk kursus cobalah membaca naskah berikut ini dengan memperalat asal‑dasar vocal seperti di atas.

(Sang Dul masuk tergopoh‑gopoh)

Dul : Aduh Selongsong….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang ii kabupaten, Pak.

Paiman : Goblog ! Kenapa Agak kelam ? Kenapa bukan kau kumpulkan orang-orangmu bagi mengusirnya ?

Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau mencelakakan saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah lalu tidak ada orang ii kabupaten nan masuk ke daerah kita, hei ! (sedarun menerkam Paiman).

Paiman : Betapa, Pak, sudah lama tidak ada sosok kota nan ikut.

Sampul Gondo : (membentak sambil menjorokkan) Bungkam Kamu !

(kepada si Dul) Di mana dia saat ini ?

Dul : Di sana Cangkang, mengintip orang mandi di kali sambil motret.
GERAK
Sport
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari hal ihwal gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal adapun olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), terlampau perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan ataupun pementasan. Dengan berolah bodi kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi jasmani nan maksimal.

Selain itu latihan jasmani juga mempunyai pamrih melatih atau melemaskan otot‑otot kita supaya plastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian‑babak tubuh kita yang normatif sejauh latihan-latihan nanti.

Pelaksanaan olah awak :

Purwa sekali silakan kita perhatikan dan rasakan dengan segenap lima indera yana kita punyai, tentang apa rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh bodi kita, mulai berpunca ujung rambut setakat ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
– Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Bangun kepala/leher privat hal lunglai, sebagai halnya orang mengantuk.

– Putar kepala pelan‑alun-alun dan rasakan kelokan‑lekukan di gala, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke birit dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali‑bisa jadi. Sadar, pelan‑alun-alun dan rasakan !

– Balik bahu ke arah depan berkali‑kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu lebih lagi suntuk, yunior kemudian bahu kiri dan kanan diputar serempak.

– Miring bahu kanan ke arah depan, sementara itu bahu kiri diputar ke sebelah belakang. Demikian pula sebaliknya.

– Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, mengsol batas tikungan, putar tangan keseluruhan. Bagi berkali‑kelihatannya, permulaan kepercayaan dahulu, kemudian tangan kiri, mentah bersama‑sepadan.

– Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, pantat. Sekali lagi sebaliknya.

– Ambil posisi meleleh nan model, lalu sanggang kaki kanan dengan tumpuan puas suku kiri. Jaga jangan setakat merosot. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, balik seluruh kaki kanan. Lakukan juga puas kaki kidal sesuai dengan cara di atas.

– Seumpama pembuka dan penutup olah jasmani ini, lakukan iari‑lari di tempat dan meloncat‑lompat.

Diversifikasi‑Macam Gerak :

Setiap anak adam memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak nan bisa dilakukan khalayak. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam‑macam gerak Latihan‑kursus akan halnya gerak ini harus diperhatikan secara solo maka itu seseorang yang berkecimpung intern permukaan teater.

Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, ialah

1. Gerak teaterikal

Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai kerumahtanggaan teater, yaitu gerak yang lahir bermula keinginan bergerak nan sesuai dengan segala yang dituntut intern naskah. Makara gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan skrip sandiwara boneka.

2. Gerak non teaterikal

Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam hidup sehari‑hari.

Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam‑macam, secara garis besar bisa kita bagi menjadi dua, adalah gerak lembut dan gerak bernafsu.

Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq bertambah dikenal sekali lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh mulai sejak intern/emosi, misalnya murka, tersentuh perasaan, gembira, dsb.

Gerak Kasar
Gerak kasar merupakan gerak mulai sejak seluruh/sebagian anggota jasmani kita. Gerak ini ketimbul karena adanya supremsi baik mulai sejak luar maupun mulai sejak dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi catur penggalan. yaitu :

Business, merupakan gerak‑gerak mungil yang kita untuk tanpa munjung kognisi Gerak ini kita lakukan secara spontan, sonder terpikirkan (refleks). Misalnya :

– sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara enggak sadar kita menggerak‑gerakkan tangan atau kaki mengikuti musik musik.

– sewaktu kita sedang belajar/mendaras, kaki kita digigit nyamuk malaria. Secara refleks tangan kita akan mencentang suku yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada membiasakan.

Gestures, yaitu gerak‑gerak besar nan kita kerjakan. Gerak ini yaitu gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak nan terjadi setelah mujur perintah berusul diri/dedengkot kita Lakukan mengamalkan sesuatu, misalnya hanya batik, mengambil gelas, jongkok, dsb.
Movement, yaitu gerak perpindahan tubuh dari tempat nan satu ke tempat yang lain. Gerak ini enggak sekadar minus pada melanglang namun, tetapi dapat lagi berupa berlari, bergelung‑gulung, melompat, dsb.
Guide, yaitu cara berjalan. Mandu berjalan disini dapat bermacam ragam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara bepergian seorang anak mungil, berbeda pula dengan cara berjalan makhluk nan sedang mabuk, dsb.
Setiap kampanye yang kita untuk harus n kepunyaan arti, motif dan pangkal. Hal ini harus tekun diperhatikan dan harus diyakini etis-sopan maka dari itu seorang pemain sandiwara apa maksud dan maknanya ia mengerjakan gerakan yang demikian itu.

Kerumahtanggaan latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak pangkal”. Kursus mengenai gerak-gerak asal ini kita untuk menjadi tiga bagian, yaitu :

• Gerak pangkal bawah : posisinya kerumahtanggaan keadaan duduk bersila. Di sini kita doang dapat bergerak sebebasnya mulai semenjak wadah kita berdasar sampai pada batas atasan kita.

• Gerak dasar tengah : posisi kita momen ini dalam keadaan setengah menggermang. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas pengarah.

• Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa terserah batas.

Intern melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang netral, sani dan artistik.

Cak bimbingan-latihan gerak yang enggak :

Pelajaran cermin.
dua makhluk berdiri blak-blakan satu sama enggak. Riuk sendiri lalu mewujudkan gerakan dan yang lain menirukannya, persis begitu juga apa nan dilakukan temannya, seolah-olah medium tegak didepan cermin. Cak bimbingan ini dilakukan bergantian.

Latihan gerak dan tatap mata.
seperti mana tutorial arketipe, saja hari tatap muka alat penglihatan kedua anak adam tadi saling lihat, seolah kedua pasang mata sudah saling memafhumi barang apa yang akan digerakkan tulat.

Latihan melenturkan tubuh.
seseorang agak kelam dalam situasi lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-erot apalagi dahulu.

Latihan gerak bersama.
suatu kerubungan yang terdiri dari beberapa orang mengamalkan gerakan yang sama sama dengan dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.

Latihan gerak mengalir.
suatu kerubungan yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk kalangan. Kemudian salah seorang mulai mengerjakan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengimak gerakan tangan orang yang meruntun tangannya. Sejauh mengamalkan kampanye, tangan kita jangan sampai terlepas berusul tangan imbangan kita. Latihan ini dilakukan dengan mengatupkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan nan artistik.

GERAK DAN VOCAL
Setelah kita berlatih akan halnya vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mengepas cak bagi memadukan antara vocal dan gerak. Banyak tulangtulangan-bentuk latihan yang boleh dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat nan panjang sambil berlari-lari, nocat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan mengarun-mutar bos, mengarun-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berfaedah sekali bagi kita lega waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita besar perut serasi, moga gerak kita tidak terlalu banyak berkarisma pada vocal.
PENGGUNAAN PANCA INDERA Intern TEATER
Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Privat kehidupan sehari-periode kita comar memperalat lima indera kita tersebut, baik secara kontan ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita sekali lagi harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik sekali lagi.

Supaya alat-alat indera kita dapat berkreasi semaksimal mana tahu, tentu cuma harus dilatih. Peristiwa ini sangat perlu dalam teater kerjakan membantu kita n domestik membentuk ekspresi. Bentuk-bagan latihan yang boleh dilakukan, antara tidak :

Mata

Duduk bersila sedarun menatap satu noktah di dinding. Konsentrasi tetapi puas tutul tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.

Telinga
¨ Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali pukulan plong benda yang sudah ditentukan.

¨ Duduklah ditepi urut-urutan yang ramai, berbarengan memejamkan ain. Cobalah buat mengenali suara barang apa saja yang masuk ke telinga, misalnya kritik truk, bis, sepeda biang keladi, suara tawa seseorang diatas roda penggerak, kritik sepatu diatas trotoar,dsb.

Hidung
¨ Duduk ditepi jalan sambil menutup mata ain, kemudian cobalah buat mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau peluh orang yang lewat didepan kita, bau parfum, gas knalpot, tabun rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.

¨ Ciumlah tangan, kaki, rok, dan seandainya bisa seluruh raga kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.

Kulit

¨ Rabalah tangan, kaki, superior dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap raga.

¨ Rabalah dinding, ubin, meja, alias benda-benda tidak. Perhatikanlah bagaimana rasanya, hambar alias panas. Sekali lagi sifatnya halus atau berangasan dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terlayang.

Lidah

¨ Rabalah dengan lidah bagaimana rangka mulut kita, bagaimana bentuk persneling, langit-langit, bibir, dsb.

¨ Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, mandil, batang pensil, tangan nan berkeringat,dsb.
KARAKTERISASI
Karakterisasi ialah suatu usaha untuk menampilkan karakter alias watak berusul pencetus yang diperankan. Tokoh-biang kerok dalam drama, adalah sosok-orang nan berkarakter. Jadi seorang anak tonsil sandiwara bangsawan yang baik harus bisa menyorongkan khuluk dari pengambil inisiatif nan diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh tetapi, melainkan lagi n kepunyaan watak dari tokoh tersebut.

Agar kita boleh memainkan tokoh yang berkepribadian sebagaimana yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih lewat mengenal watak dari tokoh tersebut. Satu laksana, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara kamil bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia sendiri yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah doang sekedar ragam nan dibuat-buat.

Demikianlah, kita menyadari bahwa kerjakan memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, cuma juga wataknya. Misalnya :

Penggagas (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, kecut hati)

Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (ramah, ramah, jujur, mengalah)

Kerjakan melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :

Dengan menirukan gerak-gerak dasar nan biasa dilakukan oleh pengemis, poyang, anak boncel, alkoholis, anak adam buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak sumber akar disini merupakan cirri-ciri khas)
Dua orang alias lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah suatu memberi perintah kepada temannya bikin bertindak / main-main ibarat dedengkot dari segala apa yang diceritakan. Lakukan membantu memberi suasana, bisa memakai musik pengiring.
Untuk memperdalam tentang karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Bikin itu marilah kita kenali suatu persatu.

OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / kecam seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Selepas kita mengenal segala sesuatu mengenai tokoh tersebut, kita akan memahami wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.

ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas satu peristiwa nan akan terjadi maupun nan sudah lalu terjadi, baik yang dialami koteng maupun yang tidak. Keadaan itu dapat maujud pengalaman, hasil observasi, mimpi, segala apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, peluang-peluang, petunjuk, dsb.

Prinsip-cara melatihnya antara enggak :

Menyorongkan data-data akan halnya suatu kerugian, kebakaran, dsb.
Bercerita tentang penjelajahan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
Menyampaikan pendapat akan halnya lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
Menyampaikan kehausan bikin menjadi raja, polisi, betara, burung, artis, dsb.
Zirnikh-angan bahwa nanti akan terjadi perang antar planet, dsb.
IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara bakal menganggap sesuatu nan tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah kejadian, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah mudahmudahan kita lain namun burung laut meranggitkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, pirsawan akan mengintai bahwa segala apa yang ditampilkan tampak tekun terjadi walaupun sesungguhnya tak tampak, tekun dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji pada saat kita madya memainkan sebuah pantomim.

Sebagai lengkap, intern naskah Kompleks, terjadi dialog antara atasan koor dengan roh suci. Atma suci disini sekadar terdengar suaranya, tetapi anak komidi harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Privat contoh lain dapat kita lihat puas sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca alat penglihatan gelap didepan toko itu. Perhatikan kopiah turki dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku kawin mengawasi tas dan ketopong itu dipakai Nyonya Lisa beberapa momen sebelum terjadi genosida”. Yang dibicarakan motor diatas selayaknya hanya khayalan saja. Perempuan ki mawas mata palsu, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat maupun tidak tampak dalam pentas.

Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi ialah benda atau sesuatu nan dibendakan, termasuk disini segala apa resan dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-pendirian bak berikut :

Sebutkan sebanyak siapa benda-benda yang terlintas di pencetus kita. Jangan setakat menyebutkan sebuah benda bertambah mulai sejak satu boleh jadi.
Sebutkan sebuah benda nan tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan rajah benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
Menganggap alias memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu merupakan suatu produk yang sangat membawa gelak, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
Menganggap sesuatu benda mempunyai sifat nan farik-selisih. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi masin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang seronok, hambar, kasar, dsb.
EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai kata majemuk ingatan. Emosi boleh berupa perasaan tersentuh perasaan, marah, benci, bingung, gugup, dsb. N domestik sandiwara bangsawan, seorang anak tonsil harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memasrahkan corak lakukan tokoh yang diperankan dan untuk menyundul fiil motor tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, garis wajah (ekspresi), pengujaran dialog, pernafasan, karsa. Niat disini timbul sehabis emosi itu terjadi, misalnya sehabis berang maka tinbul karsa cak bagi menapuk, dsb.

PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengkritik serta mempelajari isi berusul naskah kerjakan diterpakan tubuh kita. Misalnya pada perian kita berperan bak Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita enggak lagi bermain sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Kemasan Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah sandiwara boneka.

Kaidah-cara yang dipergunakan dalam penghayatan yakni :

Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat memaklumi segala nan dikehendaki oleh skrip, problema segala nan ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti bersumber skenario.
Berbuat gerak serta dialog yang terwalak dalam naskah. Kaprikornus disini kita sudah membujur gambaran akan halnya akting berpangkal otak nan akan kita perankan.
Seumpama latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati lampau musiknya yunior mulailah mendaras.
BLOKING
Yang dimaksud dengan bloking adalah kedudukan tubuh pada ketika diatas pentas. Dalam permainan drama, bloking yang baik lalu diperlukan, maka itu karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol badan kita hendaknya tidak merusak bloking. Yang dimaksud dengan bloking yang baik adalah bloking tersebut harus sekufu, utuh, beraneka macam dan memiliki titik pusat manah serta wajar.

Seimbang
Separas berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas tempat (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat arah. Bintang sartan semua bagian panggung harus terwakili maka itu anak komidi atau benda-benda yang ada di medan. Penjelasan makin lanjut tentang keseimbangan tempat ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

Utuh
Utuh berarti bloking nan ditampilkan sepatutnya adalah suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus ubah menunjang dan tidak ganti menutupi.

Beragam
Bervariasi artinya bahwa geta pemain enggak disuatu palagan belaka, melainkan membentuk atak-atak baru sehingga pirsawan tak jenuh. Keadaan koteng anak tonsil jangan seperti mana singgasana pemain lainnya. Misalnya sekufu-sebabat berdiri, proporsional-sama jongkok, condong ke arah yang sama, dsb. Kecuali sekiranya memang dikehendaki oleh skenario.

Memiliki titik pusat
Punya titik pusat artinya setiap penampilan harus n kepunyaan noktah pusat perhatian. Kejadian ini penting artinya lakukan memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton cak bagi mengawasi dimana sebenarnya tutul pusat dari penggalan yang madya berlangsung. Antara pemain kembali jangan saling mengebur sehingga akan menyuramkan dimana sememangnya letak titik pikiran.

Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain sandiwara alias benda-benda haruslah tertumbuk pandangan wajar, lain dibuat-buat. Disamping itu setiap peletakan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Intern sandiwara kontemporer sewaktu-waktu skrip enggak memaksudkan bloking nan sempurna, bahkan sekali-kali pula sutradara alias naskah itu sendiri sejajar sekali meninggalkan prinsip-kaidah bloking. Cak semau juga tulisan tangan yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.

KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pengalokasian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk mendukung bloking, dimana setiap bagian pentas mempunyai maslahat khusus. Berikut ini yaitu skema komposisi pentas.

PENONTON
Kadar kemujaraban pentas dapat dilihat plong sa-puan nomornya. Bagian depan bertambah awet daripada bagian birit. Bagian kanan kian abadi daripada bagian kidal. Maka dari itu karena itu jangan memangkalkan diri alias benda yang predestinasi kekuatannya tinggi pada fragmen yang lestari. Carilah tempat-tempat nan sesuai agar bloking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus loyal kerumahtanggaan batas-batas yang wajar, jangan plus dibuat-bikin.
Naskah
Setelah kita mengenal berbagai variasi dasar yang diperlukan cak bagi bertindak drama, akibatnya sampailah kita puas naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tercatat dari suatu drama. Sebuah skenario kendatipun mutakadim dimainkan acap kali, dalam bentuk nan berlainan-beda, skrip tersebut enggak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa sandiwara bangsawan yang dipentaskan bersendikan naskah nan sejajar dapat berlainan mutunya. Hal ini terjemur puas penggarapan dan keadaan, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus punya tema, pemain / lakon dan plot atau susuk kisahan.

Tema
Tema adalah rumusan inti sari kisah yang dipergunakan kerumahtanggaan menentukan arah dan maksud narasi. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.

Lakon
Intern cerita drama lakon merupakan atom yang paling aktif yang menjadi dalang cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki fiil, mudah-mudahan dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya cak semau 3 ukuran yang ditentukan merupakan :
v Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani

kehidupan, tipe kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.

v Ukuran sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan

status sosial, pendidikan, pegangan, peranan dalam masyarakat, roh pribadi, rukyat kehidupan, agama, hobby, dll.

v Dimensi psikologis ; latar birit kejiwaan

temperamen, mentalitas, kebiasaan, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, kepiawaian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.

Apabila kita melengahkan salah suatu semata-mata berpangkal ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan menuju menjadi tokoh yang mati.

Plot
Plot merupakan silsilah atau rang cerita. Plot yaitu satu keseluruhan peristiwa didalam tulisan tangan. Secara garis segara, plot drama dapat dibagi menjadi sejumlah bagian yaitu :

§ Pemaparan (eksposisi)

Bagian pertama berpunca suatu tontonan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Puas bagian ini diceritakan mengenai arena, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada pemirsa disajikan sketsa narasi sehingga spektator dapat meraba berasal mana cerita ini dimulai. Kaprikornus eksposisi berfungsi seumpama pengantar cerita.

§ Dialog

Dialog berisikan introduksi-kata. N domestik drama para lakon harus berbicara dan apa nan diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, memprakarsai plot maju, dan membukakan fakta.

§ Komplikasi semula atau konflik awal

Jikalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih kerumahtanggaan situasi seimbang maka pada episode ini mulai kulur satu perselisihan atau keburukan. Konflik merupakan kekuatan tokoh drama.

§ Klimaks dan krisis

Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu problem yang bergerak dalam satu klimaks.

§ Penyelesaian (denouement)

Sandiwara boneka terdiri dari sekian bagian, dimana didalamnya terdapat krisis-keruncingan yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir seterusnya diikuti adegan penyelesaian.
PENYUTRADARAAN
Apakah sutradara itu ?
Sutradara ialah orang nan memelopori sebuah proses berkecukupan, intern hal ini yakni seni peran dan dunia pertunjukkan.
Apakah tugas berbunga sutradara ?
Tugas sutradara secara garis besar adalah kemampuan cak bagi ki melatih seluruh potensi serta partikel dalam sebuah proses kreatif.
Anasir dan potensi bersumber proses kreatif menghampari :
1. naskah ; seorang sutradara harus makmur mengeksplorasi secara maksimal terhadap seluruh unsur berusul naskah nan akan di angkat privat proses berbenda tersebut
2. pemain sandiwara ; sutradara harus mampu menujukan pemain sandiwara agar boleh maksimal memerankan lakon yang ada
3. cak regu kreatif ; sutradara harus berharta bekerja setimbang dan menyatukan visi serta gagasan dalam penggarapan proses kreatif.
Sebenarnya pas banyak unsure penunjang kerumahtanggaan sebuah kerja berlimpah, tapi saya lebih menggarisbawahi pada tiga peristiwa diatas, sebab menurut saya tiga situasi itu adalah masalah primer internal sebuah proses berkecukupan.
Apakah penyutradaraan itu ?
Penyutradaraan merupakan tekhnik atau cara kerja berpokok seorang sutradara intern melakukan kerja berkecukupan.
Makara di wilayah ini setiap sutradara memiliki prinsip kerja nan berbeda-beda kerumahtanggaan berproduksi.
Prinsip kerja yang menurut juru tulis ideal ialah mandu kerja yang terevaluasi walaupun banyak terbit sutradara yang cak semau enggak mempekerjakan ukuran, karena bisa membatasi ide kreatif. Tetapi jika tak ada batasan yang terukur ditakutkan kerja menjadi distorsi kemana-mana.
Kerjakan penulis kerja terukur itu diperlukan sebab menurut panitera itu adalah itu prinsip pendisiplinan kerja.
Sonder disiplin kerja kita akan terus terbuai dalam imajiner nan tiada henti. Untuk itu sutradara harus memiliki persiapan kerja. Langkah kerja ini menjadi acuan berpunca awal hingga akhir berpokok produksi kerja kreatif tersebut.
Ancang kerja itu meliputi :
1. penyaringan tulisan tangan
2. observasi
3. pembentukkan skuat kreatif
4. casting pemain
5. membuat schedule tutorial

6. proses kreatif yang meliputi :

a) eksplorasi naskah
b) pencarian rancangan pertunjukan
c) evaluasi per sesi perjumpaan
7. pendetailan proses congah
8. labotary

9. gladi resik
10. hasil produksi ( pementasan atau kerja kreatif yang tidak)
Untuk itu seorang sutradara harus mnguasai bawah – dasar teater ( dramaturgi) nan bersusila, missal :
1. hukum panggung
2. perwatakkan
3. keaktoran
4. pencahayaan
5. setting
6. bidang
7. silsilah
8. bloking
9. eksplorasi tulisan tangan
10. dll
selain itu seorang sutradara dituntut banyak membaca refrensi sebagai perpanjangan wacana. Dan sutradara harus meiliki kepekaan seni, kepekan rasa, sensitivitas estetik dan kepekaan nan lainnya yang bisa mendukung proses kreatifnya.

Popular:   Apa Yang Dimaksud Dengan Meditasi Dan Mediasi


Sumber: http://penulisberkoar.blogspot.com/2010/06/meditasi-dan-konsentrasi-dalam-dunia.html