Apa Itu Meditasi Dalam Agama Islam

Perenungan adalah sistem oleh tubuh mental untuk mengembangkan sentralisasi dan kebijaksaan. Bagaimana pandangan Islam terhadap meditasi tersebut?

Sebagian muslim menanggap meditasi sebagai sesuatu yang palsu dilakukan makanya umat Islam dengan alasan bahwa meditasi adalah tanzil agama lain, yaitu ajaran Hindu dan Budha. Dan menurut mereka, suatu praktik, ritual, maupun ibadah agama bukan tidak boleh diterapkan di dalam Islam. Berdasarkan hadits berikut :

Cuplik

Terbit Abu Waqid al Laitsi, beliau berkata:

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ke Hunain dan kami baru saja keluar dari kekafiran. Kaum musyrikin memiliki pohon nan mereka tinggal di sekitarnya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pokok kayu itu, dinamai Dzaatu Anwaath. Maka kami melewati tumbuhan itu, sangat kami katakan, `Wahai Rasulullah, buatkanlah cak bagi kami Dzaatu Anwaath sebagaimana Dzaatu Anwaath memiliki mereka.`

Dulu bertutur Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : “Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, bukan main kalian sudah lalu bersabda sebagaimana Bani Israil sudah berkata kepada Musa : “… buatlah lakukan kami sebuah tuhan (berhala) sebagai halnya mereka mempunyai beberapa tuhan (fetis).”

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang enggak mengetahui.”

Faktor yang proporsional yang mereka perhatikan antara kaum musa dengan meditasi adalah “niat bikin melakukan adat istiadat selain selam”. Dalam hadits tersebut terdapat Dzaatu Anwaats dan Ibadat. Kedua situasi tersebut disamakan dengan semadi. Tapi mengapa rasulullah tidak mengabulkan petisi kerjakan membuat Dzaatu Anwaats, dan mengapa kehendak umat utusan tuhan musa bakal dibuatkan fetis termasuk kelakuan ternoda? Apakah karena faktor hal itu merupakan tradisi agama lain ataukah karena kejadian itu mengandung unsur kemusyrikan? Sesungguhnya hal tersebut disebabkan terkandung unsur kemusyrikan di dalamnya. Dalam bahasa bukan, kemusyrikan ini berjasa kebegoan spiritual.

Kerjakan apa kaum nabi musa mempersunting dibuatkan pujaan? Jikalau untuk disembah, maka tentu itu perbuatan bodoh. Sebab bukan patut benda mati seperti berhala disembah, ia tak dapat memberi kemanfaatn apapun. Unsur kebegoan inilah nan tercacat, dan lain karena hal itu yakni “ritual agama bukan”.

Popular:   Bagaimana Cara Menghitung Pada Latihan Meditasi Pernapasan

Untuk apa sebagian mualaf meminta dibuatkan pohon Dzaatu Anwats? Jika keadaan tersebut berhubungan dengan kepercayaan mistis nan bebal, maka kebodohan itulah nan tercacat, dan bukan karena menyangkutkan senjata di pohon tersebut merupakan ritual agama tidak.

Berbeda halnya dengan meditasi, bukan terkandung di dalamnya atom kegoblokan spiritual. Jika meditasi yaitu suatu cara mengembangkan konsentrasi, maka semadi merupakan adegan dari agama Islam. Kenapa, karena konsentrasi yakni situasi nan vital dalam agama Islam. Tanpa daya sentralisasi yang baik, maka seseorang itu dianggap tak beragama dengan benar. Sebagaimana firman Allah :

Pungut

Maka kecelakaanlah bagi turunan-bani adam yang shalat,()(yakni) orang-orang yang sahun berusul shalatnya,() (Q.S 107:4-5)

Sahun disitu merupakan oponen kata dari khusyu. Inilah pengertian yang saya fahami berasal kalimat tersebut. Jadi, kita tahu bahwa konsentrasi merupakan kejadian yang begitu utama di intern shalat. Sedangkan shalat yakni tiang agama. Jikalau tiangnya repas, tentu agamanya pula rapuh.

Karena pentingnya konsentrasi, maka mukmin harus belajar buat mengembangkan pemfokusan dengan berbagai ragam cara yang baik.  Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seorang muslim ialah dengan mandu berlatih semadi. Karuan sebagian turunan tidak suka dengan cara tersebut karena menganggap itu ibadah agama manusia enggak dan dengan melakukan hal tersebut seolah-olah Islam yakni agama yang enggak sempurna. Apakah n domestik alquran alias Hadits dijelaskan cara-cara yang sistematis bikin meluaskan konsentrasi sehingga enggak perlu lagi mempelajari suatu teknik dari kitab agama lain? Takdirnya memang ada, maka bagaimanakah caranya? Siapa jamhur nan bisa menjelaskan kaidah sistematis berekspansi konsentrasi menurut alQuran dan Hadits?

Selain itu terbiasa pula diperhatikan ayat berikut :

Kutip

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, beliau tidak dipandang beragama sedikit pun hingga beliau menegakkan wangsit-wahi Taurat, Injil dan Al Qur`an nan diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) bersumber Tuhanmu akan membusut kedurhakaan dan kekafiran kepada rata-rata dari mereka; maka janganlah ia menghisap darah terhadap orang-basyar yang kufur itu. (Q.S 5:68)

Popular:   Waktu Yang Baik Untuk Melakukan Meditasi

Bukankah dalam ayat tersebut sangat jelas, bahwa Islam tidak hanya menganjurkan makhluk untuk mengamalkan quran saja, melainkan juga taurat dan injil? Tidak terserah pantangan mendaras ajaran Taurat dan  berbuat ajarannya, justru dipetuakan. Enggak cak semau larangan mendaras kitab injil dan mengamalkannya, lebih-lebih dianjurkan. Demikian pun di dalam alQuran dan di dalam Hadits, enggak ada larangan buat membaca kitab Veda dan Tipitaka, dan tidak terletak larangan untuk mengamalkan ajarannya.

Dari mana saya memiliki penafsiran sama dengan itu. Itulah hal nan dapat saya fahami bermula ayat tersebut, secara semantic. Sekiranya penafsiran tersebut keliru, maka silahkan para ahli tafsir mengklarifikasi bagaimana tafsirannya yang benar, minus perlu menuduh saya telah “mendongeng” atau “mendustakan ayat alquran” sebagai menafsirkan ayat alQuran secara semantik adalah benar.

Tetapi sebagian muslim berpendapat bahwa semua simbol-simbol agama orang tak tidak dapat diterapkan ataupun digunakan internal Islam. Seperti nan dikisahkan oleh hadits berikut :

Cukil dari: mushab kacang umair

Diriwayatkan maka itu Ahmad, At-Tirmidzi dan At-Thabrani bahwa Adi bin Hatim yang bau kencur masuk Selam dan masih mengaryakan kalung salib menclok kepada Rasulullah saw dan Rasulullah saw. mensyariatkan bikin melepaskannya (kalung salib tersebut).

Note :

Hadits di atas menunjukkan tidak diperbolehkannya simbol2 agama dan kepercayaan enggak untuk dipakai oleh mukminat.

Hadits tersebut tidak berarti “semua huruf angka agama tak” tidak boleh digunakan. Seseorang nan mengikhtisarkan “semua simbol agama lain enggak boleh digunakan” telah menyimpulkan secara salah. Dalam hadits tersebut nan dilarang adalah mengalungkan kalung salib. Dan itu tidak berarti “semua simbol agama bukan”. Betapa mengajaibkan bila dari hadits tersebut disimpulkan menjadi “semua simbol agama enggak”. Bagaimana proses penyimpulannya? Bagaimana kerangka berpikirnya? Bagaimana sifat penyimpulan yang mereka gunakan.

Popular:   Dzikrullah Sebuah Methode Dalam Meditasi Islam

Cukil

Jika begitu, narkoba tidak dilarang. Karena yang dilarang adalah khamar?

Persoalan tersebut bukan problem dengan persoalan “simbol agama” dan “perenungan”. Faktor yang dianggap sekelas adalah “sesuatu yang enggak dilarang secara sekalian maka itu rasulullah, karena rasulullah enggak menggunakan istilah tersebut”. N domestik kasus kalung salib, lain ada asal lakukan menyimpulkan menjadi “semua simbol agama lain”. Sedangkan intern kasus narkoba, ada radiks untuk menyimpulkan “semua yang memabukan yakni haram”. Kasus-kasus ini terlazim difahami baik persamaan dan perbedaan secara tepat, ekonomis dan jernih.

Narkoba memang tak dilarang. Tapi jika narkoba termasuk kepada khamar, maka itu dilarang sebagaimana nan mutakadim diketahui makanya muslimin tentang adanya hadits yang melarang meminum khamar.

Jika narkoba tidak tercatat khamar, tapi memabukan, maka tetap haram, karena membentuk seseorang lalai dalam shalat. [/quote] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,()(yaitu) sosok-orang yang lalai dari shalatnya,() (Q.S 107:4-5)[/quote]

Seandainya ada perbuatan nabi nabi muhammad yang menyatakan bahwa “semua yang membaukan itu haram”, maka karuan ini pun menjadi pangkal yang tepat untuk menyimpulkan narkoba itu bawah tangan. Tetapi dalam persoalan kalung salib lain dapat dan bukan bisa disimpulan menjadi “semua simbol agama lain”. Mereka yang tetap memendekkan sebagai halnya ini sonder radiks-asal pemikiran yang jelas itu namanya “malah berpikir” alias “berat siku menyelidiki”, terikat dengan keyakinan yang keseleo.

Dengan demikian, semua dalil-dalil yang mengharamkan meditasi telah terbantah. Barangkali yang tetap mengharamkannya, maka anda berdusta atas nama agama, Allah dan Rasulnya, kecuali bila mereka memiliki dalil-dalil bermartabat sekali lagi, kecuali bila memiliki dalil yang benar

selama belum ada dalil yang kuat untuk “mengharamkannya”, maka lakukan para penggiat yang menekuni meditasi tidaklah perlu ragu dan sungkan, karena hal tersebut “jamak” secara agama nan kita yakini, ialah Selam.


Sumber: https://islamicmeditation.wordpress.com/2012/08/22/meditasi-dalam-pandangan-islam/