Meditasi Dengan Objek Menyadari Keluar Masuknya Udara Lewat Hidung Disebut

Besaran Views: 38361
Share :
Facebook
Twitter ShareTwitter
Google+ ShareGoogle+



Timbul kesukaan, ketenangan dan ingatan nan jernih dalam diri anda. Detik pikiran ini semakin bertambah kuat, unjuk kegaduhan seperti raga diselimuti ketenangan, juga seperti selimut halus yang telah direndam di air yang dingin. Anda pun menjadi mati tapi kedinginan.
Plong tahap ini bilang pemeditasi kali akan mengambil selimut cak bagi menghangatkan jasad mereka. Sekalipun saat musim semok dibulan April atau Mei. Maka meditasi metta merupakan nyepi yang baik kerjakan dipraktekkan di tahun panas untuk para insan barat. Anda bukan mesti lagi pergi ke Maymo atau Taungyi (suatu lembang tangga dengan iklim yang hambar).
Sejumlah pemeditasi akan merasakan sensasi sebagai halnya di atas setelah waktu membiasakan 20 hari. Pikiran terpusat dengan baik. Begitu mereka melakukan nyepi duduk, konsentrasi segera dapat dipusatkan. Kadang mereka mendapat penampakan obyek tafakur.
Kinerja seseorang yang menjadi obyek (meditasi) tersebut kadang tersenyum atau apalagi berucap pada mereka. Pemeditasi umumnya menyamai senyuman ini. Pemeditasi tersebut tak menyadari bahwa ia tersenyum n domestik kondisi duduk bermeditasi. Bani adam lain kadang melihat kejadian ini. Sehingga pemeditasi tersebut merasa sipu dan berusaha merubah ekspresi wajahnya.
Seperti mana nan anda ketahui, jikalau anda mengaram seseorang tersenyum anda pun akan turut tersenyum privat ingatan. Ini dikarenakan senyum menyerahkan pengaruh sreg perhatian beliau. Dengan demikian pikiran menumpu untuk tersenyum yang mengakibatkan wajah menampakkan senyuman. Inilah yang dimaksud oleh Visuddhimagga bahwa ada sebelas kekuatan mempraktekkan meditasi metta.


I. 5. Kisah Seorang Bhikkhu Cukup umur

Di Chitalabota tinggallah koteng bhikkhu muda mempraktekkan khalwat metta. Bhikkhu mulai dewasa ini senang meditasi dengan berpindah-pindah tempat. Sebelumnya sira lampau di satu tempat selama 4 wulan. Setelah itu ia pindah ke tempat tak dan tinggal di sana sejauh 4 bulan.
Ia suka berpindah ke beberapa palagan dan menetap sejauh 4 bulan plong setiap palagan yang ia tinggali. Di tempat ini juga, Chitalabota, ia menetap selama 4 bulan. Setelah masa 4 wulan, ia akan berpindah ke panggung lain lagi.
Plong malam anak bungsu, bhikkhu muda tersebut mengamalkan meditasi kronologi. Di ujung pelintasan terdapat sebatang pohon. Nama pohon itu Manirukkha (Pali). Di tengah latihan permenungan jalan itu ia mendengar suara tangisan yang sangat keras. Terlampau ia bertanya, “Mungkin nan menangis itu ?”
Sebuah suara dari khalayak yang enggak terbantah menjawab, “Bhante, saya adalah dewa yang habis di tumbuhan ini. Sayalah nan menangis barusan.”
“Mengapa kamu menangis ?”
“Sebab bhante akan meninggalkan ke tempat lain kemudian hari pagi. Makanya saya tersentuh perasaan.”
Dewa tersebut berkata lebih lanjut, ”Sebelum bhante nomplok dan tinggal di arena ini, para dewa yang berlimpah di sekitar sini burung laut berselisih. Tak ada lega hati. Tak terserah kesejahteraan. Sangat bhante hinggap dan tingggal di sini. Sejak itu para dewa hidup dalam kerukunan dan ketenteraman. Nyawa kami diliputi oleh kesenangan. Tidak ada lagi percekcokan. Karena itu bhante, saya mohon untuk patuh lewat disini demi keistimewaan kita semua”.


Akhirnya Bhikkhu taruna itu bersemayam di sini sewaktu melanjutkan latihannya sejauh tahun empat bulan kedepan. Setelah masa catur wulan berlalu episode yang sama berulang lagi. Dewa pohon menangis pula memintanya habis bertambah lama.
Di privat kitab komentar digambarkan mengenai manfaat-manfaat yang diperoleh bila seseorang mengembangkan cinta rahmat. Kamu akan disayangi oleh para dewa alias makhluk semangat lainnya. Mengapa demikian ?
Ini dikarenakan pikiran menjadi jernih dan ranah. Cahaya muka mencerminkan hasil latihan tersebut. Kecemerlangan, keramahan, keceriaan, ketenangan dan kesabaran mengucur dari muka.
Orang-sosok nan berlaga dengannya akan dapat merasakan kepelesiran, ketenangan, keceriaan dan kesabarannya. Nyawa kerap kasih tumbuh dalam diri mereka. Itulah yang takhlik para dewa menjadi rukun dan tidak lagi bertengkar. Maka di Chanmyay Yeikhta (Ki akal Cak bimbingan tafakur) lain ada pertengkaran. Sebab kalian semua mengembangkan cinta kasih.
Selama perian vassa, yang berlangsung dalam 3 bulan, setiap hari uposatha (pada tgl 8, 14 atau 15, 22 dan ujung bulan), semua pemeditasi dan juga mereka yang datang kerjakan meminta sila (termasuk juga anak-anak sekolah), mempraktekkan metta, menjalankan sila ke-9 dan vegetarian. Anda sempat sila ke-9 ? mempraktekkan metta adalah sila ke-9. Dengan demikian seluruh vihara (tempat berlatih) diselimuti maka dari itu cinta kasih. Andapun akan masuk mesem.
Nama bhikkhu muda itu adalah Visakha. Sira memutuskan cak bagi tetap terlampau di Chitalabota bukan hanya buat satu dewa, tapi dikarenakan seluruh dewa yang ada di sana memohon padanya untuk tetap tinggal.
Sehabis waktu 4 bulan berikutnya, dia bertujuan untuk pindah tempat pun. Dan seperti hal sebelumnya, lilin batik sebelum keberangkatannya, para dewa menangis dan memintanya tetap habis. Dengan demikian beliau harus tinggal di sana untuk selamanya. Ia enggak lagi bisa berpindah ke tempat lain.
Meditasi buruk perut hadiah nan dikembangkan maka itu bhikkhu muda tersebut sangat efektif sehingga para dewa yang dulunya selalu bertengkar menjadi rukun, bernasib baik dan hidup kerumahtanggaan kesentosaan.


BAB II
JHANA-JHANA

II.1. Kemampuan Memegang Obyek

Selanjutnya saat anda mutakadim berekspansi metta, perasaan menjadi tenang, terpumpun, panjang usus dan mudah untuk diarahkan. Dalam kondisi demikian anda harus merubah obyek pada turunan yang berlainan. Yakni seseorang nan selaras dengan guru anda. Anak adam yang patut dihormati dan dimuliakan karena sila, samadhi dan panna yang dimilikinya.
Bila kondisi nan sebanding tercapai dengan obyek (orang) kedua ini, kamu harus mengganti ke obyek cucu adam yang berbeda. Seseorang yang dijadikan obyek ini harus n kepunyaan tingkat kebijaksanaan dan kebesaran yang setara dengan dua obyek sebelumnya. Demikian hal ini berlangsung sampai dengan obyek orang kesepuluh.
Pada kondisi ini, saat batin dipenuhi oleh kebahagiaan, ketenangan dan perasaan terkumpul dengan baik (bisa mempertahankan obyek dengan lama) engkau telah mencapai tingkatan-tingkatan dalam pemusatan nan disebut jhana (jhana I, II, III).
Ciri atau tanda-cap pada jhana I adalah :

1.
Vitaka, berusaha memegang obyek.
2.
Vicara, telah menjawat obyek dengan kuat.
3.
Piti, kegiuran.
4.
Sukha, kesukaan yang dalam.
5.
Ekagatha, manah nan telah terpusat, batin seimbang.


Puas jhana I konsentrasi belum tekun stabil. Dia masih boleh mendengar suara miring-suara miring bersumber asing. Tapi obyek (meditasi) dapat dipertahankan.
Memasuki jhana II, hanya terwalak 3 dari kelima ciri di atas, yakni Piti, Sukha dan Ekagatha.
Internal tahap ini manah menjadi lebih hening dan mantap. Lalu anda tinggalkan jhana II ini dan memasuki jhana III, dimana yang ada hanya Sukha dan Ekagatha.
Piti (kegiuran) boleh mengguncang pikiran dan jasad beliau. Maka, momen memasuki jhana III, Piti ditinggalkan dan pikiran semakin tenang dan kokoh.
Terkadang anda merasa bahwa tidak ada siapapun di selingkung anda. Dia merasakan kedamaian dan ketenangan internal kesendirian tersebut. Inilah pencapaian intern jhana III. Kondisi demikian dapat dicapai meski pron bila itu sira medium mengacungkan cinta anugerah pada seseorang. Tetapi anda perlu mengganti obyek kepada insan kedua, seseorang yang n kepunyaan kualitas batin dan kebijaksanaan nan setara dengan obyek orang purwa.
Bani adam yang menjadi obyek metta tersebut merupakan orang yang anda sayangi tapi enggak berlawanan jenis. Sebab pengalaman anda pada latihan perenungan metta ini belum beruntung banyak kemajuan. Masih mudah goyah.
Apabila dalam kondisi serupa ini anda mengarahkan metta pada orang yang berbeda jenis kelamin, seperti misalnya ampean/suami dia, prospek nan didapat adalah kegusaran dan kekesalan. Mungkin anda akan memukuli dinding.


Oleh sebab itu, plong tahap meditasi metta yang demikian, anda moga tidak mengarahkan cinta kasih puas obyek yang bentrok variasi. Tapi yang sama jenis kelaminnya. Habis cinta kasih tersebut diarahkan kepada bani adam pertama, kedua, ketiga sebatas dengan turunan kesepuluh.
Pada saat mempraktekkan meditasi metta dalam posisi duduk (bermeditasi) dan mengarahkan camar kasih kepada orang permulaan, kedua, ketiga sampai dengan orang nan kesepuluh, masing-masing selama 5-10 menit, akan menggarangkan ketertarikan kamu terhadap metta dan menjadi bahagia hasilnya.
Transisi obyek ini dilakukan berpunca kerubungan I (sejumlah 10 orang) ke kerumunan II, ialah obyek orang yang netral.
Apabila beliau berhasil mengarahkan metta pada kelompok II ini, awalan selanjutnya merupakan membidikkan metta tersebut kepada pihak yang bermusuhan dengan anda. Hal ini boleh dilakukan karena engkau telah mencapai tahap pemilikan yang lebih baik tinimbang sebelumnya.
Pada tahapan ini kamu dapat mengarahkan metta tanpa perlu kuatir munculnya omelan. Sebab, beliau mutakadim memenuhi diri dengan metta. Sehingga ketika keefektifan metta ini diarahkan kepada obyek seseorang yang menjadi musuh engkau, yang ada hanyalah metta. Ini pertanda keberhasilan.
Dahulu anda dapat meningkatkan latihan dengan cara berganti obyek secara acak. Maksudnya, setelah mengincarkan metta pada kelompok I, beliau dapat segera berpindah ke obyek di kerubungan III atau II. Bukan harus kronologis. Sekiranya ini dapat dilakukan dengan baik, maka ia akan diliputi oleh ketegaran dan kedamaian.
Semata-mata ketabahan dan kesentosaan yang dicapai ini dapat dikacaukan dengan munculnya kendala. Rintangan ini dapat nyata pengidentifikasian diri “anda” perumpamaan seseorang nan “disayangi, dibenci atau dimusuhi”. Inilah obstruksi yang muncul.

Popular:   Imajinasi Dan Meditasi Berguna Untuk Melatih....


Keadaan ini dapat diperumpamakan demikian. Bila seorang perompak meminta kita bikin dikorbankan lega dewanya hendaknya perampokan yang akan dilakukannya berdampak, anda tidak akan menunjuk seseorang kerjakan dijadikan sasaran tersebut. Ini dikarenakan beliau telah berhasil kerumahtanggaan berlatih meditasi metta. Anda akan mengatakan demikian, “Sira enggak dapat menjadikan siapapun diantara kami sebagai korban ufti dewamu. Katakan pada betara tersebut, bahwa enggak seorangpun diantara kami yang dapat dijadikan persembahan.”
Jawaban ini menunjukkan keberhasilan anda dalam mematahkan rintangan “kamu, atau saya, sebagai orang yang dibenci atau anak adam yang disayangi”. Ini disebut Sima Sambheda. Sima berarti rintangan dan Sambheda artinya mematahkan.
Lebih lanjut kerumahtanggaan kitab komentar dikatakan, bila engkau berhasil mematahkan rintangan ini, berarti sira telah memiliki konsentrasi yang baik. Namun berasal pengalaman para pemeditasi yang saya bimbing, sebelum berakibat mematahkan obstruksi tersebut, dia harus sudah memasuki jenjang dalam jhana-jhana.
Sementara kitab komentar mencuil jalan nan lega dada. Pasca- anda secara menyeluruh dan selengkapnya mengembangkan metta terhadap 3 strata obyek tersebut, secara tentu engkau telah memiliki sentralisasi yang baik. Atau boleh dikatakan sira telah mengaras tingkat konsentrasi jhana-jhana. Tak cak semau seorangpun yang dapat membantah warta ini.
Inilah pengembangan obyek singularis dalam permenungan metta. Obyek ini bisa berupa obyek-obyek yang adv minim lainnya, sama dengan hingga ii kabupaten, propinsi atau negara, ini lagi disebut meditasi metta dengan obyek khusus.


Misalnya anda berekspansi metta kepada masyarakat di Burma atau Amerika bisa saja (dapat dimulai mulai sejak presidennya terlebih dulu). Ini disebut juga semadi metta dengan obyek khusus.
Engkau juga dapat mengembangkan metta dengan obyek khusus ini ke segala arah. Contohnya, anda meluaskan metta kepada turunan-manusia di Burma atau Amerika (dapat dimulai mulai sejak presidennya sampai-sampai dulu).
Metta dengan obyek distingtif tersebut dapat kembali ditujukan ke segala jihat netra angin, yakni sisi utara, daksina, timur, barat, dan lain-lain. Sehabis dapat mengarahkan metta ke segala sisi, ia kemudian dapat mengincarkan metta kepada semua makhluk di seluruh dunia, merupakan obyek metta yang umum.
Dengan adanya pengalaman di tingkat lanjut ini ia boleh bersepisepi dengan baik, yakni menujukan metta kepada semua makhluk di seluruh dunia (obyek umum).


II.2. Jhana dalam Visudhimagga

Didalam kitab Visuddhimagga dikatakan, bila pemeditasi telah mencecah tahapan konsentrasi yang terpumpun internal tutorial khalwat cinta kasih, ini disebut dengan Formalitas Samadhi, konsentrasi setangga.
Jikalau latihan metta ini dilanjutkan, anda akan taajul dapat mencecah jhana. Pertama beliau akan memasuki jhana I, lalu jhana II, dan III.
Cak semau 4 jhana yang dapat dicapai bila seseorang mempraktekkan meditasi Samatha. Jenama atau ciri-ciri dari pencapaian jhana I tersebut adalah : vitaka (berusaha menyandang obyek), vicara (telah memegang obyek dengan kuat), piti (kegiuran), sukha (kepelesiran yang dalam), dan ekagatha (perhatian yang telah terpusat, batin seimbang).
Saat anda mencapai jhana I, konsentrasi nan terbentuk tidaklah sekuat dan sedalam tiga jhana lainnya. Ini dikarenakan masih adanya vitaka dan vicara. Disini vitaka menunjukkan manah yang masih berusaha bagi mempertahankan obyek tunak ki berjebah intern perasaan tersebut. Menengah vicara unjuk bersamaan dengan kognisi. Puas kondisi ini pikiran semakin terpusat dan tidak lagi berkeliaran.
Maka dengan maslahat vitaka dan vicara ini, pikiran secara bertahap semakin terkonsentrasi pada obyek. Dan saat pikiran semakin tergabung akan muncul ketenangan dan kesejahteraan. Lalu muncullah piti yang disebabkan makanya konsentrasi yang terkumpul itu. Konsentrasi yang terpusat dan batin yang setolok ialah tanda dari mutakadim dicapainya ekagatha.
Dalam jhana I ini karena vitaka dan vicara ada bersama-sama dengan kesadaran, maka konsentrasi yang terbentuk tidaklah sejenis itu kokoh.


Bila anda meneruskan latihan dengan meluaskan majuh karunia kepada seseorang yang mutakadim anda pilih perumpamaan obyek meditasi, lambat laun konsentrasi yang terasuh semakin dalam dan kokoh. Dengan demikian kesadaran semakin menebal terhadap obyek.
Tingkat konsentrasi ini meliputi piti, sukkha dan ekagatha. Ini adalah jhana II. Tetapi piti dan sukha bersifat tak stabil dan kurang kokoh. Dan bila latihan ini terus berlanjut, konsentrasi yang terbentuk lebih privat dan kokoh ketimbang jhana II. Pada tingkat ini tidak ada juga piti. Yang tersisa hanya sukha dan ekagatha.
Bila operasi semakin ditingkatkan, maka konsentrasi yang terasuh akan semakin bertambah internal dan kokoh. Pada tahap ini ingatan yang mengamati sudah lalu menyatu dengan obyek dan konsentrasi telah subur pada tingkat nan termulia.
Perhatian tidak sekali lagi bergerak, bergetar atau terguncang. Pikiran menjadi dulu tenang dan damai. Sehingga intern janjang ini, pemeditasi tidak perlu pula berusaha mengonsentrasikan pikirannya kepada obyek. Sebab pikiran telah dengan sendirinya terkonsentrasi puas obyek tersebut. Keseimbangan muncul lega jhana IV sementara sukha, kegembiraan, telah lenyap.
Pada jhana IV ini kegembiraan telah musnah karena pemeditasi tidak lagi merasa gembira ataupun sedih. Disini sira telah mengaras keseimbangan batin dan perasaan yang terpusat.
Metta adalah kebajikan yang mengharapkan kesejahteraan pada makhluk bukan alias menjadi lain egois. Namun dengan munculnya keseimbangan batin, anda bukan lagi dikuasai cinta kepada makhluk lain. Akibatnya, seseorang yang mempraktekkan meditasi metta tidak dapat menjejak jhana IV. Hanya tiga jhana di bawahnya nan bisa dicapai metta bhavana.
Hal ini dikarenakan ketika mempraktekkan permenungan metta, diri sira akan dipenuhi oleh piti dan sukha. Semakin engkau mengembangkan metta ini, semakin dalam ingatan piti dan sukha menyelesaikan diri ia.
Setelah latihan di wadah ini beliau bisa mempraktekkan metta dalam nyawa sehari-hari. Karena dengan mempraktekkan metta, anda membentuk musuh menjadi seorang sahabat. Pikiran yang buruk menjadi ingatan yang baik. Emosi yang destruktif menjadi emosi yang kasatmata.
Inilah maklumat jhana secara teoritis. Namun Siaran jhana yang diperoleh dari tuntunan tidak semacam itu musykil dipertahankan bila anda tetap berminat terus berlatih, sesudah musim latihan di ajang ini.


Bab III
ANAPANASATI
MEDITASI SAMATHA
Maupun
MEDITASI VIPASSANA ?

III.1. Anapanasati seumpama Meditasi Samatha

Anapanasati, meditasi dengan menggunakan obyek napas, n domestik Visuddhimagga, ialah meditasi Samatha.
Dalam Visuddhimagga dikatakan terletak 40 obyek meditasi Samatha. Ke 40 obyek itu terdiri semenjak, 10 obyek kasina, 10 obyek yang menjijikkan (asubha), 10 obyek perenungan (anussati), 4 obyek kediaman mulia (brahmavihara), 4 obyek sonder rang (arupa), 10 obyek nyepi terhadap makanan (aharepatikulasana) dan 1 obyek catur nsure (catu dathu vatana). Anapanasati yakni suatu berpokok ke 40 obyek tersebut.
Kasina berharga keseluruhan. Dengan alas kata lain, momen mempraktekkan meditasi dengan obyek kasina, anda harus mengesakan ingatan pada obyek yang berbentuk galengan. Sebagai langkah semula dapat dilakukan dengan mata.
Anda dapat menggunakan obyek kasina momen mempraktekkan nyepi Samatha. Misal, lahan (pathavi kasina), air (apo kasina), api (tejo kasina), awan (vayo kasina), cahaya (aloka kasina), warna merah (lohita kasina), biru (nila kasina), kuning (reben kasina), ikhlas (odata kasina) dan obyek angkasa (akasa 0kasina).

Popular:   Meditasi Hipnotis Kondisi Kurang Tidur Merupakan Bentuk Keadaan


Sedang 10 obyek nan menjijikkan (asubha) meliputi :

1.
Uddhumataka asubha, merupakan obyek yang diambil dari mayat manusia, alias buntang satwa yang melendung ataupun kembung oleh angin.
2.
Vinilaka asubha, obyek yang diambil dari mayit yang sudah kebelauan (fusi warna sensasional, mentah, putih). Kadang mengandung nanah dan cairan serta pungkur enggak yang terdapat internal bodi.
3.
Vipubbaka asubha, obyek yang diambil dari mayat nan mutakadim bernanah dan juga sudah dibedah sehingga tertumbuk pandangan rebuk yang berceceran keluar pecah netra, hidung, alat pendengar dan muka.
4.
Vicchiddaka asubha, obyek yang diambil dari kunarpa yang sudah terbelah menjadi dua bagian.
5.
Vikkhayitaka asubha, obyek yang diambil dari jenazah yang mutakadim digerogoti binatang kecil ataupun yang dimakan binatang virulen.
6.
Vikkhitaka asubha, obyek yang diambil dari mayit yang mutakadim hancur atau terpotong-potong, tapi masih ada dagingnya.
7.
Hatavikkhitaka asubha, obyek yang diambil dari mayat nan sudah rusak dan hancur/terpotong besar/boncel dan masih ada daging.
8.
Lohitaka asubha, obyek yang diambil dari mayat yang mengeluarkan darah, larutan atau kotoran enggak.
9.
Puluvaka asubha, obyek yang diambil berpokok buntang yang penuh belatung dan menggerogoti layon berpangkal luar dan dalam sehingga berlubang-lubang sampai lalu.
10.
Atthika asubha, obyek yang diambil dari mayat yang sudah terlampau tengkorak.


Adapun 10 obyek perenungan (anussati) meliputi :

1.
Buddhanussati, perenungan terhadap Sang Buddha nan mutakadim terbebas mulai sejak lobha (kegelojohan), dosa (kebencian) dan moha (kegelapan batin).
2.
Dhammanussati, perenungan terhadap Dhamma yang bukan dijalari lobha, dosa dan moha.
3.
Sanghanussati, permenungan terhadap Ariya Sangha, bahwa beliau-ia telah terbebas dari lobha, dosa dan moha.
4.
Silanussati, nyepi terhadap sila yang dilakukan oleh diri sendiri.
5.
Caganussati, perenungan terhadap dana nan sudah dilaksanakan.
6.
Devatanussati, perenungan terhadap makhluk agung (brahma, batara).
7.
Maranussati, perenungan terhadap kematian yang akan dialami.
8.
Kayagatanussati, perenungan terhadap kekotoran badan.
9.
Anapanasati, tafakur terhadap keluar-masuknya napas.
10.
Upasamanussati, perenungan terhadap Keadaan nibbana yang terbebas dari kekotoran batin dan siksaan.

Maka dari itu Anapanasati, pengamatan terhadap obyek napas dalam konteks ini, merupakan salah suatu bersumber 10 obyek perenungan (anussati).


III.2. Anapanasati Sebagai Objek Permenungan Vipassana

Bila kitab Visuddhimagga menempatkan Anapanasati ke internal perenungan Samatha, bukan demikian Maha Satipathana Sutta menulis. Kerumahtanggaan Maha Satipathana Sutta dikatakan, pembabaran tentang 4 galengan pemahaman, Anapanasati merupakan obyek dalam semadi Vipassana. Merujuk pada kedua sumber diatas maka sebagian kaum terlatih dibingungkan olehnya. Apakah Anapanasati ini sebagai meditasi Samatha atau meditasi Vipassana ?
Intern Maha Satipatthana Sutta Si Buddha mengajarkan cara mempraktekkan Anapanasati, menyadari keluar-masuknya napas. Beliau mengatakan bagaimana pemeditasi melihat muncul dan lenyapnya napas dan mengingat-ingat ketidakkekalan plong (proses) bernapas tersebut. Kesudahannya Anapanasati dikategorikan dalam obyek meditasi Vipassana.
Situasi yang perlu kita ketahui lega obyek didalam meditasi Samatha dapat berupa pannatti alias paramattha. Pannati penting konsep dan paramattha berguna pemberitaan mutlak.
Obyek-obyek didalam meditasi Samatha dapat berupa konsep maupun realitas mutlak. Bila kasina digunakan perumpamaan obyek semadi, obyek itu ialah sebuah konsep. Bukan realitas mutlak. Cak kenapa demikian ?
Misalkan anda memperalat corak merah bagaikan obyek meditasi, maka pertama-tama kamu harus menggambar lingkaran warna merah seukuran piring pada dinding atau tanaman dengan ketinggian sekitar 60 cm, sehingga mata bisa melihat dengan mudah. Dan warna merah tersebut haruslah warna ceria, bukan merupakan campuran semenjak warna bukan.
Saat memusatkan pikiran pada lingkaran (warna) merah itu, ingatan harus difokuskan pada seluruh kalangan merah tersebut, bukan sepoteng maupun seperempat dari lingkaran. Mengapa ? Sebab anda mau mengonsentrasikan perasaan pada bentuk lingkaran. Bukan perlu meributkan warnanya, ataupun teksturnya. Yang mesti dilakukan hanya mengonsentrasikan perasaan puas bentuk lingkaran. Anda harus mengawasi seluruh lingkaran dan menggarisbawahi pikiran kepadanya.


Momen perasaan terhimpun dengan baik, meskipun ain tertutup, lingkaran merah itu enggak hilang dari pikiran. Sekarang anda meluluk lingkaran merah itu n domestik perhatian. Landasan nan terlihat di pikiran itu disebut Patibhaga Nimitta. Arti dari Nimitta disini sama dengan pematang plong dinding. Cuma sebagian kabilah terpelajar menerjemahkan umpama tanda yang setinggi.
Maka dari itu karena itu, meditasi dengan obyek ini yaitu meditasi Samatha. Dengan demikian kamu enggak perlu menyerang proses-proses bodi pada lingkaran tersebut. Nan perlu dilakukan cuma mengonsentrasikan ingatan pada seluruh lingkaran dan menyimpannya. Sehingga kamu tetap bisa meluluk galangan merah tersebut dalam pikiran bila pemfokusan yang dihimpun sepan baik.
Rangka lingkaran sirah tersebut hanya konsep, bukan realitas mutlak. Itu sahaja sesuatu yang diciptakan oleh pikiran. Dalam hal ini obyek tersebut hanyalah sebuah konsep, tak realitas mutlak.
Ketika mempraktekkan Buddhanussati, perenungan terhadap amal dan sifat-sifat indah Si Buddha, obyek ini merupakan realitas, Paramattha.
Seperti misalnya perkenalan awal “Araham”, nan menunjukkan makna bahwa Sang Buddha betapa mulia. Sebab kamu mutakadim terbebas sama sekali semenjak kekotoran batin dengan memperalat 4 landasan pencerahan, Arahatta Magga dan Sabbannuta, merupakan kemahatahuan.
Karenanya anda boleh bersepisepi atau memikirkan sifat-sifat mulia Si Buddha nan sudah lalu bertelur menghancurkan kekotoran batin. Obyek ini merupakan realitas mutlak, tak konsep. Bila hal ini diulang terus-menerus, kapanpun pikiran menyimpang (bersumber obyek), beliau boleh mengangkut pikiran sekali lagi kepada obyek semula, yakni merenungkan kebijaksanaan dan sifat-sifat sani Sang Buddha. Dengan kaidah ini, pikiran akan makin terkonsentrasi. Alhasil dapatlah dikatakan bahwa realitas mutlak (Paramattha) adalah obyek meditasi Samatha.
Wajib diketahui bahwa dalam khalwat Vipassana, setiap obyek meditasi merupakan realitas mutlak (Paramattha). Konsep bukan dapat menjadi obyek karena anda tidak akan menemukan karakteristik istimewa maupun umum pada konsep. Dengan demikian obyek-obyek tersebut haruslah merupakan realitas mutlak.


Katakanlah anda bernama Pannananda. Meski sira sudah meninggal, jika saya menghafal nama anda, maka tanda itu masih ada dalam perasaan (pikiran). Cak kenapa ? Sebab pikiran saya mengingatnya, membuatnya cak bagi tetap suka-suka. Artinya, nama hanya sebuah konsep karena diciptakan, diingat atau dibuat maka dari itu pikiran. Dengan ini setiap konsep tidaklah nyata. Konsep itu sesuatu nan dibuat oleh pikiran. Karenanya lain suka-suka karakteristik cak bagi disadari atau diamati.
Dulu, bila galangan merah dijadikan obyek meditasi, ia mengingatnya dan mengonsentrasikan pikiran padanya. Secara sedikit demi perasaan makin terkonsentrasi. Dan momen pikiran telah dapat mempertahankan obyek, maka dikatakan telah memasuki jhana.
Yang teradat diperhatikan, obyek pematang merah itu bukanlah satu realitas, tapi dibentuk oleh perhatian. Karenanya obyek tersebut hanyalah satu konsep. Tidak suka-suka sedikitpun karakteristik yang perlu disadari. Malah biar anda mengonsentrasikan pikiran pada obyek tersebut, katakanlah sepanjang 100 tahun secara terus-menerus, anda tidak akan dapat menemukan/menyadari karakterisktik pada obyek itu. Obyek tersebut bukanlah suatu realitas, tapi dibentuk maka itu pikiran. Ia hanya sebuah konsep.
Maka untuk memperlainkan Anapanasati sebagai obyek dalam meditasi Vipassana maupun Samatha, haruslah diketahui/dimengerti adapun obyek napas dalam kelompok realitas alias hanya sebuah konsep.
Pada kitab komentar Visuddhimagga disebutkan bahwa pikiran semoga terkonsentrasi pada napas keluar-masuk yang bersentuhan dengan ujung hidung. Dalam situasi ini Anapanasati adalah obyek dalam meditasi Samatha. Kok demikian ? Sebab pikiran harus terpusat pada timbrung-keluarnya napas, bukan pada peledak/angin.
Saat napas masuk, kamu mencatat dalam batin sebagai ‘masuk’. Momen napas keluar, anda mencatatnya seumpama ‘keluar’. ‘Ikut, keluar, masuk, keluar’.
Pikiran dipusatkan bukan lega menganjur udara, tapi plong masuk dan keluarnya udara. Turut dan keluarnya napas/mega bukanlah realitas mutlak.

Popular:   Syarat-syarat Meditasi Pandangan Terang


Dalam hal ini konsep tersebut menjadi obyek meditasi (Samatha). Anda tak akan menemukan karakteristik apapun, baik yang berkepribadian umum maupun khusus. Sebab obyek itu bukanlah realitas. Hanya konsep. Akibatnya ia digolongkan n domestik meditasi Samatha.
Tetapi bila anda menyatukan pikiran pada “senggolan” yang terjadi antara ujung hidung dengan berasimilasi yang keluar-turut, memaki senggolan tersebut serta menyadarinya, maka obyek (napas) ini ialah realitas.
Bintik sentuhan tersebut n kepunyaan 4 unsur pokok, yaitu pathavi dhatu (keras-lunak), apo dhatu (cairan), tejo dhatu (panas/dingin) dan vayo dhatu (gerak).
Keempat unsur pokok ini ditemukan saat ia mengesakan pikiran sreg sensasi sentuhan antara ujung hidung dengan napas yang timbrung dan keluar. Sehingga obyek napas ini digolongkan dalam meditasi Vipassana.
Inilah yang dijelaskan oleh Y.M. Mahasi Sayadaw dalam goresan beliau mengenai meditasi Samatha dan meditasi Vipassana berkenaan berpunca segi pernapasan.
Dengan penjelasan ini anda dapat mengarifi Anapanasati umpama meditasi Samatha (menurut Visuddhimagga) dan sebagai semadi Vipassana (menurut Maha Satipatthana Sutta). Tetapi buat benar-benar mengerti perbedaan ini, kamu harus sparing meditasi dengan sungguh-alangkah.
Kadang anda harus mengonsentrasikan manah lega keluar-masuknya napas sebagai obyek meditasi bila mengalami konsentrasi berpunca dan banyak berfantasi. Dalam hal ini Si Buddha menyarankan praktek meditasi pernapasan (kerumahtanggaan kategori meditasi Samatha) bila terjadi kondisi di atas. Karena asimilasi kerap terjadi sepanjang sira masih atma. Maka akan makin mudah bagi berkonsentrasi sreg obyek napas internal upaya mepertahankan pemfokusan bila pemfokusan tersebut berbunga dan banyak berhalusinasi.
Menurut pengalaman, Buddhanussati (permenungan terhadap kebijaksanaan dan sifat-sifat luhur Si Buddha) dan Metta (cinta anugerah) merupakan obyek yang sangat baik bagi para pemeditasi buat memusatkan ingatan saat sentralisasi pecah dan banyak melamun.
Tetapi obyek Buddhanussati akan menimbulkan kesulitan bagi anda yang bukan mengenal maupun mengerti kebijaksanaan dan keluhuran Sang Buddha. Tentatif obyek Metta jauh lebih mudah digunakan. Setiap dia dapat melakukannya.
Masa ini sira dapat mengkhususkan dua aspek meditasi pernapasan ini. Dan seyogiannya dengan pengertian dan praktek meditasi yang alangkah-alangkah akan membuahkan keberhasilan seperti nan diinginkan…!


PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION
(Perbedaan Antara Samattha & Vipassana)

Pencatat Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana,
Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya, Agga-mahapandita,
Chattha-sangiti-pucchaka;
Penerjemah : Selamat Rodjali; Editor : Sawti L. Sotiniwati;
Tempaan Pertama, Tahun 2001

Namo Tassa Bhagavato Arahato
Samma Sambuddhassa

Penuh puja kepada Bhagava, Yang Steril Luhur, Yang sudah lalu merealisasi pencerahan secara mandiri
PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION
(Perbedaan Antara Samattha & Vipassana)

I. Pamrih UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA

Apakah tujuan melaksanakan kursus tafakur?

Latihan meditasi dilaksanakan untuk maksud terbebas dari penderitaan kehidupan usia tua, sakit, lengang dan lebih jauh, merealisasi Nibbana.

Semua orang hidup cak hendak umur berusia hierarki minus kekerasan, hidup dengan damai, gembira, dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua, sakit, antap, dan penderitaan spirit lainnnya; namun mereka bosor makan sia-sia menemukan harapannya itu. Selama masih di dalam roda hayat, masih selalu dijumpai atma jompo, sakit, kesedihan dan rintihan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan, baik penderitaan fisik dan keluhan mental/batin. Kemudian, sehabis menderita rasa yang amat sangat dan siksaan nan amat berat, diikuti maka itu kematian. Dan, itupun lain bercerai di dalam kematian. Pun-pun, terdapat kelahiran dikarenakan kemelekatan kerjakan menjadi (berwujud). Di n domestik arwah baru ini mereka pun menjadi bahan usia tua, dan siksaan lainnya. Di n domestik cara seperti ini, mereka berkelana di n domestik lingkaran tumimbal lahir dari jiwa ke kehidupan enggak, menderita semua varietas berpenyakitan umur dan tanpa henti. Di dalam berburu sebab terdahulu (akar susu) berasal peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan maka dari itu kelahiran, di sana mengikuti hubungan : usia tua, sakit, sepi, dan penderitaan kehidupan lainnya. Maka dari itu karena itu, sangatlah terdahulu bakal mencegah tumimbal lahir yang berkelanjutan apabila ingin terbebas pecah penderitaan sukma di dalam vitalitas tua dan sebagainya.


Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan nan terkandung di dalam semangat ini. Kelahiran yang yunior hanyalah munculnya sebuah kesadaran nan ialah hasil dari kemelekatan terhadap objek berpokok spirit sebelumnya. Apabila tidak terdapat kemelekatan, maka tidak akan ada kelahiran mentah; oleh karena itu setiap usaha harus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran nan baru.

Kemelekatan terhadap hidup ini tak berlangsung karena dua alasan : pertama karena bukan mengerti ketidakpuasan/siksaan batin dan awak, dan kedua karena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh kian indah bila dibandingkan dengan variasi kepelesiran lainnya. Sebagai teladan, mirip kasus seseorang yang sukma di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi maka dari itu banyak bahaya. Secara alamiah ia nanang meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan nan langgeng terhadapnya karena anda tidak mempunyai manifesto yang jelas akan kehabisan daerahnya dan kondisi yang lebih baik pecah tempat lainnya. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh, daerahnya tidak juga menarik baginya dan ia akan refleks pindah ke daerah yang baru. Demikian pula, sangatlah berjasa bakal mengepas memahami kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang mengendalikan roh ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan bakal menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. Pengetahuan ini boleh diperoleh melalui tuntunan nyepi yang tepat. Oleh karena itu, setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari penderitaan akibat nasib bertongkat sendok, kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi.


II. Pembagian Permenungan AJARAN BUDDHA

Meditasi dibagi menjadi dua bagian :

1.
Samatha – kammatthana
2.
Vipassana – kammatthana

1. Latihan samattha-kammatthana akan melebarkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri berbunga 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupa-jhana. Latihan yang berulangkali atas kondisi di privat jhana ini akan mengirimkan lima kemahiran batin kebendaan luar legal (abhinna 5) umpama berikut :

*
Iddhi-vidha-abhinna …. kebaikan dari suatu menjadi banyak dan berbunga banyak menjadi satu lagi. Fungsi kerjakan menembus dinding atau ancala sonder rintangan, seolah di udara. Keefektifan untuk berjalan di atas air minus tenggelam, seolah seperti bepergian di atas tanah. Kekuatan cak bagi memasuki/ menyelam ke internal tanah dan muncul lagi di parasan tanah, seolah seperti ke/ mulai sejak n domestik air. Kekuatan cak bagi terbang dengan kaki bersila ke angkasa, seolah seperti titit nan memiliki sayap. Kepentingan buat menyentuh syamsu dan bulan dengan menunggangi tangan.
*
Dibba-sota-abhinna …. Kuping dewa, maslahat cak bagi mendengarkan suara baik suara manusia atau insan surgawi, jauh alias dekat.
*
Ceto-pariya-abhinna …. Fungsi cak bagi memahami pikiran orang lain.
*
Pubbe-nivassa-abhinna …. Kekuatan buat mengetahui kejadian kehidupan silam seseorang.
*
Dibba-cakkhu-abhinna …. Netra dewa, faedah untuk melihat semua rajah bentuk dan warna yang jauh alias dekat, baik besar ataupun boncel.

Mempunyai atribut-atribut ini tegar enggak akan menjamin/mengirimkan ke otonomi mulai sejak ketidakpuasan vitalitas, atma tua, kematian dan lebih jauh. Kematian seseorang yang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma nan jangka waktu kehidupannya sangat panjang; bisa satu nasib bumi ataupun dua bisa jadi maupun catur siapa maupun delapan siapa usia dunia dan lebih jauh, sesuai kasus tiap-tiap kasus.


Sumber: https://archive.kaskus.co.id/thread/7814874/315