Nyepi Buddhis

Meditasi Buddhis
(Pali:
bhavana) mengacu pada praktik meditasi yang tercalit dengan agama dan falsafah Buddha. Teknik meditasi inti sudah dituliskan internal pustaka-teks Buddhis lawas dan sudah disebarluaskan dan dikembangkan melewati hubungan master-siswa. Kaum Buddhis melaksanakan meditasi sbg adegan berpangkal jalan menuju Pencerahan dan Nirwana.[1]

Introduksi-kata yang paling tidak jauh sbg menamai meditasi kerumahtanggaan bahasa klasik Buddhisme adalah bhavana dan jhana/dhyana.[2]
Teknik meditasi Buddhis menjadi bertambah populer di pataka, dengan banyak kabilah non-Buddhis melaksanakannya dengan bermacam argumen. Meditasi Buddhis mencakup bermacam teknik meditasi yang n kepunyaan tujuan sbg mengembangkan kesadaran, pemusatan, guna supra-duniawi, ketenangan, dan wawasan.

Daftar isi

  • 1
    Meditasi dalam tradisi Buddhis

    • 1.1
      Tradisi awal

      • 1.1.1
        Diversifikasi-jenis meditasi
      • 1.1.2
        Empat Dasar Kognisi
      • 1.1.3
        Ketenangan dan Wawasan
      • 1.1.4
        Dari Kitab Komentar Pali
      • 1.1.5
        Dalam Theravāda Masa kini
    • 1.2
      Dalam Buddhisme Mahāyāna

      • 1.2.1
        Tafakur dalam Sirkuit Lahan Suci

        • 1.2.1.1
          Kesadaran Buddha Amitabha
        • 1.2.1.2
          Dharani Kelahiran Pula Tanah Murni
        • 1.2.1.3
          Cara pelukisan
      • 1.2.2
        Meditasi dalam arus Zen

        • 1.2.2.1
          Merujuk Puas Sifat Pikiran
        • 1.2.2.2
          Merenungkan Kasus Semadi
      • 1.2.3
        Meditasi dalam sirkulasi Tiantai

        • 1.2.3.1
          Samatha – vipassanā Tiantai
        • 1.2.3.2
          Praktik Esoterik di Jepang
        • 1.2.3.3
          Nyepi kerumahtanggaan Buddhisme Vajrayana
  • 2
    Adopsi oleh non-Buddhis
  • 3
    Tatap kembali
  • 4
    Referensi
  • 5
    Daftar Pustaka

Nyepi dalam tali peranti Buddhis

Walaupun telah terhidang sejumlah praktik meditasi yang sejajar – sebagaimana meditasi napas dan bermacam riwayat hidup (anussati) – yang dipakai dalam aliran-aliran Buddhis, telah cawis pun pluralitas yang signifikan. Intern tradisi Theravada doang, telah tersedia makin dari lima puluh prinsip sbg meluaskan kesadaran dan empat puluh prinsip sbg mengembangkan konsentrasi, provisional dalam leluri Tibetan sudah lalu tersedia ribuan meditasi visualisasi.[3]
Kebanyakan panduan tafakur Buddhis klasik dan masa kini yaitu panduan nan idiosinkratis-aliran. Belaka telah tersuguh beberapa pembimbing yang mencoba sbg mensintesis, mengkristalisasi dan mengkategorikan praktik mulai sejak bermacam adat istiadat Buddhis.

Tradisi awal

Pagar adat praktik Buddhis paling awal dicatat dalam Nikāya / Agamas, dan ditaati oleh turunan Theravāda. Leluri ini juga merupakan fokus berpunca arus Buddhis lainnya yang sekarang sudah lalu punah, dan sudah dibawa masuk ke derajat nan lebih tinggi dan lebih kecil dalam tradisi Buddhis Tibet dan banyak pagar adat Asia Timur Mahayana.

Keberagaman-spesies perenungan

Kebanyakan tradisi Buddhis memufakati bahwa perkembangan menuju Pencerahan memerlukan tiga spesies pelatihan: dedikasi (sila); tafakur (samadhi); dan, kebijaksanaan (panna). Maka dari itu karenanya, kecakapan tafakur saja tak cukup; itu hanyalah salah satu babak terbit suatu perjalanan. Dengan introduksi lain, privat Buddhisme, seiring dengan tumbuhnya mental, peluasan etika dan pemahaman nan bijak lagi diperlukan sbg pencapaian tujuan tertinggi.

N domestik situasi tradisi awal seperti yang ditemukan dalam Kanon Pali dan Agama yang lapang, semadi dapat dikontekstualisasikan sbg babak berbunga Jalan Agung Berunsur Delapan, secara eksplisit dalam peristiwa:

  • Kognisi Telah tersuguh
    (samma sati), dicontohkan maka itu Empat Gudi Kesadaran Buddha (lihat
    Satipatthana Sutta).
  • Konsentrasi Telah tersedia
    (samma samadhi), berpuncak pada serapan
    jhāna
    melewati peluasan meditatif
    samatha

Dan secara implisit dalam kejadian:

  • Pandangan Telah cawis
    (samma ditthi), takhlik kebijaksanaan yang secara tradisional dicapai menerobos ekspansi meditatif
    passana
    bangunan intern
    samatha.[4]

Wacana klasik dalam literatur Pali menyebutkan bahwa kursus meditasi mencakup Satipatthana Sutta (MN 10) dan Visuddhimagga Putaran ke II,” Sentralisasi” (Samadhi).

Empat Dasar Kesadaran

Dalam Satipatthana Sutta, Sang Buddha mengidentifikasi empat pangkal kesadaran: bodi, ingatan, situasi ingatan dan obyek mental. Lebih lanjut, dia mengistilahkan obyek-obyek berikut ini sbg pangkal sbg mengembangkan kesadaran spekulatif:

  • Tubuh (kāyā): Pernapasan (lihat
    Anapanasati Sutta), Postur, Pemahaman yang Jelas, Refleksi atas Perkelahian Tubuh, Refleksi Element-zarah Materiil, Kontemplasi Mortalitas
  • Perasaan (vedanā), apakah menyenangkan, tak menyenangkan, alias nonblok
  • Pikiran (cittā)
  • Isi Mental (dhamma): Hambatan, Kerubungan, Dasar Indera, Faktor-faktor Pencerahan, dan Empat Validitas Mulia.

Meditasi, puas daya bahasan ini, mengembangkan wawasan.[5]

Ketenangan dan Wawasan

Si Buddha dituturkan sudah mengenali dua kualitas mental yang penting yang muncul terbit praktik perenungan yang cegak:

  • “ketentraman” atau “ketenangan” (Pali:
    samatha) nan memantapkan, menyusun, menyatukan dan memusatkan perhatian;
  • “wawasan” (Pali:
    vipassana) yang memungkinkan seseorang sbg mengawasi, mengeksplorasi dan mengetahui “pembentukan” (fenomena yang terkondisi berdasarkan pada panca “kerumunan”).

Melewati pengembangan meditatif toleransi, seseorang dapat menekan hal yang menghalangi yang menghalangi; dan, dengan penekanan pada peristiwa yang membancang tersebut, melewati ekspansi reflekstif terhadap wawasan-lah seseorang memperoleh kebijaksanaan yang membebaskan.[6]
Selain itu, Sang Buddha dituturkan sudah memuji ketabahan dan wawasan sbg media sbg mencapai Nibbana (Pali, Sansekerta:
Nirwana), hal tak terkondisi sebagai halnya dalam “Kimsuka Tree Sutta”, di mana Si Buddha memberikan kiasan yang pelik di mana ketenangan dan wawasan merupakan “sepasang pengusung berita yang cepat” yang mengangkut berita semenjak Nibbana menerobos Kronologi Agung Berunsur Delapan.[7]

Dalam “Four Ways to Arahantship Sutta”, Ven. Ananda melaporkan bahwa sosok-orang menyentuh tingkat kesucian arahat memakai ketabahan dan wawasan melangkahi salah suatu dari tiga cara berikut:

  1. mereka mengembangkan ketahanan dan kemudian wawasan (Pali:
    samatha – pubbangamam vipassanam)
  2. mereka meluaskan wawasan dan kemudian ketegaran (Pali:
    vipassana – pubbangamam samatham). Padahal Nikaya mengenali bahwa mengejar vipassana dapat diterapkan sebelum berburu samatha, bermacam-macam praktik yang bertukar pandang vipassana tunak harus didasarkan pada pencapaian stabilisasi “konsentrasi akses” (Pali:
    formalitas samadhi).
  3. mereka melebarkan ketabahan dan wawasan secara tandem (Pali:
    samatha cara – vipassanam yuganaddham) begitu juga, misalnya, memperoleh jhana purwa, dan kemudian mengawasi tiga tanda kesanggupan dalam himpunan tersapu, sebelum melanjutkan ke jhana kedua.[8]

Internal kanon Pali, Sang Buddha tak pernah menyebutkan praktik meditasi samatha dan vipassana secara terpisah; sbg gantinya, samatha dan vipassana adalah dua
kualitas pikiran
sbg dikembangkan melewati khalwat. Walaupun demikian, beberapa praktik meditasi (seperti permenungan satu objek
kasina) mendukung jalan samatha, beberapa praktik semadi nan lainnya menunda perkembangan vipassana (seperti perenungan terhadap kelompok), sementara nan lainnya (seperti perhatian plong pernapasan) secara klasik dipakai sbg berekspansi kedua kualitas mental tersebut.[9]

Dari Kitab Komentar Pali

Empat puluh subjek khalwat Buddhaghosa dinyatakan internal Visuddhimagga. Nyaris seluruhnya dinyatakan dalam teks-teks awal.[10]
Buddhaghosa mengajurkan bahwa, sbg tujuan mengembangkan konsentrasi dan “pemahaman”, seseorang harus “menjalin satu di pelana empat puluh subjek khalwat yang sesuai dengan temperamennya sendiri” dengan saran dari koteng “teman baik” (kalyana mitta) yang kebal lapang dalam bermacam subyek meditasi nan bukan sama (Bab III, § 28).[11]
Buddhaghosa kemudian menguraikan adapun catur puluh subjek meditasi sbg berikut (Portal III, § 104;. Chs. IV – XI):[12]

  • sepuluh kasina: bumi, air, api, gegana, biru, kuning, berma, putih, cahaya, dan “urat kayu yang terbatas”.
  • sepuluh jenis kekotoran: kembung, memar, nanah, luka, gigitan, yang sederhana, yang teriris dan tercecer, pendarahan, penuh cacing, dan tengkorak.
  • sepuluh riwayat hidup: Buddha, Dhamma, Sangha, dedikasi, kemurahan lever, darmabakti dewa, kematian (lihat Upajjhatthana Sutta), tubuh, nafas (tatap anapanasati), dan kedamaian (lihat Nibbana).
  • empat kediaman brahma: metta, karuna, mudita, dan upekkha.
  • empat kejadian non-material: ruang lain minus, impresi tak rendah, ketiadaan, dan enggak skandal maupun non-persepsi.
  • satu kecaburan (atas “penolakan internal makanan”)
  • suatu “penentu” (merupakan, empat anasir)
Popular:   Jelaskan Manfaat Meditasi Telepon Penuh Kesadaran

Ketika seseorang membandingkan 40 subyek khalwat Buddhaghosa sbg pengembangan konsentrasi dengan dasar kognisi Buddha, tiga praktik yang sama dapat ditemukan: semadi berasimilasi, meditasi kekotoran (yang mirip dengan kontemplasi kematian Sattipatthana Sutta, dan sbg nyepi penolakan tubuh), dan kontemplasi dari catur anasir. Menurut kitab-kitab komentar Pali, meditasi napas dapat menyebabkan seseorang sebatas pada penyedotan jhāna keempat secara penuh. Kontemplasi dari kekotoran dapat berkiblat pada pencapaian jhana pertama, dan kontemplasi berpunca empat elemen memuncak pada konsentrasi akal masuk pra-jhana.[13]

Dalam Theravāda Kontemporer

Nan berpengaruh terutama dari 100 tahun kedua puluh dst-nya adalah pendekatan “New Burmese Method” atau “Vipassana School” terhadap
samatha
dan
vipassana
yang dikembangkan oleh Mingun Jetavana Sayadaw dan U Narada dan dipopulerkan makanya Mahasi Sayadaw. Di sini,
samatha
diasumsikan sbg suku cadang pilihan tetapi tak onderdil pokok dari praktik –
vipassana
mungkin terjadi minus
samatha. Mandu Burma lainnya, berasal dari Ledi Sayadaw melewati U Ba Khin dan SN Goenka, mengambil pendekatan nan sekelas. Tradisi Burma lainnya yang dipopulerkan di barat, terutama dari Pa Auk Sayadaw, menyambut riset plong
samatha
yang termuat privat tradisi kitab komentar dari
Visuddhimagga.

Yang juga berpengaruh adalah
Thai Forest Tradition
(Tradisi Hutan Thailand) yang bermula bermula Ajahn Mun dan dipopulerkan makanya Ajahn Chah, yang, sebaliknya, menonjolkan pada ketidakterpisahan berusul dua praktik tersebut, dan kebutuhan pokok dari kedua praktik tersebut. Praktisi bukan yang tersohor privat tradisi ini termasuk Ajahn Thate dan Ajahn Maha Bua, di pelana nan lainnya.[14]

Dalam Buddhisme Mahāyāna

Buddhisme Mahāyāna mencangam bermacam distribusi praktik, nan masing-masing menggunakan bermacam sūtra Buddha, risalah filosofis, dan kitab-kitab komentar. Oleh karenanya, setiap aliran n kepunyaan cara perenungan sendiri dengan maksud sbg melebarkan samadhi dan prajna, dengan tujuan kesudahannya sbg hingga ke pencerahan. Namun, masing-masing arus mempunyai penekanan, atur cara, dan pandangan filosofisnya sendiri. Dalam kancing klasiknya adapun meditasi dari bermacam leluri Buddhis Cina, Charles Luk menulis, “Dharma Buddha tak berarti bila tak dibawa turut ke internal praktik yang sebenarnya, karena bila kita tak mempunyai camar duka pribadi tersebut, akan menjadi asing untuk kita dan kita tak akan pernah pulang ingatan akan hal itu terlepas terbit pengajian pengkajian siasat kita.”[15]
Yang Agung Nan Huaijin menggemakan keki serupa tentang pentingnya nyepi dengan mencetuskan, “Penalaran cendekiawan hanyalah putaran tak dari kesadaran keenam, sementara itu praktik nyepi adalah pintu masuk yang sememangnya ke privat Dharma.”[16]

Meditasi kerumahtanggaan Arus Tanah Zakiah

Kognisi Buddha Amitabha

Internal leluri Tanah Murni agama Buddha, mengulangi stempel Buddha Amitabha adalah bangun-bangun dari Kesadaran atas Buddha (Skt.
buddhānusmṛti) secara tradisional. Istilah ini diartikan ke dalam bahasa Cina sbg
nianfo
(念佛), yang secara tenar dikenal internal bahasa Inggris. Praktik ini digambarkan sbg pemanggilan buddha ke kerumahtanggaan perhatian dengan mengulangi namanya, sbg memungkinkan praktisi memusatkan perhatiannya plong buddha (samadhi). Hal ini dapat diterapkan dengan bercakap ataupun secara mental, dan dengan atau tanpa memakai tasbih Buddha. Mereka nan mempraktikkan mandu ini sayang berkomitmen puas tautologi dalam serangkaian kadar tetap per hari, sering siapa dari 50.000 menjadi lebih dari 500.000.[17]
Menurut adat istiadat, patriark kedua dari arus Tanah Tahir, Shandao, dituturkan sudah mempraktikkannya siang dan lilin batik minus henti, sekejap-sekejap memancarkan kilap dari mulutnya. Makanya karenanya, dia dianugerahi gelar “Suhu Agung Kirana” (大师 光明) oleh kaisar Dinasti Kakaktua Gao Zong (高宗).[18]

Selain itu, dalam Buddhisme Cina telah tersedia praktik terkait nan dinamakan “jalur ganda Chan dan budidaya Persil Murni”, yang kembali dinamakan “jalur ganda kekosongan dan kehadiran”. Seperti nan diajarkan oleh Yang Agung Nan Huaijin, tera Buddha Amitabha dibaca perlahan-lahan, dan pikiran dikosongkan setelah saban pengulangan. Ketika lamunan unjuk, kalimat ini diulang kembali sbg membuat meski bersihnya. Dengan kursus kontinu, pikiran dapat sbg teguh tenang dalam kemusykilan, yang berpuncak puas pencapaian samādhi.[19]

Dharani Kelahiran Kembali Tanah Murni

Mengulangi Dharani Kelahiran Kembali Tanah Kudrati yakni cara lain internal Buddhisme Lahan Murni. Serupa dengan praktik kesadaran dengan mengulang nama Buddha Amitabha, dharani ini adalah cara lain dari meditasi dan pembacaan dalam Buddhisme Lahan Asli. Pengulangan dharani ini dituturkan habis populer di kalangan umat Buddha tradisional Cina. Peristiwa ini secara tradisional dicatat dalam bahasa Sansekerta, dan dituturkan bahwa ketika pemuja sukses membuat kemanunggalan perasaan dengan mengulangi suatu mantra, makna sepatutnya ada dan mendalam berusul ilmu tersebut akan terungkap dengan jelas.[20]

Pendirian visualisasi

Praktik bukan yang ditemukan kerumahtanggaan Buddhisme Persil Kalis yakni kontemplasi meditasi dan visualisasi Buddha Amitabha, penerusnya Bodhisattva, dan Tanah Murni. Dasar hal tersebut ditemukan internal
Amitāyurdhyāna Sūtra
(“Amitabha Meditation Sūtra”), di mana Buddha menjelaskan untuk Aji Vaidehi, praktik tiga belas cara pembayangan progresif, sesuai dengan pencapaian bermacam tingkat kelahiran kembali privat Tanah Zakiah.[21]
Praktik Visualisasi Amitabha adalah praktik nan tersohor di kalangan sekte Buddha esoterik, seperti Buddhisme Shingon Jepang.

Meditasi internal persebaran Zen

Merujuk Pada Sifat Pikiran

Pada tradisi tadinya Buddhisme Chan/Zen, dituturkan bahwa tak terdapat cara meditasi resmi. Sebaliknya, guru akan mengaryakan bermacam kaidah ilmu pendidikan sbg mengacu puas adat ikhlas pikiran, sekali lagi dikenal sbg
sifat-Buddha.
Cara ini dinamakan sbg “Manah Dharma”, dan dicontohkan internal kisah Buddha Sakyamuni nan mengangkat rente secara nyuruk, dan Mahakasyapa tersenyum karena engkau faham.[22]
Formula tradisional bermula situasi tersebut adalah, “Chan secara serempak menunjuk manah turunan, sbg memungkinkan sosok sbg meluluk sifat zakiah mereka dan menjadi buddha.”[23]
Pada era tadinya arus Chan, tak telah tersuguh prinsip maupun formula tentu sbg mengajarkan meditasi, dan seluruh instruksinya yaitu prinsip heuristik saja; oleh akhirnya, arus Chan dinamakan “Gerbang Sonder Gerbang.”[24]

Mempertimbangkan Kasus Meditasi

Dituturkan secara tradisional bahwa ketika ingatan orang-orang kerumahtanggaan warga menjadi lebih rumit dan detik mereka tak dapat membikin kemenangan dengan begitu mudah, para pakar peredaran Chan dipaksa sbg meniadakan cara mereka. Hal ini melibatkan kata-kata dan frase, teriakan, auman, tawa, desahah, gerakan tubuh, maupun pukulan tongkat tertentu. Ini seluruh dimaksudkan sbg menyadarkan siswa plong kebenaran esensial berbunga perasaan, dan yang kemudian dinamakan
Mungmungan’an
(公案), atau
koan
dalam bahasa Jepang.[25]
Frase dan cara didaktik ini harus direnungkan, dan contoh dari perangkat tersebut ialah kata majemuk yang meningkatkan praktik kesadaran: “Siapa nan menjadi sadar akan Si Buddha?”[26]
Seluruh guru menginstruksikan siswanya sbg menimbulkan perasaan keraguan nan lembut setiap masa momen berlatih, sbg melucuti pikiran mulai sejak menyibuk, mendengar, merasakan, dan mengetahui, dan sbg memastikan peng-istirahat-an pikiran yang terus menerus dan kondisi ingatan yang tak terganggu.[27]
Charles Luk menjelaskan kebaikan penting dari perenungan seperti mana intern kasus nyepi sebagai halnya ini dengan keraguan:

Karena murid tak bisa menghentikan seluruh pikirannya dalam sekali rekata, dia diajarkan sbg memakai perangkat racun-mengimbangi-racun ini sbg mewujudkan kemanunggalan pikiran, yang secara fundamental adalah peristiwa yang pelecok, tapi akan hilang momen lain lagi dipakai, dan mengasihkan jalan sbg kemanunggalan pikiran, yang adalah prasyarat terwujudnya perhatian-diri sbg cerapan sifat-diri dan pencapaian Bodhi.[28]
Popular:   Hukum Meditasi Melihat Masa Lalu Dalam Islam

Meditasi kerumahtanggaan aliran Tiantai

Samatha – vipassanā Tiantai

Di Cina, sudah secara tradisional dipercaya bahwa cara meditasi yang dipakai maka dari itu arus Tiantai adalah yang paling sistematis dan komprehensif dari seluruhnya. Selain dasar doktrinal n domestik teks-teks Buddhis India, aliran Tiantai juga menekankan penggunaan teks meditasinya sendiri yang menekankan cara-prinsip samatha dan vipassanā. Semenjak bacaan-wacana ini,
Concise Śamatha-vipaśyanā (小止観),
Mahā – samatha – vipaśyanā
(摩诃 止 観), dan
Six Subtle Dharma Gates
(六 妙法 门) bermula Ziyi merupakan yang minimal banyak dibaca di Cina. Rujun Wu (1993: p 1) mengidentifikasi karya
Mahā – samatha – vipaśyanā
dari Zhiyi sbg cikal bakal referensi tafakur dalam arus Tiantai. Tentang fungsi berasal samatha dan vipaśyanā dalam meditasi, Zhiyi menulis dalam karyanya
Concise Śamatha-vipaśyanā:[29]

Pencapaian Nirwana boleh diwujudkan dengan banyak cara nan sifat dasarnya tak melangkahi praktik samatha dan vipassanā. Samatha yaitu persiapan permulaan sbg membedakan seluruh ikatan dan vipassanā adv amat penting sbg memberantas khayalan. Samatha menyempatkan pupuk sbg pemeliharaan perhatian mencerna, dan vipassanā adalah seni nan terampil privat melejitkan kognisi spiritual. Samatha adalah penyebab samādhi yang tak tertandingi, sementara vipassanā menghasilkan kebijaksanaan.

Arus Tiantai juga meletakkan penekanan agung sreg ānāpānasmṛti (anapanasati), alias kesadarann atas asimilasi, sesuai dengan prinsip-prinsip samatha dan vipassanā. Zhiyi mengklasifikasikan fotosintesis menjadi empat kategori utama: terengah-engah (喘), asimilasi tak sewenangwenang-acak (风), bernapas banyak-banyak dan ranah (气), dan keheningan alias istirahat (息). Zhiyi mencetuskan bahwa tiga macam pernapasan pertama adalah jenis pernapasan yang tak telah tersuguh, sedangkan nan keempat merupakan yang mutakadim tersuguh, dan bahwa asimilasi harus mengaras keheningan dan istirahat.[30]

Praktik Esoterik di Jepang

Salah satu adaptasi oleh distribusi Tendai Jepang (Bab Tiantai) adalah pengenalan praktik esoteris (Mikkyo) ke privat Buddhisme Tendai, yang kemudian dinamakan
Taimitsu
oleh Ennin. Risikonya, menurut doktrin Taimitsu Tendai, seremoni esoterik dipertimbangkan sekelas pentingnya dengan nasihat eksoteris dari Sutra Saddharma Pundarika. Oleh karenanya, dengan mengucapkan aji-aji, mempertahankan mudra, atau melaksanakan meditasi tertentu, seseorang dapat mengawasi bahwa pengalaman ikhtiar merupakan nasihat Buddha, n kepunyaan iman bahwa seseorang secara inheren adalah makhluk tercerahkan, dan seseorang bisa sampai ke pencerahan kerumahtanggaan tubuh ini. Radiks-usul Taimitsu ditemukan di Cina, mirip dengan zuriat yang Kukai temui dalam lawatannya ke China lega Dinasti Tang, dan pelajar-pesuluh Saicho yang didorong sbg berusaha bisa di pangkal pengajaran Kukai.[31]

Meditasi dalam Buddhisme Vajrayana

Tujuan dari ujar-ujar Mahamudra dan Dzogchen, masing-masing diajarkan oleh Kagyu dan Nyingma garis keturunan Indo-Tibet atau Buddhisme Vajrayana, masing-masing, yakni sbg membiasakan seseorang dengan sifat pikiran utama yang mendasari seluruh eksistensi, Dharmakaya. Kemudian, dengan bermeditasi dalam persatuan dengan Dharmakaya, seseorang secara berantara menerobos per Sepuluh Bhumi sampai mencapai pembebasan dari Samsara dan karma.

Waktu awal praktik bersama dari sirkuit Nyingma dan Kagyu kerumahtanggaan Buddhisme Tibet dinamakan Ngondro, nan melibatkan pelukisan, pembacaan mantra dan praktik sadhana, dan banyak sujud.

Adopsi makanya non-Buddhis

Telah sejak lama manusia sudah berlatih perenungan, berdasarkan kaidah-prinsip meditasi Buddhis, sbg efek arti sementara dan duniawi. Teknik meditasi Buddhis makin sering dipakai makanya psikolog dan psikiater sbg menolong meringankan bermacam kondisi kesehatan begitu juga kepanikan dan depresi.[32]
Dengan demikian, kesadaran dan teknik nyepi Buddhis lainnya dianjurkan di Barat oleh psikolog inovatif dan guru ahli meditasi Buddhis sebagai halnya Clive Sherlock, Bunda Sayamagyi, SN Goenka, Jon Kabat-Zinn, Jack Kornfield, Joseph Goldstein, Antiwirawan Brach, Alan Clements, dan Sharon Salzberg, nan sudah banyak dikaitkan dalam memainkan peran penting dalam mengintegrasikan bidang penyembuhan berbunga praktik meditasi Buddhis dengan konsep kesadaran dan penyembuhan psikologis.

Makna hal meditatif intern teks-bacaan Buddhis, dalam beberapa hal, maaf dari teologi, sehingga skema Buddha sudah diadopsi oleh psikolog Barat yang mencoba sbg menggambarkan fenomena perenungan secara umum. Namun, sangatlah umum sbg mendapati Buddha memvisualkan kondisi meditatif yang melibatkan pencapaian kekuatan magis (iddhi) sbg kemampuan sbg mengembang-biakkan tubuh seseorang menjadi banyak dan menjadi satu pun, muncul dan menghilang sesedap hati, melangkaui benda padat seolah-olah ruangan, wujud dan tenggelam dalam tanah seolah-olah privat air, berlangsung di atas air seolah-olah persil, terbang melewati langit, menyentuh apa pun pada jarak apapun (justru bulan alias matahari), dan pertualangan ke alam tak (seperti alam Brahma) dengan maupun sonder tubuh, sela bukan,[33]
[34]
[35]
dan sbg argumen ini seluruh tradisi Buddhis mungkin tak diadaptasi dalam konteks sekuler, kecuali kekuatan magis ini dipandang sbg representasi metafora semenjak hal privat yang kuat bahwa deskripsi konseptual pun tak dapat menjelaskannya.

Lihat juga

  • Samatha
  • Vipassanā
  • Anapanasati

Referensi

  1. ^
    Kamalashila (1996, 2003).
    Meditation: The Buddhist Art of Tranquility and Insight.
    Birmingham: Windhorse Publications. ISBN 1-899579-05-2. hal. 4 menyundut bahwa khalwat buddhis “includes any method of meditation that has Enlightenment as itsultimate aim.” Sama halnya, Bodhi (1999) menulis: “To arrive at the experiential realization of the truths it is necessary to take up the practice of meditation…… At the climax of such contemplation the mental eye … .. shifts its focus to the unconditioned state, Nibbana….”
  2. ^
    Rhys Davids & Stede (1921-25), entri sbg “jhāna”; Thanissaro (1997)
  3. ^
    Goldstein (2003) batik, terkait dengan Satipatthana Sutta, “there are more than fifty different practices outlined in this Sutta. The meditations that derive from these foundations of mindfulness are calledvipassana…, and in one form or another — and by whatever name — are found in all the major Buddhist traditions” (hal. 92).
  4. ^
    Bodhi (1999).
    Way To End.
  5. ^
    Solé-Leris (1986), hal. 75; and, Goldstein (2003), hal. 92.
  6. ^
    AN 2.30 dalam Bodhi (2005), situasi. 267-68, dan Thanissaro (1998e)
  7. ^
    Bodhi (2000), kejadian. 1251-53. Tatap sekali lagi Thanissaro (1998c) (di mana suttaini diidentifikasi sbg SN 35.204). Lihat sekali lagi “Serenity and Insight” (SN 43.2), di mana Buddha menyebutkan: “And what, bhikkhus, is the path leading to the unconditioned? Serenity and insight….” (Bodhi, 2000, hal. 1372-73)
  8. ^
    Bodhi (2005), hal. 268, 439nn. 7, 9, 10. Lihat pula Thanissaro (1998f)
  9. ^
    Bodhi (1999) dan Nyanaponika (1996), hal. 108.
  10. ^
    Sarah Shaw,Buddhist meditation: an anthology of texts from the Pāli canon.Routledge, 2006, pelataran 6-8.
  11. ^
    Buddhaghosa & Nanamoli (1999), hal. 85, 90.
  12. ^
    Buddhaghosa & Nanamoli (1999), hal. 110.
  13. ^
    Gunaratana (1988).
  14. ^
    Tiyavanich K.
    Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand.
    University of Hawaii Press, 1997.
  15. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. peristiwa. 11
  16. ^
    Nan, Huai-Chin.To Realize Enlightenment: Practice of the Cultivation Path. 1994. hal. 1
  17. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. situasi. 83
  18. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 84
  19. ^
    Yuan, Margaret.Grass Mountain: A Seven Day Intensive in Ch’an Training with Master Nan Huai-Chin. 1986. kejadian. 55
  20. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. peristiwa. 84
  21. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 85
  22. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 44
  23. ^
    Nan, Huai-Chin.Basic Buddhism: Exploring Buddhism and Zen. 1997. hal. 92
  24. ^
    Yuan, Margaret.Grass Mountain: A Seven Day Intensive in Ch’an Training with Suhu Nan Huai-Chin. 1986. hal. 2
  25. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 45
  26. ^
    Hsuan Hua.The Chan Handbook. 2004. hal. 47
  27. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. situasi. 49
  28. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. keadaan. 48
  29. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 110-111
  30. ^
    Luk, Charles.The Secrets of Chinese Meditation. 1964. hal. 125
  31. ^
    Abe, Ryuichi (1999).The Weaving of Mantra: Kukai and the Construction of Esoteric Buddhist Discourse. Columbia University Press. hal. 45.
  32. ^
    Cornfield, J. (2003).
    Publishers Weekly review of Radical acceptance: embracing your life with the heart of a Buddha.
  33. ^
    Iddhipada-vibhanga Sutta
  34. ^
    Samaññaphala Sutta
  35. ^
    Kevatta Sutta
Popular:   Dzikrullah Sebuah Methode Dalam Meditasi Islam

Daftar pustaka

  • Bodhi, Bhikkhu (1999).
    The Noble Eightfold Path: The Way to the End of Suffering. Tersedia secara online di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/bodhi/waytoend.html.
  • Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000).
    The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
  • Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2005).
    In the Buddha’s Words: An Anthology of Discourses from the Pāli Canon. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-491-1.
  • Brach, Tara (ed.) (2003)
    Radical Acceptance: Embracing Your Life With the Heart of a Buddha. New York, Bantam Publications. ISBN 0-553-38099-0
  • Brahm, Ajahn (2006).
    Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator’s Handbook. Somerville, MA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-275-7.
  • Buddhaghosa, Bhadantacariya & Bhikkhu Nanamoli (trans.) (1999),
    The Path of Purification: Visuddhimagga. Seattle: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-00-2.
  • Epstein, Mark (1995).
    Thoughts Without a Thinker: Psychotherapy from a Buddhist Perspective. BasicBooks. ISBN 0-465-03931-6 (cloth). ISBN 0-465-08585-7 (paper).
  • Fischer-Schreiber, Ingrid, Franz-Karl Ehrhard, Michael S. Diener & Michael H. Kohn (trans.) (1991).
    The Shambhala Dictionary of Buddhism and Zen. Boston: Shambhala.ISBN 0-87773-520-4 (French ed.: Monique Thiollet (trans.) (1989).
    Dictionnaire de la Sagesse Orientale. Paris: Robert Laffont. ISBN 2-221-05611-6.)
  • Gethin, Rupert (1998).
    The Foundations of Buddhism. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-289223-1.
  • Goldstein, Joseph (2003).
    One Dharma: The Emerging Western Buddhism. NY: HarperCollins Publishers. ISBN 0-06-251701-5.
  • Hart, William (1987).
    The Art of Living: Vipassana Meditation: As Taught by S.Ufuk. Goenka. HarperOne. ISBN 0-06-063724-2
  • Gunaratana, Henepola (1988).
    The Jhanas in Theravada Buddhist Meditation
    (Wheel No. 351/353). Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0035-X. Diakses pada 2008-07-21 from “Access to Insight” at http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/gunaratana/wheel351.html.
  • Kabat-Zinn, Jon (2001).
    Full Catastrophe Living. NY: Dell Publishing. ISBN 0-385-30312-2.
  • Kamalashila (1996, 2003).
    Meditation: The Buddhist Art of Tranquility and Insight. Birmingham: Windhorse Publications. ISBN 1-899579-05-2. Tersedia secara online di http://kamalashila.co.uk/Meditation_Web/index.htm.
  • Kapleau, Phillip (1989).
    The Three Pillars of Zen: Teaching, Practice and Enlightenment. NY: Anchor Books. ISBN 0-385-26093-8.
  • Linehan, Marsha (1993).
    Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. NY: Guilford Press. ISBN 0-89862-183-6.
  • Mipham, Sakyong (2003).
    Turning the Mind into an Ally. NY: Riverhead Books. ISBN 1-57322-206-2.
  • Nyanaponika Thera (1996).
    The Heart of Buddhist Meditation. York Beach, ME: Samuel Weiser, Inc. ISBN 0-87728-073-8.
  • Olendzki, Andrew (trans.) (2005).
    Sedaka Sutta: The Bamboo Acrobat
    (SN 47.19). Available at http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn47/sn47.019.olen.html.
  • Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921-5).
    The Pali Text Society’s Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. A general on-line search engine for the PED is available at http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
  • Sogyal Rinpoche,
    The Tibetan Book of Living and Dying, ISBN 0-06-250834-2
  • Solé-Leris, Amadeo (1986).
    Tranquillity & Insight: An Introduction to the Oldest Form of Buddhist Meditation. Boston: Shambhala. ISBN 0-87773-385-6.
  • Thanissaro Bhikkhu (1997).
    One Tool Among Many: The Place of Vipassana in Buddhist Practice. Terhidang secara online di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/thanissaro/onetool.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998a).
    Culavedalla Sutta: The Shorter Set of Questions-and-Answers
    (MN 44). Diakses sreg 2007-06-22 from “Access to Insight” di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.044.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998b).
    Sikkha Sutta: Trainings (1)
    (AN 3:38). Diakses pada 2007-06-22 from “Access to Insight” di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.088.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998c).
    Kimsuka Sutta: The Riddle Tree
    (SN 35.204). Terhidang secara online di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn35/sn35.204.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998d).
    Samadhi Sutta: Concentration (Tranquillity and Insight)
    (AN 4.94). Tersaji secara online di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.094.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998e).
    Vijja-bhagiya Sutta: A Share in Clear Knowing
    (AN 2.30). Tersedia secara online di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an02/an02.030.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998f).
    Yuganaddha Sutta: In Tandem
    (AN 4.170). Tersedia secara online di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.170.than.html.
  • Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2006).
    Maha-Rahulovada Sutta: The Greater Exhortation to Rahula
    (MN 62). Diakses pada 2007-11-07 from “Access to Insight” di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.062.than.html.
  • Vipassana Research Institute (VRI) (kaki langit.d.).
    Bhikkhuvaggo
    (second chapter of the second tagihan of the Majjhima Nikaya). Diakses pada 2007-11-07 di http://www.tipitaka.org/romn/cscd/s0202m.mul1.xml.

   Garis Agung – BuddhismeFlag of Buddhism.svg

Garis rasi·

Portal·


Kategori·


Glossarium·


Indeks

Dasar

Tiga Mustika (Buddha  • Dhamma  • Sangha)  • Empat Kebenaran Agung  • Okta- Jalan Penting  • Nirwana  • Perkembangan Tengah

Petuah Inti

Tiga Corak Publik (Ketidak-kekalan  • Penderitaan  • Tanpa inti)  • Samsara  • Kelahiran Kembali  • Sunyata  • Paticcasamuppada  • Kamma  • Sepuluh Belenggu

Inisiator Penting

Buddha Gautama  • Petatar Utama (Sariputta  • Mahamoggallana)  • Keluarga

Tingkat Pencerahan

Buddha  • Bodhisatwa  • Empat tingkat pencerahan (Sotapanna  • Sakadagami  • Anagami  • Arahat)  • Semadi

Provinsi

Asia Tenggara  • Asia Timur  • Tibet  • India dan Asia Tengah  • Indonesia  • Barat

Sekte

Theravada  • Mahayana (Zen)  • Vajrayana  • Bön  • Sekte Awal (Buddhisme)

Untai

Tipiṭaka (Vinaya Pitaka  • Sutta Pitaka  • Abhidhamma Pitaka)

Memori

Garis kala  • Sidang agung  • Seni rupa Buddha

Daftar

Buddha  • Duapuluh delapan Buddha  • Bodhisattva  • Sutta  • Kuil


edunitas.com